Pejuang Ijab Qobul Terus Komit Pertahankan NKRI

share on:
Romo Tirun saat menyampaikan materi dengan tema NKRI Masih Ada pada Harlah ke-12 PIQ || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (YOGAKARTA) - Paguyuban Pejuang Ijab Qobul  (PIQ) terus berkomitmen mengawal keberadaan Undang-undang Keistimewaan (UUK) DIY demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). PIQ berdiri di Yogyakarta pada 5 Oktober 2010

Pada tahun 2022 paguyuban  telah memasuki usia yang ke-12. Harlah PIQ kali ini diperingati dengan mengusung tema ‘NKRI Masih Ada’,  diisi agenda silaturahmi dan sarasehan yang dilaksanakan di gedung pertemuan PDHI Yogyakarta, Rabu (5/10/2022). Sarasehan disampaikan materi oleh narasumber yang merupakan tokoh masyarakat yaitu KRT Jatiningrat.

“Elemen PIQ merupakan paguyuban relawan pendukung Keistimewaan DIY yang sifatnya independen, keberadaan PIQ berdasar konsep ‘Bergabung Tapi Tak Melebur’-nya Yogyakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Ketua PIQ, Wiwin Winarko disela kegiatan.

Didampingi Sekretaris PIQ  Budiyanto, Wiwin menandaskan bahwa pihaknya telah memasuki ranah kebangsaan, kehadirannya bukan bukan merupakan ormas ataupun organisasi politik. Pejuang Ijab Qobul terbentuk di Jeron Beteng pada 5 Oktober 2010 dari kepedulian bersama untuk membangun ruh kebangsaan Indonesia.

“Hal tersebut, sebagaimana yang tertuang dalam UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

Dirinya berharap agar semangat kebangsaan ini tidak pernah luntur, dia mengajak untuk selalu menjaga persatuan demi eksistensi NKRI dan demi menghargai perjuangan pahlawan bangsa. Karena kebersamaan adalah modal awal berdiri bersama. Maka tiada kepentingan lain selain perjuangan moral dan persaudaraan kebangsaan.

“Kami menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran KRT Jatiningrat yang memberi pencerahan terkait tema acara, yaitu NKRI Masih Ada. Setelah pandemi terkendali, dengan tetap menjaga protokol kesehatan kami berharap agar pandemi segera berlalu,  agar kita dapat mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang produktif demi masa depan generasi penerus kita,” harap dia.

KRT Jatiningrat dalam pemaparan materi menyampaikan bahwa Yogyakarta adalah simbol NKRI yang sebenarnya. Simbol persatuan kesatuan bangsa yang namanya Golong Gilig, adalah simbol Ngayogyakarto Hadiningrat. 

“Maka yang saya pegang ini merupakan simbolisasi yang mestinya perlu disyukuri perlu ditegakan juga,” tutur sosok yang akrab disapa Romo Tirun  sembari memperlihatkan miniatur Tugu Golong Giling yang telah dipersiapkan.

 

Ketua PIQ Wiwin Winarko memberikan keterangan kepada wartawan disela kegiatan || YP-Eko Purwono

Keberadaan Tugu Yogyakarta yang saat ini berbentuk runcing, juga mendapatkan sorotan, sebab kata dia, menurut filosofi  Tugu Golong Gilig yakni tiang dan puncaknya berbentuk silinder itu melambangkan persatuan dan kesatuan.

“Karena tugu ini sekaligus doa. Tadi saya katakan Bung Karno mengatakan persatuan kesatuan. Ngayogyakarta bilang Golong Gilig. Persatuan bangsa tidak ada kecualinya. Semua menjadi satu (bulat) tidak ada sudut. Tapi dibuat penjajah menjadi seperti itu dan sudah 50 tahun, mengapa tidak dikembalikan ke bentuk semula. Malah dibentuk runcing seperti itu bagaimana,” sesalnya. (Opo)

 


share on: