Yogyapos.com (BANTUL) - Sekitar 200 kiai dan ulama di DIY umumnya dan lingkungan Pondok Pesantren (PP) Al-Munawwir Krapyak pada khususnya menjalanai vaksinasi tahap I yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Pemerintah dan Kementrian Agama Kabupaten Bantul, di Ponpes ini, Rabu (31/3/2021).
Pada kesempatan ini, Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr Agus Budi, mengatakan pihaknya merasa lega dan menyambut positif dengan terlaksananya vaksinasi kepada para kia (ulama) kali ini.
“Ini merupakan bagian dari upaya percepetan dan pemberantasan pandemi Covid-19,” kata Abdul Halim Muslih.
KH Chaidar Muhaimin Afandi Bin Munawwir yang akrab disapa Gus Kendar dan ikut divaksin menyatakan, pihakya merasa senang bisa jalani vasinasi. “Saya biasa saja dan ikut vaksin. Ini sebagai upaya agar dirinya dannl orang lain terhindar dari Covid-19,” kata Gus Kendar.
Sementara itu, Anggota DPD DIY, Dr H Hilmy Muhammad yang juga selaku anggota keluarga besar PP Al- Munawwir Krapyak Yogyakarta, ketika dihubungi melalui WhatsApp, menyatakan bersyukur karena vaksinasi untuk para kiai di DIY bisa berlangsung di PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Kiai-kiai yang sudah terdaftar bisa datang dan divaksin.
“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan dan pihak Kementerian Agama, baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten. Vaksinasi kiai-kiai ini jangan hanya dipandang penting bagi mereka, tapi lebih jauh dari itu. Juga penting bagi masyarakat luas lainnya, karena mereka menjadi rujukan masyarakat untuk bertanya, berkonsultasi dan mengungkapkan keluh kesah kehidupan mereka. Melindungi dan memproteksi kiai dengan demikian adalah bagian dari melindungi anggota komponen masyarakat lainnya,” demikian Gus Hilmy.
Ia menyatakan, di mana-mana, sesungguhnya kiai itu nasibnya hampir sama dengan seniman, bahkan lebih lagi. Bila seniman hari ini belum bisa manggung, maka demikian halnya para kiai. Bahkan bedanya, kalau seniman bisa mudah mengkritik atau mengemukakan uneg-unegnya. Tidak demikian halnya dengan kiai yang cenderung diam dan enggan mempermasalahkannya.
Melalui vaksinasi kiai ini juga menunjukkan bahwa DIY adalah daerah yang juga merawat semua komponen masyarakat dan memperlakukannya secara sama. Jangan yang satu dianak emaskan, sedang yang lain dianaktirikan, sedang posisi ketokohan di masyarakat kurang lebih sama.
Malah kalau kampanye vaksinasi itu dulu dengan kiai, dan digembor-gemborkan bahwa vaksin itu halal, dan itu tentu adalah hasil keputusan para kiai. Tetapi dalam soal vaksinasi justru tidak diprioritaskan. Itu kan kalau di pepatah melayu namanya habis manis sepah dibuang. Itu jangan sampai terjadi. (Supardi)
