Yogyapos.com (SLEMAN) - Sokola Institute mengelar diskusi buku ‘Melawan Setan Bermata Runcing’ karya Butet Manurung dkk, di Warung Mojok (WarMo) Jalan Kapten Haryadi 110, Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa (4/2/2020) malam.
Tentang 'Setan Bermata Runcing' adalah ungkapan Orang Rimba untuk menyebut pensil atau pena. Pada awal datang ke pedalaman Jambi, yakni saat pertama kali melakukan pendampingan terhadap anak-anak, ada ketakutan dari anak-anak ketika pengarang mengeluarkan pena atau pensil. Rupanya, pensil memang benda asing bagi Orang Rimba yang tidak mengenal budaya baca tulis. Pensil dianggap sebagai setan.
“Ya saat saya mengeluarkan pensil, mereka pun kabur melarikan diri seraya berseru masukkan setan runcing ke dalam tas. Ketakutan Anak Rimba itu karena mereka memiliki anggapan bahwa orang-orang dari luar memanfaatkan kemampuan membaca dan menulis untuk
menguasai hutan mereka,” ungkap Butet mengawali diskusi tentang kisah pembelajaran baca tulis Orang Rimba dan kisah-kisah pembelajaran di daerah lainnya.
Manajer Sokola Institute, Aditya Dipta mengatakan kegiatan ini merupakan rangkaian safari diskusi “Melawan Setan Bermata Runcing” yang diselenggarakan di beberapa kota. Sebelumnya diskusi di Bandung pada 1 Februari, dan di Semarang tanggal 3 Februari.
Setelah ini, rombongan Tim Sokola akan bersiap melucur ke Jember (7 Februari), Gianyar-Bali (12 Februari) dan terakhir di Mataram (14 Februari).
“Buku yang didiskusikan merupakan pengalaman aktivitas belajar para guru dan murid Sokola di berbagai wilayah-wilayah terpencil di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu Butet Manurung selaku pendiri Sokola Institute saat dihubungi yogyapos.com, mengatakan buku tersebut merupakan perjalanan impian. Sejak buku pertama saya (Sokola Rimba, 2007), saya dan teman-teman Sokola memiliki mimpiuntuk book tour-tur bukuseperti ini, keliling Indonesia, saling diskusi dengan banyak orang.
Ia bersyukur, setelah 13 tahun berselang kegiatan safari buku dapat terlaksana walau sempat gemetar saat melangkahkan kaki menuju pintu pesawat dari Australia (Butet saat ini tinggal di Canbera- red) menuju Jakarta.
“Saya terbang khusus untuk perjalanan 17 hari tour buku ini. Buat kami perjalanan ini bukan sekadar safari buku. Ini adalah perayaan persaudaraan panjang kami; perjalanan sekaligus serombongan, sepanjang jalan saling bercanda satu sama lain, dan menikmati kuliner makanan di kota-kota yang kami lalui,” ungkap Butet
Harus Membumi
Diskusi malam tadi juga menghadirkan para penulis lainnya, yakni Aditya Dipta Anindita, Fadilla M. Apristawijaya, Fawaz Al Batawy, Dodi Rokhdian, dan SalehAbdulah.
Aditya mengatakan, dalam pendampingan pendidikan anak-anak Orang Rimba, relawan harus live in, membumi, dan partisipatif selalu membuka dialog dengan komunitas. Sehingga program yang dilakukan adalah hasil dari dialog yang dilakukan dengan komunitas, dengan demikian akan tahu apa yang paling mereka butuhkan.
Menurutnya, tidak semua bantuan yang diberikan, termasuk dari pemerintah, benar-benar mereka dibutuhkan Orang Rimba untuk kehidupannya. Salah satu contoh adalah pernah ada bantuan diberikan kepada Suku Anak Dalam berupa mainan untuk anak-anak, semacam wahana memanjat tali atau sejenisnya. Ini permisalan bantuan tidak kontekstual, tidak tepat sasaran.
“Anak-anak di sana tidak butuh itu, mereka sudah mahir memanjat. Bahkan, sampai memanjat dan bergelantungan di pohon yang sangat tinggi," katanya.
Cerita lainnya juga disampaikan oleh Dodi Rokhdian tentang pengalamannya sebagai relawan di pedalaman Gorontalo Sulawesi. Salah satu program Sokola di sana yaitu pembelajaran baca tulis di Rumah Baca Sokola dan kebetulan berdekatan dengan SD (Sekolah Dasar). Anak-anak di sana lebih bisa menerima dan bergabung ikut belajar di Rumah Baca daripada datang ke SD. Awalnya kehadiran Sokola di sana dianggap sebagai penyebab anak-anak tidak mau sekolah di SD, sehingga guru SD-nya ‘melabrak’ relawan Sokola. Setelah dilakukan rembuk bersama untuk mencari penyebabnya, tenyata sebab utama anak-anak tidak mau ke SD adalah karena harus berseragam merah putih. Pakaian merah adalah pakaian yang tabu dipakai oleh warga di sana. Ya, tentu anak-anak lebih nyaman di Ruma Baca Sokola sebab membolehkan pakaian bebas, dan tidak ada konsep baju seragam.
“Kebiasaan berpakaian warga setempat memakai pakaian cenderung gelap--bersahaja dan lebih menyatu dengan alam, para orangtua di sana bilang bahwa warna merah itu dibenci oleh makhluk halus yang membuat para makhluk tidak kasat mata itu marah kepada pemakai pakaian warna merah. Biasanya, siapapun yang bepergian memakai pakaian warna merah setelah pulang ke rumah akan merasakan pusing dan muntah-muntah, hinggamimpi buruk berhari-hari. Artinya apa? Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa pendidikan mesti harus sesuai konteks masyarakatnya, pendidikan tidak bisa diseragamkan di semua daerah,” papar Dodi.
Sedangkan Fadilla M. Apristawijaya menyampaikan konsep metodologi pendidikan Sokola yang partisipatif dan sesuai konteks tempatan. Pasalnya, di komunitas-komunitas pedalaman di Indonesia, membaca dan menulis adalah suatu budaya baru dan sangat asing. Sehingga diperlukan suatu kondisioning bersama komunitas dalam jangka watu lama guna menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat.
Praktiknya, dalam proses pembelajaran, guru dan murid saling belajar, semuanya harus berlangsung dialogis, saling bertukar pengetahuan. Sehingga model pembelajaraan di setiap komunitas akan berbeda. Inilah yang menjadi prinsip pokok, pendekatan pendidikan yang ramah budaya dan kontekstual.”
Bersama Aktor-aktor Lokal
Pembicara lainnya, Fawaz Al Batawy, menyampaikan cerita program Sokola di Jember notabene wilayah yang cukup tinggi angka buta hurufnya. Dalam hal ini, Sokola menyelenggarakan program baca-tulis di daerah pegunungan Sumber Candik, Jelbuk, Jember. Banyak warga di sana yang bisa baca-tulis huruf Latin, namun mereka membaca bahasa Arab, lihai membaca Al Qur’an. “Dalam perkembangan program, kami bermitra dengan aktor-aktor lokal di sana. Kami mengorganisir warga yang pintar baca huruf Arab untuk belajar huruf lain Latin, dengan sentilan bahwa agar tidak dibodohi orang luar, huruf Latin perlu dipelajari. Kami menyebutnya Kader Sokola. Ada 10 kader Sokola di sana, bahkan 7 diantaranya hafizd-hafal Al Qur’an,” kenangnya.
Pembicara terakhir Saleh Abdullah, mendedahkan isi buku melalu epilog buku “Melawan Setan Bermata Runcing” yang ditulis Don K. Marut, mempersoalkan secara mendasar tentang apa itu pendidikan “buta huruf” dan “melek huruf.” Apakah yang dimaksud pendidikan “buta huruf” itu hanya memperkenalkan siswa huruf-huruf alfabet sehingga akhirnya siswa bisa membaca saja, atau juga termasuk memahami teks yang dibacanya dan lalu mengambil pengertian dari teks tersebut, mempraktikkannya, dan kemudian memecahkan persoalan yang dihadapinya.
Bukankah para koruptor itu adalah orang-orang yang sangat melek huruf? Bahkan para politisi yang membuat regulasi itu adalah orang-orang yang sangat melek huruf. Tapi lalu mengapa mereka, seperti amuba, merusak aturan-aturan yang mereka buat sendiri dengan melakukan kejahatan korupsi? Mereka yang “buta kesadaran” atau “buta kemanusiaan” adalah para melek huruf itu. Sementara mereka yang buta huruf atau buta aksara, tak punya akses, sering dikorbankan dalam kebijakan pembangunan, malah dianggap terbelakang.
Kenapa para intelek melek huruf ini justeru merusak kehidupan dan diri mereka sendiri? Gagal totalkah pendidikan bagi mereka? Dalam epilog buku, Don Marut membagi konsep literasi menjadi 3 model: Literasi fungsional; Literasi liberal; Literasi kritis. Yang pertama dan kedua memperkenalkan anak didik untuk bisa menerapkan pengetahuan baca-tulis-hitungnya (calistung) dalam kehidupan dan berinteraksi secara lebih luas. Sementara Literasi kritis tidak hanya mendidik manusia untuk mengenal kata (word) tapi juga mengenal dunia (world) yang di dalamnya terdapat relasi-relasi tentang keadilan dan ketidakadilan.” Pungkas Saleh
Diskusi berlangsung ramai, hampir tidak ruang tersisa di Warung Mojok saking banyaknya pengunjung yang datang. Acara yang dimulai sejak 19.30 WIB tersebut berakhir pada pukul 22.30 WIB. Usai acara, sebagian peserta diskusi masih bertahan di tempat, melanjutkan mengobrol santai dengan para pemateri hingga larut malam. (Markaban Anwar)
