Presiden Ranil dan Kepala Negara-negara ASEAN Bahas Kerjasama Sri Lanka-ASEAN

share on:
Presiden Ranil dan Kepala Negara-negara ASEAN || YP-Ist

Yogyapos.com (JAKARTA) - Indonesia menginginkan ASEAN menjadi motor perdamaian dan stabilitas di kawasan serta menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, ASEAN tetap dan semakin relevan bagi komunitas ASEAN dan dunia.

Hal itu disampaikan Duta Besar Dewi Gustina Tobing, dalamka pasitas Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023. Dewi memberikan penjelasan tersebut kepada Presiden Ranil mengenai prioritas ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia.

“Melalui tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth, negara-negara ASEAN akan memastikan bahwa ASEAN tetap dan semakin relevan bagi Komunitas ASEAN dan dunia,” ungkap Dubes Dewi, Sabtu (18/3/2023).

Dikatakan Dewi, Kepala Perwakilan negara-negara ASEAN di Sri Lanka, yaitu Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam telah mengadakan pertemuan dengan Presiden Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, Rabu (15/3/2023) lalu. Pertemuan tersebut juga dihadiri Menteri Muda urusan Luar Negeri, Tharaka Balasuriya, dan beberapa pejabat dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Sri Lanka.

Pada kesempatan tersebut Presiden Ranil sangat menghargai peran sentral ASEAN. Ranil menyampaikan keinginan menjalin kerjasama yang lebih erat dengan ASEAN. Presiden juga berharap terdapat peningkatan arus investasi dan wisatawan dari negara-negara ASEAN, mengingat ke dua bidang tersebut hanya menyumbang sebagian kecil dari investasi dan pariwisata di Sri Lanka.

Kepala Perwakilan negara-negara ASEAN menanggapi positif harapan Presiden Ranil terkait perlunya meningkatkan arus investasi dan wisatawan dari negara-negara ASEAN guna mendukungupaya pemulihan ekonomi Sri Lanka. Kepala Perwakilan negara-negara ASEAN juga menyatakan kesediaan meningkatkan hubungan perdagangan dua arah dengan Sri Lanka, mengembangkan lebih banyak akses pasar antara Sri Lanka dan masing-masing negara ASEAN, serta memajukan kerjasama di berbagai bidang yang bermanfaat bagi pembangunan ekonomi Sri Lanka, baik secara individu dalam hubungan bilateral maupun dalam kerangka kerja ASEAN.

Mengenai isu bilateral, Presiden Ranil memberikan perhatian positif atas ajakan Dubes RI untuk segera meluncurkan perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Sri Lanka serta dorongan bagi pencabutan kebiijakan pelarangan penanaman kelapa sawit. Dubes Dewi menyampaikan kesiapan Indonesia untuk sharing knowledge dan expertise di bidang kelapa sawit dengan Sri Lanka. Dubes Dewi juga membagi pengalaman mengenai kontribusi positif kelapa sawit bagi ekonomi Indonesia dengan tetap memperhatikan lingkungan melalui Indonesia Sustainable Palm Oil(ISPO).

Eksporutama Sri Lanka kenegara-negara ASEAN pada umumnya berupa pakaian jadi, Mutiara, dan teh. Sedangkan impor umumnya terdiri dari bahan bakar, minyak, karet, dan mesin-mesin. Pertemuan juga mencatat bahwa Sri Lanka telah bergabung dengan ASEAN Regional Forum (ARF) dan penandatangan ASEAN Treaty Amity Cooperation (TAC). (*/Toto Sugiharto)

 


share on: