Sahun, Juragan 'Mbako Tali Abang' dari Watulawang

share on:
Sahun, bangga dengan Mbako Tali Abang produksinya YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KEBUMEN) - Tak banyak bicara tetapi tekun menggeluti anugerah Illahi. Kerasnya batu bukan halangan untuk maju, karena Tuhan telah menyediakan berkah jika manusia mau melangkah. Dan hadiah untuk sebuah ketekunan adalah anugerah yang tak bisa diduakan.

Sahun. Lelaki 41 tahun suami Santi Ida Lestari itu tak pernah membayangkan bahwa usahanya menanam tembakau diantara bebatuan purba di kawasan Desa wisata Watulawang (Dewa Walang) Pejagoan Kebumen bakal menjadi trade mark yang sulit ditiru dan ditandingi. Sepetak tanah sawah yang berada diantara sisa letusan gunung api purba itu menjadi modalnya untuk menghidupi keluarga dengan dua anak. Bahkan, dia tak menyangka bahwa kesabaran dan keikhlasannya menapaki jalan hidup membuka pintu rezeki bagi banyak orang.

“Saya tidak membuka lapangan kerja dalam produksi tembakau. Tetapi jika ada yang terketuk hatinya lalu sadar ingin bergabung, kami terima. Semua dengan seleksi alam. Jika yang bekerja dengan tulus ikhlas dan sabar mengolah tanah diantara bebatuan, mereka akan bertahan. Tembakau yang ditanam pun akan nikmat dirasakan,” katanya dalam bahasa Jawa kulonan kepada yogyapos.com selepas kirab budaya Palakiyah.

Mbako Tali Abang. Begitu branding yang dia sematkan kepada tembakau yang dia produksi. Kelihatannya mudah ditiru. Tembakau banyak ditemukan dan bisa ditanam. Tali bambu diwarnai merah juga siapapun bisa membuat. Tetapi kenapa para pelanggan bisa membedakan tembakau Sahun dengan yang lain meski berpenampilan serupa.

Bisa jadi area persawahan Watulawang memang memiliki unsur hara yang berbeda. Terbayangkah menanam tembakau di atas bebatuan yang diberi timbunan tanah. Hanya manusia yang mampu bersenyawa dengan semesta yang mampu melakukannya. Dia tidak berusaha menaklukkan batu atau tanah, tetapi justru menjadikannya sahabat kehidupan. Juga bagaimana dia dan beberapa anak muda yang dengan kasih sayang memperlakukan tembakau. Untuk bisa menyirami tembakau perlu kerja keras. Mata air jauh dan lanskap pegunungan jelas ujian tersendiri. Tetapi Sahun dan beberapa anak muda telah lulus ujian mental kehidupan.

Srintil, tembakau yang juga tulak balak YP-Wahjudi Djaja

Tembakau Sahun dari Watulawang yang memiliki taste yang tinggi, jelas memiliki keunikan dalam perawatan dan penanganan. Sebagai ”manusia gunung” Sahun paham betul dengan makna spiritual. Aroma agraris yang menusuk dari tembakaunya konon lahir dari cara dia memperlalukan Srintil, mbako kewahyon, tembakau yang terpilih, biasanya ada tanda sinar jatuh ke kebun tembakau. Sahun kemudian seperti dituntun untuk mencari dan menemukannya. Srintil memiliki wujud yang berbeda dari daun tembakau lainnya, daunnya albino dan tidak setiap panen ada. Srintil ini dianggap sebagai tolak balak sehingga selalu digantung.

Setelah dipetik (ngrampas mbako), daun tembakau ditata dan digulung di anyaman daun kelapa kemudian dibawa ke gudang, didiamkan agar layu (alum). Kemudian dirajang dan dikemas dengan tali abang.

“Salah satu keunikan mbako tali abang ini adalah harus dijemur sepanjang malam agar terkena embun. Namanya ngembun sata. Semakin lengket daun tembakau semakin tinggi candunya. Setelah siang berikutnya, barulah tembakau dipulung untuk dikemas dengan tali abang dan disimpan,” kata budayawan muda Kebumen Ravie Ananda.

Laku hidup Sahun adalah potret agraris yang tak mudah mengeluh dengan kesulitan zaman. Dia hidup dengan naluri dan nuraninya. Tembakau dia ibaratkan keluarga sendiri yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Tak aneh, Mbako Tali Abang produksi Sahun mampu menduduki papan atas dalam jajaran aroma agraris. (Iud)

 

 

 


share on: