PEMATUNG KAYU KEBUMEN, EKA WIJAYA : Menyulap Akar Pepohonan Menjadi Karya Seni

share on:
Eka Wijaya memiliki kepekaan luar biasa saat memahat | YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KEBUMEN) - Naluri sering membuka jalan bagi terbukanya mimpi-mimpi. Bermula dari naluri yang ditekuni, terasahlah imajinasi dan kreasi hingga bisa melahirkan beragam model karya seni. Dipadu dengan sikap hidup sederhana yang cinta lingkungan, menjadi modal utama menuju kesuksesan.

Itulah simpulan perbincangan yogyapos.com dengan pematung kayu, Eka Wijaya, di rumahnya yang sederhana di Dusun Kemukus RT 02 RW 08 Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen, Jateng, Selasa (12/2/2019).

"Awalnya karena saya melihat akar jati, tapi sekilas bentuknya seperti kepala harimau. Kemudian saya berpikir, daripada dibelah jadi kayu bakar, lebih baik dimanfaatkan jadi sebuah objek seni. Lho, ternyata bisa. Itu terjadi pada tahun 1998. Sejak saat itulah saya seperti bangkit dari tidur panjang. Modal awalnya cuma kapak, pahat dan sepuh empu,” ujar Eka mengawali perbincangan.

Sosok kekar ini terbilang keras kemauan. Karya pertama berupa patung kepala harimau ternyata membakar semangatnya untuk melanjutkan dan menekuni jiwa seni yang nampaknya bersemayam dalam dirinya. "Kebetulan tempat saya tidak jauh dari pegunungan yang banyak pohon jatinya. Itu merangsang saya untuk mencari akar yang tertinggal. Saya gali akar sendiri, kemudian kita proses sesuai motif dan karakter kayunya,” urainya.


Salah satu karya Eka Wijaya berupa Elang yang dalam proses finishing, banyak dikoleksi dan ditempatkan sebagai hiasan di beranda rumah | YP/Wahjudi Djaja

Eka selama ini mengerjakan patung tergantung pesanan, ada yang bermotif polos alami sampai motif binatang. Hasil karyanya tersebar di Kebumen dan beberapa kota besar dengan beragam harga. "Pernah satu set meja kursi jati dengan ukiran naga diharga 15 juta. Tinggi rendahnya harga tergantung tingkat kerumitan dan motif yang diinginkan,” jelasnya.

Bapak dari tiga anak kelahiran 1971 ini memang hanya lulusan SMP. Tapi jalan hidup membawanya menempati posisi diperhitungkan dalam seni patung kawasan Kebumen dan sekitarnya. "Saya pernah ikut pengusaha Korea tinggal di Bali selama lima tahun sejak 2008. Ini pengalaman istimewa bagi saya. Ternyata seni ukir di sana sangat lengkap dan bagus-bagus. Sempat drop juga..ha..ha. Tetapi saya yakin rejeki masing-masing,” kenangnya penuh keyakinan. Eka yang akrab disapa Mbah Eko Wijoyo ini tergolong ringan tangan.

Bila tak punya bahan, dia merelakan diri membantu kerja orang yang kebetulan mempunyai akar. Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci suksesnya. "Bengkel kerja saya ya rumah ini. Kadang kita sabar promosi lewat media sosial, kadang ada yang datang untuk pesan. Kadang juga terbentur modal untuk mencari bahan bakunya. Yang penting ditlateni, disabari,” lanjutnya.

Satu pesanan patung dari akar kayu jati kadang bisa memakan waktu seminggu sampai dua minggu tergantung motif dan tingkat kerumitannya. Hasil penjualan selain digunakan untuk menghidupi keluarga juga melengkapi bengkel kerjanya. "Selama ini saya masih manual, kalau dapat rezeki mau beli kompresor untuk finishing dan senso untuk global awal", akunya.

 


Buaya, lebih banyak dikoleksi dan ditempatkan di taman atau pekarangan rumah-rumah mewah | YP/Wahjudi Djaja

Saat ditanya prinsip hidupnya, pria yang suka berpetualang ini dengan yakin menjawab, "Hidup itu yang penting disyukuri. Suka duka itu bumbu kehidupan, yang penting jujur. Karya seni itu tak bisa dipatok berapa harganya, karena seni itu menyangkut kepuasan". Soal harapan ke depan, Eka Wijaya ingin selalu bisa mengembangkan seni, juga relasi kerja sama termasuk pemasaran. "Karena dalam seni, dimana ada persaingan di situ kita hidup dan kembangkan kreativitas", katanya yakin. (Wajudi Djaja)

 

 

 


share on: