RM SINARBIYATNUJANAT SE adalah sosok yang sabar dan menghargai sebuah proses. Butuh waktu lima tahun bagi politisi Gerindra ini untuk mendulang suara konstituen. Hal ini berkaca pada Pileg 2014 yang gagal. Tidak mendapatkan suara signifikan. Namun ia tak patah arang. Konsisten, tampil bersahaja dan hasilnya gemilang menggaet konstituen.
Berdasarkan rekapitulasi KPU DIY pada Pileg 2019 lalu, ayah dua putri ini sanggup mendulang 8.571 suara dari dapil Kota Yogyakarta. Dan dipastikan dapat jatah kursi DPRD Propinsi DIY. Lumbung suara mayoritas berasal dari Kecamatan Mergangsan, Kraton dan Mantrijeron.
Menurut istri dari Wiwin Fitriana, ini adalah buah dari kerja keras semua pihak yang telah bergerak optimal. Dari lingkup keluarga, warga sekitar, konstituen, jaringan saudara, teman, kolega dan relasi. Politik itu kerja jaringan. Harus konsisten dan berani membuat terobosan baru.
“Selama masa kampanye, saya menanamkan kepercayaan dan menjalin komunikasi intensif terhadap konstituen. Memang tak ada yang mudah di politik. Semua serba dinamis. Para caleg pun dituntut harus melakukan gebrakan program dan perubahan untuk masyarakat. Dalam perspektif saya, keberhasilan seorang caleg ada dua kunci: Pertama, faktor partai politik. Yang kedua, faktor sosok alias figur. Ketika dua faktor itu sudah ada, kita tinggal ‘memanaskan’ mesin relawan yang kita punya. Semua harus terkait,” jelas Sinar kepada Yogyapos.com, Minggu (26/5) sore di teras belakang rumahnya, Jalan Pugeran Timur 46 Yogyakarta.
Visi-Misi yang ditawarkan Wakil Ketua 1 DPD Gerindra DIY Bidang Kaderisasi ini adalah membenahi sektor kesehatan dan pendidikan yang perlu dikaji ulang. Serta memajukan lini UMKM dan wisata yang butuh pendampingan dari berbagai stakeholder.
Dari hasil blusukannya ke 14 kecamatan di kota Yogya, mayoritas masyarakat mengeluh soal pendidikan dan kesehatan yang seakan belum menyentuh warga miskin secara langsung. Sedangkan untuk sektor wisata harus dibangun kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang terampil. Yogya sebagai kota wisata harus diimbangi dengan soft skill sumber daya manusianya.
“Pokdarwis-pokdarwis yang sudah ada kita perkuat lagi dengan memberi workshop dan pendampingan. Sementara pada lini UMKM, harus ada kontribusi kreatif dari semua kalangan. Mulai dari pemerintah, produsen, konsumen, dan pasar harus saling berkorelasi. Bersinergi untuk menciptakan iklim UMKM yang kondusif,” tandas Sinar yang memang seorang pelaku UMKM lewat kerajinan batiknya dan mengusung tagline ‘Konsisten Untuk Jogja’ dalam setiap kampanyenya. (Fadholy)
