Yogyapos.com (SLEMAN) - Bicara tentang bambu, tidak bisa dilepaskan dari nama Rosse Bambu. Tempat ini merupakan sekolah bambu dan lokasi produksi sekaligus showroom, terletak di Dusun entan RT 05 RW 19 Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman.
Sekolah pengrajin bambu ini didirikan pada tahun 2009. Bermula dari banyaknya pengrajin lincak (kursi panjang dari bambu) yang ada di wilayah Tegal Bulu, Kalurahan Margomulyo dan Tegal Gentan Kalurahan Margoagung, Seyegan.
BACA JUGA: Syahganda Nainggolan: Prabowo Berpeluang Jadi Pemimpin Dunia
Terbersit keinginan dari sosok yang bernama Marzuni untuk berkreasi menciptakan produk furniture dari bambu. Mulailah mengajak kelompok pengrajin bambu yang ada di sekitar untuk mengembangkan produknya, sebagai upaya untuk menaikkan nilai jual bambu.
Marzuni, Owner Rosse Bambu || YP-Eko Purwono
Mulailah nama Rosse Bambu sebagai tempat kreasi pegrajin bambu dikenal bukan saja di wilayahnya tapi juga di luar Sleman. Ide kreatif dari Marzuni untuk mengembangkan kerajinan bambu mendapat tanggapan positif dari warga sekitar.
BACA JUGA: Ini Amanat Sjafrie Samsoeddin pada Pembukaan Diklatsarmil 2025
Bak gayung bersambut, banyak anak muda yang tertarik untuk berkreasi dengan bambu, mulai bentuk sofa, meja kursi, tempat tidur, pembatas ruangan adalah furniture yang siap diproduksi. Basic pengrajin yang sudah dimiliki menjadi modal dalam mengembangkan jenis produk.
Mulailah Rosse Bambu beroperasional dan memperkenalkan produk-produk funiturnya. Rosse Bambu pun masuk dalam Komunitas Pengrajin Bambu Sleman. Mereka aktif mengikuti bimtek maupun pameran-pameran yang difasilitasi oleh Pemkab Sleman.
BACA JUGA: SSB Baturetno Siap Raih Prestasi di Barati Cup Surabaya
Seiring dengan berjalannya waktu, masalah baru muncul yaitu dengan semakin menipisnya bahan baku bambu. Inilah yang menginspirasi Marzuni dan kawan-kawan untuk mendirikan sekolah bambu. "Bambu tidak sekadar ditebang untuk diolah menjadi barang jadi, tapi bagaimana meremajakan tanaman bambu sehingga tidak kesulitan mencari bahan baku. Dengan demikian dapat menawarkan kegiatan budidaya bambu. Dari mulai metode pisah bonggol, stek batang dan stek cabang," kata Marzuni, Senin (14/4/2025).

Adapun bambu yang digunakan adalah bambu apus, wulung/hitam, petung, legi dan tutul. Dari sekian jenis bambu, yang sering digunakan adalah bambu apus. Selama ini, bahan baku bambu didatangkan dari Magelang , Cangkringan dan Moyudan.
BACA JUGA: Korban Ombak Parangtritis Asal Banjarnegara Berhasil Ditemukan
Rosse Bambu menjelma menjadi sekolah bambu dengan sistem pengelolaan bambu dari hulu ke hilir. Dari budidaya sampai produk jadi. Ruang workshop telah dibangun. Menara pengawetan didirikan. Rumah oven disiapkan. Rosse bambu menjadi sekolah pembibitan bambu, sekolah pengawetan bambu sekaligus sekolah produksi.
BACA JUGA: BTN Gunung Merapi Tegas, 19 Pendaki Ilegal Diamankan
Merupakan kelebihan tersendiri dari Rosse Bambu yang sering didatangi pengrajin bambu dari luar kota untuk studi tiru dan mahasiswa yang mengadakan penelitian tentang produk dan teknologi kerajinan bambu.
Tidak kurang dari mahasiswa UII, Sekolah Vokasi UGM, Fakultas Teknik UGM, Undip dan Design Produk ISI pernah melakukan kegiatan di Rosse Bambu.
BACA JUGA: 149 Siswa Ikuti Seleksi Calon Paskibraka Sleman
Kedatangan mahasiswa tersebut menjadi keuntungan tersendiri. Mahasiswa yang datang sering menyumbangkan ide-ide baru berkenaan dengan desain produk seperti yang dilakukan oleh mahasiswa UKDW Yogyakarta.
Dalam perkembangannya, Rosse bambu juga berusaha mempunyai trademark sebagai pengrajin bambu. Diversfikasi produk berupa laminasi adalah ikon yang dibangun untuk keperluan itu. Adapun alat rekayasa untuk laminasi dibuat dengan kerjasama antara Rosse Bambu dengan Fakultas Teknik Mesin UII.
BACA JUGA: Nah! Ketua PN Jaksel, Oknum Advokat dan Panitera Ditangkap Tim Kejagung
Rosse Bambu menjadi satu-satunya sentra pengrajin bambu yang menggunakan teknik laminasi untuk produknya. Suatu bentuk inovasi dalam menyiapkan bahan baku bambu yang sudah dilaminasi.
Sebagai pemain lama, Rosse Bambu juga mengalami masa tersulit. Ketika wabah Covid-19 melanda, pasar produk bambu pun terdampak. Sampai sekarang diakui oleh Marzuni, pasar belum pulih pasca terpaan Covid. Omset yang dulunya pernah mencapai 250 juta/bulan, sekarang turun hingga 60 juta/bulan. Tenaga kerja yang dulunya 9 orang sekarang bertahan 5 orang.

Pendeknya, Marzuni berharap untuk kerajinan bambu ini, pasar baru perlu dibuka. Berkaitan dengan permodalan perlu adanya tata niaga bambu dan keberadaan showroom yang memadai.
BACA JUGA: Kejati Bidik Dugaan Penyelewengan Pengadaan Bandwith Internet Sleman
Ditengah merebaknya furniture dari bahan kayu maupun besi ternyata bambu masih mempunyai daya tarik sendiri. Furniture bambu masih disukai. Bahan baku yang mudah didapat, produk dengan karya seni yang natural adalah beberapa alasan orang tetap melirik furniture bambu.
Seringkali Rosse Bambu mendapat pesanan dari luar negeri dengan sampel produk yang sudah jadi. Artinya furniture atau pun hasil kreasi seni dari bambu masih digemari dan dicari.
BACA JUGA: Wagub DIY Apresiasi Peran Aktif Perisai Diri
Pemkab Sleman pun memfasilitasi pengrajin bambu untuk mengembangkan kreativitas produknya dengan memberikan fasilitas pameran dan mendirikan sentra sentra kerajinan bambu. Bambu memang ikonik, kerajinan khas yang banyak diburu itu dikarenakan bambu memang eksotik. (Penulis: Sutarto Agus Raharjo, anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Seyegan)
