Yogyapos.com (JAKARTA) - Presiden RI Joko Widodo menyampaikan rasa dukacita mendalam atas meninggalnya korban dalam kericuhan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022).
“Saya menyesalkan tragedi ini dan jangan ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini ke depan. Kita harus menjunjung sportifitas, kemanusiaan dan kebangsaan,” kata Presiden melalui pernyataan pada akun Youtube kepresidenan, Minggu (2/10/2022).
Dalam kesempatan yang sama, Presiden memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawansa untuk memonitor secara langsung pelayanan medis para korban yang dirawat agar mendapat pelayanan terbaik.
“Saya memerintahkan Ketua PSSI agar menghentikan sementara Liga sampai evaluasi dan perbaikan pengamanan dilakukan,” kata Jokowi.
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyatakan segera melakukan investigasi atas kerusuhan di dalam Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, seusai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Sekjen PSSI, Yunus Nusi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil investigasi terkait kejadian kerusuhan di Stadion Kanjuruhan.
Insiden kericuhan terjadi usai laga Arema FC kalah dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 dalam laga Derby Jawa Timur pada lanjutan Liga 1 Malang, Sabtu (1/10/2022) malam.
Ditandaskannya bahwa insiden tersebut bukanlah perkelahian antarsuporter. Banyaknya korban meninggal, menurut Yunus terjadi karena terjepit di kerumunan suporter yang berdesak-desakan.
“Ada yang jatuh, terinjak, saat mencoba keluar dari pintu stadion. Ada puluhan ribu penonton yang ingin keluar sehingga terjadi tragedi tersebut,” kata Yunus dalam keterangan pers kepada wartawan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/10/2022).
Pihaknya berharap kejadian ini tidak menjadi rujukan atau landasan FIFA untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak baik dan tidak menguntungkan Indonesia dan khususnya PSSI.
Bahwa PSSI telah mengirimkan laporan pertama tentang keributan di Kanjuruhan kepada FIFA pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022, atau beberapa saat setelah peristiwa terjadi. Komunikasi PSSI dengan FIFA berlanjut sampai Minggu.
Sampai Minggu siang, tercatat 130 orang kehilangan nyawa akibat huru-hara tersebut. “Ini kejadian luar biasa. Kami terus menyampaikan kepada FIFA kabar terbaru soal kejadian tersebut,” kata Yunus menambahkan.
Sementara soal potensi sanksi dari FIFA, Yunus Nusi mengaku belum memiliki gambaran. Akan tetapi, dirinya yakin FIFA tidak akan mengambil keputusan secara instan.
Sementara terkait korban, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengungkapkan, informasi awal tercatat sebanyak 127 orang tewas, dua diantaranya yakni dua personel polisi.
“Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang, dua di antaranya adalah anggota Polri,” kata Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta seperti dikutip dari Antara, Minggu (2/10/2022).
Dibeberkan tidak seluruhnya korban meninggal di dalam Stadion Kanjuruhan, tercatat sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di dalam Stadion, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan dibeberapa rumah sakit setempat.
“Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan, elain korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri,” sebut dia. (*/Opo)
