Yogyapos.com (YOGYA) - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi problematika yang pelik. Dari data di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA), per November 2019 terdapat sekitar 1.500 laporan kekerasan yang menimpa perempuan dan anak.
Merespon hal tersebut, sejumlah wanita penggiat sosial yang fokus terhadap pemberdayaan perempuan di wilayah Yogyakarta yang tergabung dalam wadah komunitas Puspa, berupaya menempatkan diri sebagai fasilitator ataupun pendamping bagi korban kekerasan.
Sekitar 25 anggota Puspa kota Yogya yang mayoritas perempuan, Selasa (3/12) mengukuhkan struktur kepengurusan di Balai Kota Pemkot Yogya dan dilantik langsung oleh Wawali Yogya Drs Heroe Poerwadi MA.
Heroe Poerwadi dalam sambutannya sangat mengapresiasi langkah besar yang dilakukan Puspa dalam melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan yang menimpa perempuan dan anak.
“Hal ini sejalan dengan langkah pemerintah yang termaktub dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian diturunkan menjadi Perda, Pergub, Perwali ataupun Perbup. Persoalan kekerasan kepada perempuan dan anak memang sangat pelik. Dan membutuhkan kerjasama dari semua pihak, serta menjadi tanggung jawab bersama. Semoga Puspa bisa menjadi corong perubahan,†kata Wawali Yogya.
Sementara itu Ketua Puspa Kota Yogya Upik Sofie ditemui di sela acara mengatakan, perempuan adalah figur penting dan berdaya saing. Namun banyak kasus terjadi menempatkan perempuan sebagai objek kekerasan. “Hal ini sangat miris dan memprihatinkan. Melalui Puspa ini kami pun bersikap untuk memberikan perlindungan, pendampingan dan edukasi bagi perempuan korban kekerasan. Kami juga telah menyiapkan konsep program pemberdayaan ekonomi dan soft skill bagi para perempuan. Selain menjadi ibu rumah tangga, perempuan juga harus memilik daya saing,†ujar Upik Sofie yang didapuk menjadi Ketua Puspa periode 2019-2023.
Upik yang juga menjadi sekretaris di LCY Puspita Mataram menambahkan, keberadaan Puspa langsung dibawah monitoring dari Kemen-PPPA. “Misi kami adalah mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, mengentaskan kesenjangan ekonomi. Serta mengakhiri praktik perdagangan perempuan (human trafficking). Puspa ingin menjadi garda terdepan membuat perempuan lebih berdaya,†tandasnya. (Dol)
