Yogyapos.com (JAKARTA) - Kemampuan literasi masyarakat sangat penting guna menyaring informasi yang beredar tanpa terkendali, terutama di masa pandemi Covid-19. Literasi berfungsi memilah mana berita benar dan mana kabar bohong (hoax). Banyak hal dapat terjadi sampai ke desa disebabkan rendahnya tingkat literasi baca masyarakat, terutama terkait virus Corona.
“Karena itu literasi desa harus diperkuat sebagai cara baru melawan Covid-19. Pengembangan literasi desa menyangkut kapasitas anggota masyarakat desa dalam mengolah dan memahami setiap informasi,” ungkap Rini Khadijah Aalawiyah, SPd I, Kepala Seksi Fasilitasi Pelayanan Pendidikan Desa, Direktorat Pelayanan Sosial Dasar (PSD), Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), melalui video konferensi kuliah online dengan tema ‘Memperkuat Literasi Desa, Cara Baru Lawan Covid-19’ di Jakarta, Jumat (8/5/2020).
Rini menyampaikan, peran PSD adalah mendayagunakan setiap potensi sumber daya desa untuk sebesar-besar kesejahteraan masyarakat desa. Memberkuasakan warga masyarakat sebagai subjek pembangunan desa melalui model literasi desa. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas maupun partisipasinya dalam penyelenggaraan desa.
“Masyarakat yang memiliki kemampuan berliterasi tentang desa akan lebih mampu terlibat dalam rancang bangun, tata kelola pemerintahan, maupun pembangunan desa inklusif, partisipatif, dan berkeadilan sosial. Konteks sekarang, masyarakat lebih mampu menghadapi Covid-19 yang tengah menjadi pandemi di negara kita,” ujarnya.
Pada sesi kedua, Koordinator Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia, NIrwan Ahmad Arsuka, memaparkan hasil survei badan dunia yang menyebut rendahnya indeks minat baca masyarakat Indonesia. Namun dirinya menyatakan, bila ditelusuri sampai ke jalan pelosok kampung, maka akan terlihat bahwa minat baca anak-anak ternyata luar biasa besar sehingga hasil survei tersebut perlu diragukan.
“Kawan-kawan di Jaringan Pustaka Bergerak pernah menyerukan lawan UNESCO dengan hasil surveinya itu,” tandas Nirwan.
Menurutnya, Pustaka Bergerak merupakan gerakan sosial berkonsep perpustakaan harus datang menemui pembaca terutama anak-anak, bukan menunggu didatangi. Pustaka bergerak melengkapi perpustakaan yang sejauh ini mayoritas menunggu didatangi pembaca. Pola kerjanya berjejaring agar bisa saling membantu secara optimal. Memanfaatkan jaringan internet dan media sosial, tanpa dipublikasikan secara resmi. Pustaka bergerak merupakan bagian dari revolusi 4.0.
“Namun Pustaka bergerak tidak dapat berdiri sendiri, melainkan bergerak bersama institusi lain, seperti kerja sama jaringan kami dengan Kemendes PDTT,” terangnya.
Menghadapi pandemi Covid-19, Nirwan memaparkan sejumlah aktivitas pegiat literasi dalam jaringan di bawah komandonya itu. Salah satunya seperti dilakukan oleh Ardianto, pegiat literasi dari Bakahueni Lampung. Dia berkeliling kampung mengukur suhu badan warga dari rumah ke rumah guna memutus mata rantai Corona.
Aktivis lainnya adalah Ale (pendiri Onthel Pustaka, Majene). Ia aktif mengkampanyekan sosial distancing, cuci tangan yang benar, serta memberikan sejumlah informasi lainnya pada masyarakat di lingkungannya. Sedangkan Eko Nugroho, dari Kabupaten Semarang, aktif sosialisasi pencegahan wabah covid-19 sambil memperkuat keamanan lingkungan bersama rekan-rekannya. Adanya wabah disinyalir meningkatkan kriminalitas di berbagai daerah.
Sementara itu, Roro Hendarti, aktivis Limbah Pustaka, Desa Muntang, Jawa Tengah gencar menyampaikan peran warga sebagai pemutus mata rantai penyebaran Corona. Ia menyelenggarakan pula kegiatan penyebaran buku bacaan gratis ‘pesan antar buku’ untuk mencegah kerumunan. Teknisnya buku diantar ke rumah pemustaka yang sudah memesan buku.
“Relawan pengantar buku itu mempunyai peran ganda, yakni sebagai pemutus mata rantai penyebaran virus sekaligus memberikan kebenaran informasi. Yang diputus bukan hanya wabahnya saja, tetapi juga berita hoax beredar di masyarakat,” papar Nirwan.
Di sesi ketiga sebagai pembicara terakhir, Jamaludin, Ketua Tim Penggerak Kegiatan (TPK) Pengembangan Literasi Desa Pambusuang, Poliwali Mandar, Sulawesi Barat, mengutarakan kondisi sekarang dimana arus informasi begitu masif dirasakan. Hal ini menjadi sebuah bahaya dalam suasana pandemi karena banyak informasi atau konten hoax.
‘Membaca dapat menjadi solusi menangkal hoax. Bacaan diimplementasikan di kehidupan sehari-hari, termasuk memberikan solusi bagaimana menghadapi kondisi pandemi Covid-19 melalui relawan literasi desa,” katanya menerangkan.
Upaya-upaya yang telah dilakukan para relawan desa Pambusuang antara lain bersinergi dalam satu gugus tugas penanganan Covid-19 bersama pemerintah desa. Informasi valid dari pemerintah sangat diperlukan mengingat posisinya sentral sebagai penyampai pesan yang cukup kuat kepada masyarakat.
Para relawan pun menerangkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) pada masyarakat desa. Wujud nyata kegiatannya adalah membuat sabun cuci tangan dari 1 batang sabun padat yang dilebur dan dikemas menjadi 8 botol sabun cair ukuran sedang. Kegiatan itu disertai pembuatan poster berisi informasi mengenai cara hidup sehat dan cara mencuci tangan menggunakan sabun.
“Kegiatan lainnya, kami sudah melaksanakan pelatihan mengantisipasi informasi hoax dengan cara memvalidasi informasi beredar, menelusuri dari sumber pemberitaan maupun lembaga informasi yang valid,” pungkasnya. (Muf)
