Yogyapos.com (BANTUL) - Rasulullah SAW terkenal memiliki perilaku yang baik, tidak saja terhadap sahabat maupun masyarakat. Bahkan terhadap orang membenci dirinya pun tetap menunjukkan kebaikan. Terlebih di dalam, keluarga, Rasullullah mendidik dengan akhlakul karimah, lemah lembut sehingga terjalin kemesraan saling pengertian. Umat Islam sudah sepantasnya meneladani Nabi Muhammad SAW bagaimana menciptakan rumahtangga bahagia.
“Untuk menafkahi keluarga kita harus berpegang empat hal yaitu niat, cara, bidang pekerjaan, serta hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara baik dan benar,” kata Ustadz Wijayanto, saat memberikan tausiyah kepada para ASN, TNI, POLRI, BUMN, dan BUMD di acara pengajian yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten Bantul setiap Selasa Kliwon di Masjid Agung Manunggal, Selasa (22/10/2019).
Ustadz Wijayanto menjelaskan bahwa problem rumah tangga di Indonesia umumnya disebabkan oleh perceraian, perselingkuhan, intervensi pihak ketiga, dan poligami didorong oleh syahwat bukan syariat. Dikatakannya, menurut data Kementerian Agama setiap satu jam saja ada 58 pasangan di Indonesia mengalami perceraian.
“Karena itulah pernikahan dijalin dengan ikatan suci kokoh mengikuti syariat agama berlandaskan Alquran dan Sunnah,” ujar ustadz yang sering tampil di sejumlah televisi nasional.
Pada pengajian bertema ‘Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Berumah Tangga’ ini, lebih jauh disampaikan membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah bisa dilakukan melalui aktivitas bersama. Misalnya sholat berjamaah, baca Alquran, puasa sunnah bersama, sampai belanja atau membeli sesuatu boleh diputuskan bersama. Tujuannya supaya kedekatan kemesraan terbangun karenanya.
“Terapkan kode 22 malam hari. Ibadah berdua 2 rakaat, jam 2 malam, meneteskan 2 air mata, saling menyadari sekaligus menyesali kesalahan masing-masing, bertahajud. Insya Allah rumah tangga makin mesra langgeng,” terang Wijayanto yang berlatar belakang pendidikan Ilmu Psikologi.
Diungkapkannya, rumah tangga berderajat sakinah mawaddah warahmah akan mengantarkan keluarga masuk surga. Maka keluarga atau rumah tangga harus dirawat dengan cinta. Setiap anggota keluarga wajib dipahamkan mengenai agama. Kemudian ta’aruf saling memahami, pengertian antara suami isteri. Disamping itu sabar dan syukur. Apabila poin terakhir ini tidak ada maka cinta bisa dicabut dari keduanya.
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Wijayanto berpesan agar setiap suami isteri hendaklah saling mengingatkan. Tentu secara santun bukan menyakiti atau melukai baik secara fisik maupun perasaan. Surat An Nisa ayat 19 mestinya menjadi rujukan bagi setiap pasangan.
“Ini sering dilupakan orang, kuncinya sabar, syukur, pikir, dan dzikir sebagaimana disebutkan pula dalam kitabnya Ibnu Qayyim,” pungkas Ustadz Wijayanto. (Muf)
