Rerasan Akhir Lusono (2): Memaknai Kelangkaan Orang Berperilaku OCB di Era Milenial

share on:
Dr Akhir Lusono SSn MM

Organizational Citizenzhip Behavior (OCB) merupakan suatu perilaku yang memperluas dan melebihi dan perilaku apa saja yang telah disyaratkan oleh organisasi yang tertuang dalam suatu deskripsi pekerjaan yang formal (formal job description). OCB menunjuk pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pegawai melampaui peran yang telah diisyaratkan oleh organisasi dan tindakan-tindakan tersebut memajukan kesejahteraan dan rekankerja, kelompok kerja, atau bahkan organisasi. Organisasi tergantung pada pnilaku OCB dan pegawai untuk membantu koleganya yang sedang mempunyai masalah, menciptakan suatu iklim kerja yang positif, dengan sabar menghadapi gangguan tanpa mengeluh dan menjaga asset yang dimiliki organisasi (Agarwal, 2016).

OCB adalah tindakan yang dilakukan anggota organisasi yang melebihi ketentuan formal pekerjaannya. Secara umum, ada tiga komponen utama OCB. Pertama, penlakutersebutlebih dan ketentuan formal atau deskripsi pekerjaan yang telah ditentukan. Kedua, tindakan tersebut tidak memerlukan latihan (bersifat alami), dengan kata lain, orang melakukan tindakan tersebut dengan sukarela. Ketiga, tindakan tersebut tidak dihargai dengan imbalan formal oleh organisasi (U. Singh & Srivastava, 2016).

Perilaku-perilaku kooperatif dan saling membantu yang beradadiluar persyaratan formal sangat penting bagi berfungsinya organisasi (Bragger et al., 2015; Chahal & Mehta, 2010; Cottrill et al., 2014; Fassina et al., 2018; Nielsen et al., 2012). Perilaku tambahan diluar diskripsi pekerjaan dalam organisasi sering disebut sebagai perilaku kewarganegaraan dalam organisasi atau Organizational Citizenship Behavior (OCB). Menurut Podsakoff (1996), OCB mempengaruhi keefektifan organisasi (Edgren, 2013; Jafari & Bidarian, 2012; Jim et al., 2013).

Dari berbagaiteori yang mengemuka, menunjukkan betapa luar biasanya jika perilaku berlebih terhadap tanggungjawab kita itu terjadi dan bahkan itu kita sendiri yang memiliki. Pimpinanakanmerasasenangjikamenadapatkan seorang karyawan atau staf yang berperilaku OCB. Namun agaknya untuk zaman milenial ini akan sangat langka. Alih-alih berperilaku lebih. Kecenderungan mengerjakan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan jenjang jabatan pun kini barang langka. Seorang pelajar yang seharusnya belajar pun kini abai terhadap tugasnya sebagai pelajar. Pekerja yang tugasnya menjelankan suatu kewajibanpun harus ditegur oleh atasan agar pekerjaannya diselesaikan.

Memaknai perilaku OCB di jaman millennial ini ternyata kian membutuhkan tenaga ekstra tinggi. Artinya bagai mencari jatuhnya jarum ditumpukan jerami. Sulit untuk menemukannya. Kebanyakan bekerja untuk berlomba-lomba mencuri-curi kesempatan agar bisa banyak hari libur atau jam kosong dan sang majikan tidak menunggui. Kini pekerja yang dapat bekerja ekstra semakin sulit. Deraan degradasi komitmen telah tergerus oleh arus modernisasi. Agaknya komitmen bekerja sepenuh hati dan bekerja dengan daya juang yang menjulang menjadi barang yang langka. Perlubetul-betul disiasati untuk dapat pekerja yang sepenuh jiwa raga berbakti kepada tempat dimana dia ibaratnya mengais rejeki untuk menghidupi keluarga dan diri sendiri. Maka ditengah langkanya orang yang berperilaku lebih atau pekerja yang ber OCB dibutuhkan strategi. Serangkaian ujian atau tes untuk mencari karyawan yang hebat perlu dilakukan.

Pertama, tes wawasan umum. Untuk mendapatkan karyawan yang cerdas dan memiliki wawasan luas harus dilakukan tes wawasan umum. Seberapa dalam seorang calom karyawan mampu menjawab pertanyaan pertanyaan umum. Jangan sampai seorang karyawan katak dalam tempurung. Plonga-plongo ketika diajak bicara yang ada kaitannya dengan wawasan umum. Maka dengan ujian ini akan mengetahui sekualitas apa pengetahuan umum si calon karyawan.

Kedua, tes wawasan khusus. Tes ini untuk mengetes secara ilmu pengetahuan calon karyawan. Wawasan khusus yang berkait dengan bidang pelerjaannya. Jangan sampai ibarat kata seseorang melamar pekerjaan sebagai teknisi barang-barang elektronik tetapi tidak paham tentang alat-alat elektronik. Demikian pula seorang yang melamar sebagai teknisi jaringan komputer. Harus tidak buta terhadap barang-barang yang berkait dengan jaringan. Dia harus lanyah dan lihai untuk menjelaskan ketika ditanya.

Ketiga, tes keterampilan. Tesini sangat diperlukan karena untuk menguji calon karyawan akan keterampilan yang berkait dengan tugas atau tanggung jawab yang akan diembannya. Skil atau keterampilan ini betapa pentingnya. Karena performa Lembaga atau institusi akan tampak dari keterampilan yang dikuasaio oleh seoarang karyawan. Jika keterampilan seorang karyawan under standar, maka pasti akan banyak mengecewakan konsumen. Dampaknya akan banyak complain-komplain yang dapat berakibat fatal kepada Lembaga. Maka tes ini tidak boleh diremehkan. Harus dilakukan tes secara sempurna atau detail. 

Keempat, tesunggah-ungguh. Diera yang serba berkemajuan ini, tampaknya menyurutkan juga unggah-ungguh seseorang. Ketika mengingat zaman dahulu era tahun 70 an dan 80 an, seorang siswa akan berlomba-lomba untuk membawakan sepeda atau tas sang guru. Bagaimana pula anak-anakjamandulu juga akan menundukkan atau membungkukkan badan ketika melewati orang tua. Sopansantun juga terjadi ketika sedang bercakap dengan orang yang lebihtua. Sopan dan santun. Bahkan ketika ada orang yang lebihtua, dan seseorang sedang naik sepeda maka secara otomatis sepeda akan dituntun. Itulah unggah-ungguh yang kianluntur. Nah saat mencari karyawan, etika ini harus tetap diperhatikan

Kelimat tes wawancara. Yang terakhir adalah lakukan wawancara secara mendam dengan calon seorang karyawan. Ditahapan inilah kita akan betul-betul mencermati siapa calon karyawan yang akan diwawancara. Karena dari tes wawancara ini semua akan bisa diterka. Tentu petugas yang mwewawancarai harus dipilih orang yang memiliki ilmu wawancara. Jangan hanya sembarangan. Karena tahapan ini adalaha tahapan menentukan.

Semoga dengan kehati-hatian dan proses rekruitmen yang ideal akan mendapatkan seorang karyawan yang bisa berperilaku berlebih. Tidak hanya mengerjakan tugas yang menjadi tanggung-jawabnya, namun juga mendapatkan karyawan yang dapat mengerjakan pekerjaan diluar tanggung jawab resminya. Kalau didapatkan seorang karyawan yang erperilaku OCB di zaman ini maka akan menjadi oase di tengah zaman yang milenial ini. (Dr Akhir Lusono SSn MM bekerja di BBPLMPV Seni dan Budaya Yogyakarta).

 

 


share on: