PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak bakal berlangsung pada 9 Desember 2020. Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten yang akan punya hajatan Pilkada pada 9 desember 2020. Sejumlah nama bakal calon (balon) bupati pun muncul, salah satunya adalah Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd yang cukup santer diperbincangkan masyarakat.
Prof Sutrisna yang kini masih menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini memang bukan sosok asing bagi masyarakat Gunungkidul. Dia merupakan putera daerah yang selama ini sangat populer dan menjadi kebanggaan masyarakat. Bukan lantaran jabatannya di dunia akademis saja, tetapi juga karena sosoknya yang supel dan sering melakukan transformasi untuk pemajuan sumber daya manusia (SDM) di tanah kelahirannya.
“Saya pada akhirnya menjatuhkan pilihan menerima ajakan berbagai pihak untuk berperan secara langsung dan meluas untuk kemajuan Gunungkidul melalui kontestasi Pilkada 2020 ini,” ujar mantan mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi kepada yogyapos.com, Selasa (16/6/2020).
Prof Sutrisna mengungkapkan, setahun lalu ‘didekati’ sejumlah pemuka masyarakat dan parpol. Mereka pada mulanya melakukan dialog tentang banyak hal menyangkut masa depan Gunungkidul yang sangat potensial sebagai penyangga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam rentang setahun itulah tercetus tentang pentingnya pemimpin dan kepemimpinan yang sangat diharapkan masyarakat untuk memajukan wilayah ini.
Singkat kisah, muncul dorongan dari para ‘Pendekat’ agar Profesor Sutrisna mau menjadi Bupati periode 2020-2025 melalui proses deokrasi Pilkada. “Butuh perenungan cukup lama. Tapi karena saya lahir di Gunungkidul dan selama ini mengabdi di luar, maka muncul rasa tanggung jawab untuk ikut secara langsung dan bersama masyarakat memajukan Gunungkidul. Ya itu beberapa bulan lalu saya nyatakan tekad maju sebagai balon bupati,” tukasnya.
Pasca tekad dan penerimaannya untuk mengikuti kontestasi politik, suami dari Supadminingsih ini menyatakan telah melakukan komunikasi dengan berbagai parpol. Terakhir komunikasi politik secara intensif dilakukan dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat. Sehingga dapat dipastikan kendaraan politik yang dipakai untuk memuluskan jalan menuju kursi bupati adalah koalisi keempat parpol tersebut.
Prof Sutrisna menyatakan pengalaman kerja atau mengabdi pada negara dengan berbagai jabatan yang pernah disandangnya menjadi modal kerja yang signifikan sebagai bupati nantinya. “Insya allah. Saya hanya punya modal niat baik dan pengalaman kerja. Termasuk bekal leadership bagaimana membaca peluang mengatasi tantangan. Kalau modal uang, terus terang saya angkat tangan,” tuturnya, tersenyum.
Dari komunikasi tadi, papar Sutrisna, keempat parpol yang bakal menjadi kendaraan politiknya itu memiliki kesamaan pemahaman. Yakni dalam konteks DIY sebagaimana pernah diungkapkan Gubernur Sri Sultan HB X, kerangka pembangunan Gunungkidul bakal berkait satu kesatuan dengan Bantul dan Kulonprogo karena secara geografis terhubung di jalur selatan. Ini mengandaikan peluang pembedayaan ekonomi jalur samudera Hindia.
“Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo pada gilirannya merupakan satu kesatuan ekonomi yang mengkover DIY,” selanya.
Menurutnya, banyak potensi yang perlu diberdayakan. Keberadaan Jalur Lingkar Selatan (JLS) akan lebih berfungsi maksimal secara ekonomi jika segenap potensi ekonomi di Gunungkidul digalakkan. Misalnya bagaimana kemudian nanti dibangun pelabuhan di Sadeng untuk kepentingan hasil perikanan. Lebih spesifik lagi di bidang perikanan adalah lobster di Gesing yang khas dan memiliki nilai jual lebih tinggi, bisa menjadi komoditas ekspor dan pemenuhan dalam negeri
Artinya, jika potensi laut digarap maksimal, maka JLS bukan hanya untuk jalur sepeda motor seperti sekarang. Tapi bakal ramai menjadi jalur ekonomi.
Pemberdayaan ekonomi juga dilakukan melalui bidang pertanian dan industri memanfaatkan laha-lahan luas yang selama ini kurang dimaksimalkan peruntukannya. Jika ini dilakukan maksimal, dampak positif lain berupa penyerapan tenaga kerja. “Pabrik sarung tangan di daerah Semin misalnya, itu merupakan contoh yang tentu positif dan perlu ditiru karena sanggup menyerap 1000an tenaga kerja dan khusus melayani kebutuhan ekspor. Proses ekspornya pun memanfaatkan JLS menuju Bandara NYIA Kulonprogo,” tunjuknya.
Di bidang peternakan juga bisa dimaksimalkan berikut tempat penyembelihannya, sehingga mampu menyerap tenaga kerja dan kita tidak perlu lagi impor daging.
Demikian pula di bidang pariwisata, perlu dilakukan mapping lagi. Termasuk menyakut sarana, prasarana, dan terutama SDM. Sebab selama ini SDM kita masih sekadar pekerja. Mereka kebayakan belum memiliki visi pariwisata yang membutuhkan kebersihan dan keramahan. Perlu penataan gubuk-gubung di kawasan pantai agar terlihat rapi. “Juga perlu dibangun homestay-homestay untuk memenuhi kebutuhan wisman agar tidak sesaat mengunjungi pantai, tetapi bisa menginap nyaman selama berhari-hari. Bahkan jika perlu kedepan dibikin wisata pantai privat,” jelasnya.
Bagi Sutrina, persoalan SDM sangat penting untuk pembangunan segala potensi yang ada di Gunungkidul. Dan ini sangat tergantung dari pemipin maupun pola kepemimpinan yang sanggup melakukan transformasi dari pola lama ke pola baru abad teknologi digital.
Manusia hari ini, kata Sutrisna, tak bisa jauh dari teknologi. Sehingga demikian pula dalam hal pelayanan publik, bisa lebih dimudahkan, efisien dan efektif. “Kita pada akhirnya berhadapan dengan teknologi. Pekerjaan-pekerjaan lama manual bakal ditinggalkan, bertransformasi kepada yang lebih manusiawi karena tergantikan oleh teknologi,” jelas ayah dari Daru Nurtyas Padmadi ST dan Ardi Patma Widita SE ini. (Ded/Met)
