ADA satu pertanyaan yang selalu menggema Mengapa manusia begitu mudah melukai manusia lainnya?
Di Sukabumi, seorang anak SD meregang nyawa, bukan karena penyakit, bukan pula karena kecelakaan. Tetapi pergi karena tangan-tangan yang seharusnya hangat mengusap kepalanya justru menjadi alat penghancur. Ibu tiri yang dalam khayalan publik seharusnya menjadi pengganti kasih berubah menjadi algojo. Anak itu meninggal dalam bisu, dalam luka yang tak sempat diceritakan pada siapa pun.
BACA JUGA: Bangga dengan Paspor Indonesiaa di Tengah Tantangan Brain-Drain
Tragedi ini bukan sekadar berita kriminal, melainkan cermin buram dari realitas sosial kita, bahwa perundungan (bullying) tidak selalu terjadi di lorong sekolah atau di kolom komentar media sosial. Tatapi terjadi juga di ruang paling privat, di rumah sendiri, oleh orang-orang yang memiliki kuasa penuh atas hidup dan mati seseorang.
BACA JUGA: Seorang Jukir Jadi Korban Penikaman, Begini Kronologinya
Hari ini, 27 Februari, dunia memperingati Hari Internasional Melawan Perundungan. Sebuah momentum untuk bertanya, sudah sejauh mana kita membiarkan kuasa yang timpang menjadi alat penghancur kemanusiaan?
BACA JUGA: Kawulo Ngayogyakarta Gelar Kirab Budaya Tolak Kekerasan
Relasi Kuasa dalam Bingkai Sosiologi
Michel Foucault Sosiolog Perancis, mengajarkan kita bahwa kuasa tidak pernah netral, tetapi menyebar, meresap, dan bekerja dalam relasi-relasi sosial yang paling kecil sekalipun. Dalam konteks perundungan, relasi kuasa yang timpang menjadi sumber utama kekerasan baik fisik, psikis, maupun simbolik.
BACA JUGA: Seorang Mantan Pejabat Publik Sleman Jadi Korban Penipuan Online
Dalam dunia akademik, mahasiswa S1, S2, hingga S3 kerap mengalami ketidakseimbangan kuasa ini. Dosen pembimbing yang otoriter, tekanan publikasi yang tidak manusiawi, atau perlakuan diskriminatif di lingkungan kampus adalah bentuk-bentuk perundungan yang dibungkus dalam jargon proses pendidikan atau pembentukan karakter. Padahal, dibalik itu semua, ada luka psikologis yang perlahan membunuh semangat, kreativitas, bahkan kesehatan mental.
BACA JUGA: Sidang Dugaan Pemalsuan Merek, Hakim Periksa Tiga Saksi
Di tempat kerja, relasi kuasa atasan-bawahan sering menjadi ladang subur perundungan. Target yang mustahil dicapai, teguran di depan umum, atau pengabaian hak-hak dasar pekerja adalah kekerasan simbolik yang oleh Pierre Bourdieu disebut sebagai symbolic violence, kekerasan halus yang pelan-pelan membuat korban merasa tak berdaya dan inferior.
BACA JUGA: Angka Kemiskinan di Kapanewon Prambanan Mengalami Tren Penurunan
Kasus ibu tiri di Sukabumi yang mengakibatkan meninggalnya seorang anak SD adalah contoh paling ekstrem bagaimana relasi kuasa dalam keluarga bisa menjadi mesin pembunuh. Dalam struktur keluarga, orang tua (atau pengasuh) memiliki kuasa absolut atas anak. Anak tak punya daya tawar, tak punya ruang untuk melawan. Ketika kuasa itu disalahgunakan, ketika hukuman fisik dianggap mendidik, ketika kemarahan dilampiaskan tanpa kendali, maka rumah sebagai tempat paling aman berubah menjadi neraka.
BACA JUGA: Sejumlah Sekolah di Tridadi Sleman Sudah Dua Bulan Tak Menerima MBG?
Peristiwa ini mengingatkan kita pada konsep parental bullying yang jarang dibicarakan. Masyarakat lebih sering membicarakan perundungan di sekolah atau di dunia maya, padahal data menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak paling banyak terjadi di lingkungan keluarga. Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung pertama justru menjadi predator pertama.
BACA JUGA: Gugatan terhadap RS dan Dokter Mata, Hakim Beri Kesempatan Mediasi
Dalam perspektif sosiologi keluarga, kondisi ini diperparah oleh konstruksi sosial bahwa orang tua tidak pernah salah atau anak harus hormat dan patuh tanpa syarat. Norma-norma ini menciptakan ruang gelap dimana kekerasan dibiarkan, dilanggengkan, bahkan kadang dibenarkan.
BACA JUGA: Puisi Untuk Ketua BEM UGM karya Aprinus Salam
Di kampus-kampus, perundungan hadir dalam bentuk yang lebih halus namun tak kalah mematikan. Mahasiswa bimbingan yang diminta mengerjakan pekerjaan pribadi dosen, ancaman tidak lulus jika tidak menurut, atau pelecehan verbal yang dibungkus candaan, semua ini adalah perundungan dalam balutan akademik. Ini bukan sekadar masalah komunikasi dosen-mahasiswa. Ini adalah masalah struktur, dosen memiliki kuasa menentukan kelulusan, mahasiswa hanya bisa pasrah.
BACA JUGA: Rakor di Dispertaru DIY Dihadiri Danrem, Gubernur Apresiasi Program KDKMP
Fenomena ini diperparah oleh budaya akademik yang menempatkan produktivitas diatas kesehatan mental. Publikasi di jurnal bereputasi, target kelulusan tepat waktu, tekanan dari orang tua, semua ini menjadi beban yang memperparah ketimpangan relasi kuasa.
BACA JUGA: Bupati Harda Kiswaya Safari Tarawih Putaran Kedua
Di dunia kerja, perundungan sering disebut workplace bullying. Bentuknya bisa bermacam-macam: gaslighting (membuat korban meragukan persepsinya sendiri), overworking tanpa kompensasi, hingga pengucilan secara sistematis. Yang paling berbahaya, korban sering tidak sadar bahwa dia sedang dirundung karena semua dibungkus dalam bahasa tuntutan profesionalisme. Seorang pekerja kontrak yang takut mengeluh karena khawatir tidak diperpanjang masa kerjanya adalah contoh nyata bagaimana kuasa ekonomi membuat perundungan sulit dilawan. Atasan punya kuasa atas nasib finansial bawahan, dan celah ini sering dimanfaatkan untuk menindas.
BACA JUGA: Humoriezt Dukung Kondisivitas DIY, Puluhan Perwakilan Ormas Deklarasi Ramadan Damai
Untuk kalian, para penyintas perundungan: luka kalian nyata. Rasa sakit itu sah. Tidak ada yang berhak meremehkan apa yang kalian alami, sekecil apa pun bentuknya. Perundungan memang membunuh perlahan, menggerogoti harga diri, merusak kepercayaan diri, dan kadang membuat kita kehilangan arah. Tapi ketahuilah, bertahan ditengah badai adalah bentuk perlawanan yang paling heroik. Kalian tidak sendiri. Ada jutaan jiwa di luar sana yang juga berjuang, yang juga bangkit dari luka, yang juga memilih untuk tetap hidup meski dunia terasa gelap.
BACA JUGA: 113 Siswa SMA Muhi Yogya Diterjunkan Sebagai 'Mubaligh Hijrah' di Dua Kapanewon
Untuk kalian yang memiliki relasi kuasa lebih, orang tua, dosen, atasan, siapa pun yang kata-kata dan tindakannya berdampak besar pada orang lain: Ingat, kekuasaan bukan lisensi untuk menyakiti. Menjadi lebih kuat tidak memberi kalian hak untuk merendahkan yang lemah. Setiap kali kalian memilih untuk menahan amarah, memilih untuk mendengar, memilih untuk tidak menghakimi, kalian sedang menyelamatkan nyawa. Karena perundungan bukan hanya tentang luka fisik. Tetapi tentang bunuh diri yang tidak terjadi, tentang depresi yang bisa dicegah, tentang masa depan yang masih bisa diperbaiki.
BACA JUGA: Pengenalan Budaya Jawa Masuk ke Kampus, Ini Wujudnya
Hari ini, di Hari Internasional Melawan Perundungan, mari kita sepakati satu hal bahwa perundungan adalah pembunuhan yang dilakukan perlahan seperti halnya kita menolak pembunuhan, kita juga harus menolak segala bentuk perundungan, dimana pun, kapan pun, oleh siapa pun.
Untuk kita semua: jangan biarkan siapa pun membunuh perlahan. Berhenti merundung. Mulai merangkul. (Penuli: Puji Qomariyah MSi adalah Dosen Sosiologi dan Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pendidikan- IP SPS UNY)
