STIGMA yang berkembang di masyarakat jika tarot sangat identik dengan ahli nujum, peramal, bahkan bernuansa mistis. Memang tak dapat dipungkiri, mayoritas orang yang memiliki keahlian membaca tarot (tarot reader) memiliki naluri indigo. Tapi ada juga yang mempelajari ilmu tarot dari nol.
Di sudut lounge Ayaartta Hotel, Selasa (8/1) sore, yogyapos.com mencoba berbincang dengan Shantidevi Sanliana Putri, wanita asal Parakan Temanggung yang telah menekuni dunia tarot selama 3 tahun. Sosoknya jauh dari kesan angker. Cantik, modis dan ramah. Wanita yang akrab disapa Sansan ini ingin meluruskan stigma tentang tarot. Baginya, tarot bisa dipelajari siapapun. Dalam tumpukan kartu tarot ada energi yang dipancarkan. Sugesti positif, motivasi hidup hingga membantu trauma healing. Berikut perbincangan selengkapnya:
Kenapa tertarik mempelajari tarot?
Dulu awalnya melihat orang membaca tarot, kok kayaknya keren nih. Bisa memprediksi sesuatu yang akan dilewati manusia. Belajar dari nol, lama-lama ketagihan. Hobi ini pun bisa jadi profesi yang menjanjikan jika kita menggelutinya secara tekun dan fokus.
Apakah Mbak Sansan memiliki naluri indigo?
Pada dasarnya setiap manusia punya sisi indigo. Cuma kita yang nggak paham bagaimana mengolahnya secara proporsional. Dari perspektif saya, tarot itu mengandung banyak unsur keilmuan. Ada aspek vision, kepekaan insting yang kuat, sisi psikologis hingga mengatur emosi.
Gambar dalam set kartu tarot di tiap Negara berbeda atau sama?
Pada garis besarnya sama, namun ada yang telah dimodifikasi. Tetapi tidak menghilangkan esensi sebuah kartu tarot. Dalam satu dek kartu tarot ada 78 lembar. Yang terdiri 22 kartu arcana mayor dan 56 kartu arcana minor. Ini untuk membaca situasi, kondisi dan keadaan jalur hidup seseorang.
Tarot sendiri itu berasal dari mana?
Ada sejumlah literasi yang menyebut jika tarot berasal dari peradaban Mesir kuno. Ada juga yang mengatakan dari bahasa Arab (Tarekat). Namun versi yang rasional yang diterima publik, jika tarot berasal dari Italia. Dari kata Tarrochi. Kartu tarot terdiri 4 suit. Ada eleman Wands (api), Cups (air), Pentacles (bumi) dan Sword (udara).
Mayoritas klien Anda dari kalangan mana, dan sektor apa yang sering ditanyakan?
Untuk klien beragam. Ada kalangan pelajar, mahasiswa, profesional muda hingga lansia. Mayoritas yang mereka tanyakan terkait soal asmara dan karir (bisnis)
Relevansi yang terjadi antara prediksi Anda dengan fakta yang terjadi mengukurnya bagaimana?
Saya belum pernah mengkaji secara detail soal keterkaitan tersebut. Namun banyak juga beberapa klien yang melakukan repeat konsultasi, lantaran pada bacaan awal jalur hidupnya sesuai dengan bacaan pada tarot. Pada intinya, tarot adalah sebuah medium yang berfungsi menjembatani alam bawah sadar antara pembaca dengan klien yang dibaca, yang bersifat simbolik.
Banyak yang berujar jika tarot ada unsur mistis dan klenik. Tanggapan Mbak Sansan bagaimana?
Tidak ada itu unsur mistis bin klenik. Tarot adalah sebuah kartu yang berasal dari karton dengan cetakan gambar. Saya ingin meluruskan stigma itu.
Peramal dan paranormal dari sudut pandang Anda?
Peramal itu meramal masa depan seseorang dan mencarikan solusinya. Ambil contoh simpel, jika kita punya masalah dan datang ke peramal, si peramal itu pasti bisa memberikan solusi. Bukan malah masalah kita tambah runyam. Kalau paranormal biasanya berhubungan dengan ritual gaib dan mistis.
Tahun 2020 sudah berjalan dan dalam almanak Tahun Baru Imlek, kita masuk pada tahun shio Tikus Logam. Mungkin ada terawangan soal kondisi Negara kita?
Dari duabelas kartu yang saya baca, Indonesia mengalami fase jibaku (kerja keras) pada semester awal. Namun pada endingnya oke kok. Saya juga membaca ada gambar timbangan disitu. Ini menggambarkan soal keadilan dan hukum. Bisa jadi pada tahun 2020 ini porsi pada lini hukum dan keadilan lebih besar ketimbang aspek lain.
Tahun 2020 juga ada agenda Pilkada yang diadakan di Bantul, Sleman dan Gunungkidul. Situasi yang akan terjadi bagaimana?
Adem-ayem kayaknya sih. Tidak ada konflik yang berlebihan. Semua bisa dirundingkan. Disini muncul gambar uang, kekuasaan dan ksatria. Persis dengan alur politik yang membutuhkan logistik dan kepercayan untuk meraih kejayaan. Yang patut digarisbawahi pada konstelasi politik Pilkada di wilayah Sleman, Bantul dan Gunungkidul, adalah munculnya sosok pemimpin baru (new leadership). Entah dititik mana sosok itu akan muncul, masih belum spesifik.
Ditengah perbincangan yang semakin hangat, wanita alumnus Sanata Dharma dan ISI Yogya ini menerima sebuah telpon penting dari seorang klien yang hendak konsultasi. Otomatis obrolan kami berdurasi lebih kurang 90 menit harus disudahi dulu. (Dol)
