Yogyapos.com (CIREBON) - Tak terasa sudah 25 tahun lamanya para siswa-siswi MI Alwathoniyah Panggang Sari angkatan 1985/1986 tidak melihat wajah satu sama lain. Awalnya hanya sebuah ide kecil yang muncul dari grup obrolan daring, kini menjadi kenyataan yang menghangatkan hati: momen reuni yang bukan hanya menyatukan tubuh, melainkan juga menyambung kembali benang kasih yang pernah terjalin di masa kecil.
BACA JUGA: Wacana Sekolah Daring, Gus Hilmy: Jangan Jadikan Pendidikan Korban Kebijakan Energi
Perjalanan panjang bukan menjadi penghalang bagi para alumni untuk hadir. Beberapa di antaranya bahkan harus menempuh perjalanan jauh dari Bangka Belitung, Yogyakarta, Jakarta, dan Banten hanya untuk bertemu dengan teman-teman masa kecilnya.
"Kita sudah lama tidak bertemu, bahkan ada yang sudah tidak dikenali wajahnya karena perubahan fisik. Tapi begitu mulai berbincang, suasana seperti kembali ke masa sekolah dulu – sama saja, tidak ada jarak," ujar Samsuri Fadloli salah satu alumni yang datang dari Yogyakarta.
BACA JUGA: Lurah Condongcatur Sediakan 1.000 Mangkuk Bakso, Open House Gayeng
Rencana reuni ini sudah dirancang sejak beberapa bulan yang lalu, dengan komunikasi intens melalui berbagai platform digital. Setiap detail dipikirkan dengan cermat, mulai dari tempat yang penuh kenangan hingga acara yang bisa mengingatkan mereka pada masa-masa di MI Alwathoniyah.
Tempat reuni yang dipilih di salah satu rumah alumni di Desa Panggang Sari bukan tanpa alasan. Tempat ini dianggap sebagai tempat yang cukup luas dan memberikan nuansa kedekatan seperti berkumpul di rumah sendiri.
BACA JUGA: Muhammadiyah Padeyan Gelar Shalat Idul Fitri di XT Square, Diikuti Ribuan Jamaah
Selama acara berlangsung, suasana dipenuhi dengan cerita-cerita yang membuat semua orang tertawa dan terkadang sedikit haru. Ada cerita tentang kejadian lucu saat mengikuti ujian, kenangan tentang gurunya yang selalu penuh kasih, hingga momen-momen kecil yang dulu dianggap biasa tapi kini terasa sangat berharga.
"Saat kita cerita tentang bagaimana dulu kita sering berbagi makanan saat istirahat, atau saling membantu belajar untuk ujian, rasanya waktu seolah berhenti. Seolah kita masih anak-anak kecil yang bermain di halaman sekolah," jelas Lutfiyah salah satu peserta.
BACA JUGA: Bupati Sleman Open House, Seluruh Kue yang Disajikan Produk UMKM
Reuni Sebagai Sumber Semangat Hidup
Bagi para alumni, reuni ini bukan hanya sekadar acara kumpul-kumpul. Lebih dari itu, ia menjadi wadah untuk berbagi cerita kehidupan – baik suka maupun duka – serta saling memberikan dukungan dan motivasi.
Banyak yang mengakui bahwa bertemu dengan teman-teman lama membuat mereka merasa lebih muda dan mendapatkan semangat baru dalam menghadapi hari-hari mendatang. Ikatan persaudaraan yang terjalin kembali membuktikan bahwa meskipun hidup membawa mereka ke jalur yang berbeda, hubungan yang dibangun di masa kecil tetap menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
BACA JUGA: Wujudkan Mudik Lebih Tenang, Adira Finance Kembali Hadirkan Program KURMA 2026
"Reuni seperti ini membuat kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam menjalani hidup. Ada teman-teman yang selalu siap memberikan dukungan, meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu," tambah Edi Rohman seorang alumni dari Bangka Belitung, yang diamini Labib, Marjuki, Nurlaelah, Masyitoh dan Sutikah
Di akhir acara, para alumni sepakat untuk tidak lagi menunggu 25 tahun untuk bertemu kembali. Mereka membuat perjanjian untuk mengadakan pertemuan secara berkala, baik dalam skala kecil maupun besar, agar ikatan persaudaraan ini tetap terjaga dan semakin kuat.
Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga berencana untuk mengadakan kegiatan positif bersama, seperti mengunjungi almamater yang dicintainya. (Samsuri)
