Yogyapos.com (BANTUL) - Meski Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mempersilahkan masyarakat memanfaatkan tanah Sultan Ground (SG) untuk bidang usaha agar mendapatkan penghasilan, namun hingga kini masih banyak warga yang belum atau tak memanfaatkan kesempatan.
BACA JUGA: Kompetisi Futsal Campus League, UNY Spektakuler Raih Double Champion Putra Putri
Lain halnya Purnomo (50) warga Poncosari Srandakan Bantul, menangkap kemuliaan Sultan itu sebagai peluang sangat positif yang segera direalisasikan.
Pria dengan etos kerja tinggi ini menggunakan sebidang lahan SG di wilayah wisata Tanggul Tirto, Pantai Selatan, Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul. Di atas lahan milik Kraton Kasultanan Yogyakarta itulah ia membuka bidang usaha produksi garam.
BACA JUGA: FKUB dan FPLA Bantul Dorong Harmoni Antarumat Beragama
"Pak Sri Sultan kan udah membolehkan agar masyarakat untuk memanfaatkan tanah SG, maka saya memanfaatkannya untuk usaha pembuatan garam,” tutur Purnomo kepada yogyapos.com, Kamis (13/11/2025).
Purnomo jujur, dirinya membuka usaha tersebut untuk mendapatkan penghasilan sekaligus mendukung kemajuan wisata di Tanggul Tirto.
BACA JUGA: Wamensos Agus Jabo Ajak Masyarakat Teladani Perjuangan Diponegoro
Lantas apa hubungannya antara garam dan wisata? Purnomo mengatakan proses produksi garam yang dilakukan tentu saja dapat menarik perhatian wisatawan yang kebetulan berkunjung ke kawasan tersebut. Dengan kata lain dapat menambah wawasan para wisatawan tentang bagaimana air laut diproses menjadi garam.
Purnomo menujukkan garam hasil bikinannya || YP-Supardi
Menurutnya, garam dikonsumsi oleh hampir semua orang setiap hari. Namun banyak orang yang tidak atau belum mengetahui bagaimana bumbu dapur itu dibuat.
BACA JUGA: Kesbangpol Sleman Gelar Program Penanaman Wawasan Kebangsaan di 86 Kalurahan
SG 600-800 Meter
Walau tanah SG sangat luas, hingga kini Purnomo hanya memanfaatkannya sekitar 600 hingga 800 Meter persegi. Lahan ini selanjutnya dibagi menjadi 8 tempat produksi. Seiring waktu tentu akan memperluas lahan produksi garam.
Garam, kata Purnomo, mudah dibikin. Pembuatannya menggunakan air laut yang dialirkan melalui paralon menggunakan sistem pompa.
BACA JUGA: Ibu Muda 'Bobol' BMT Projo Artha Sejahtera Ratusan Juta, Begini Modusnya
“Prosesnya air laut ditampung di bak penampungan dalam waktu tertentu. Setelah itu air dialirkan ke tempat produksi dan terkena panas sehingga menjadi garam. Agar prosesnya dapat terbantu suhu panas, maka pada atap ruangan produksi diberi atap, dindingnya menggunakan plastik,” terangnya.
Dari kerja seharian seperti itu, Purnomo kini dirinya dapat memproduksi 300 kuintal setiap kali panen dengan hasil panen tiga jenis yakni kategori baik, sedang dan biasa. Hasil produksi ini dijual harga Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kg.
BACA JUGA: Lakalantas Maut BMW Kontra Vario di Sleman, Terdakwa Divonis 14 Bulan
“Alhamdulilah ternyata saya rasa membuat garam menguntungkan. Saya menjualnya kepada para tengkulak di seluruh pasar di Yogyakarta,” pungkas Purnomo yang hari-harinya juga bekerja sebagai petani. (Supardi)
