Yogyapos.com (YOGYA) – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikannya, sejumlah Perguruan Tinggi berlomba mengejar peringkat universitas kelas dunia. Sebab, peringkat universitas dipercaya berbanding lurus dengan reputasi sebuah perguruan tinggi. Meski demikian, Kemendikbud Ristek Dikti mengingatkan agar peringkat universitas itu tidak menjadi prioritas, karena tujuan pendidikan tinggi adalah menghasilkan lulusan yang terserap pasar kerja.
“Hal yang terpenting adalah ranking PT bukan tujuan tetapi akibat dari sebuah proses menjalankan mutu perguruan tinggi,” ujar Program Universitas Berkelas Dunia (UBD) Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Prof Dr Wawan Gunawan A Kadir dalam sosialisasi UBD-WCU, di Auditorium UNY, Kamis (16/3/2023).
Kegiatan Sosialisasi UBDWCU yang berlangsung di Auditorium UNY ini diikuti oleh lebih dari 1000 orang dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan UNY.
Lebih lanjut dikatakan Wawan, dalam dunia pendidikan tinggi tingkat dunia dikenal beberapa pemeringkatan. Oleh karenanya hendaknya universitas menyesuaikan diri sesuai dengan kapabelitasnya.
Wawan menambahkan, salah satu faktor yang dapat mengangkat ranking sebuah universitas adalah kualitas akademis para dosen dan tenaga pendidikannya. Pihaknya mencontohkan, sebanyak 90 persen dosen ITB berijazah S3. Hal itu yang membuat ranking ITB menjadi tinggi. Untuk itu, pihaknay menyarankan agar UNY juga terus mendorong agar para dosennya semua bergelar S3. Selain itu, jumlah riset dan jurnal yang dihasilkan juga sangat mempengaruhi pemerinkatan sehingga hal tersebut juga selayaknya di dorong.

Sementara itu, Pakar Program Universitas Berkelas Dunia lainnya Prof Dr Anas Miftah Fauzi memaparkan bahwa UNY sampai saat ini belum masuk radar QS World University Ranking. Untuk itu, perlu memperbaiki terutama pada bidang Academic Reputation, Employer Reputation, Faculty-Student Ratio, Inbond Exchange Student dan International Research Network.
“Meningkatkan kerjasama dengan PT luar negeri, baik kerjasama riset maupun akademik dapat meningkatkan reputasi internasional” ungkap Anas.
Menurut Guru Besar IPB Bogor tersebut untuk memperbaiki Faculty-student ratio, dengan cara antara lain mengurangi input mahasiswa, meluluskan mahasiswa dengan program akselerasi yang melebihi batas waktu studi, untuk mengurangi jumlah mahasiswa terdaftar, meningkatkan jumlah dosen misalnya dengan program double degree, memberi NIDK untuk dosen-dosen S3 yang pensiun dan sebagainya.
“Mengingat jumlah tenaga dosen dan pengajar sering juga menjadi bahan pertimbangan , maka perlu dilibatkan para praktisi menjadi pengajar serta mengoptimalkan peran alumni. Hal tersebut dilakukan guna menaikan Employer Reputation,” tegasnya
Disisi lain Kepala Kantor Penjaminan Mutu UGM Prof Dr Indra Wijaya Kusuma menyampaikan, sekarang ini sejumlah universitas sedang ‘diracuni’ fenonema pemeringkatan. Meski demikian, pihaknya mengingatkan agar tidak terlena dan mengabaikan fasilitas pendidikan yang ada di kampus masing-masing.
Persoalan pemeringkatan universitas ini di beberapa kalangan masih menjadi pro-kontra dikalangan para pengelola perguruan tinggi.
“Pemeringkatan ini untuk mengejar reputasi, kalau ranking meningkat secara otomatis repurtasinya juga meningkat. Karena itu, ketika ranking universitas turun mereka kemudian berusaha kembali agar kembali meningkat,” ujar Indra.
Ditegaskan Indra, Tujuan program UGM menjalan program WCU itu tidak mengejar rankingnya, tetapi ranking itu hanya sekedar refleksi atas segala usaha yang dilakukan. Sebab, UGM menyadari jika hanya mengejar ranking keberhasilan itu merupakan hal yang semu. Oleh karena itu, UGM lelbih memilih agar semua biaya yang dikeluarkan dapat lebih berdampak bagi lingkungan. (SDs)
