Yogyapos.com (BANTUL) - Bertekad ikut mencerdaskan anak-anak dan mendapatkan penghasilan, Siti Rahma Yuliati (50) wanita warga Jalan Ahmad Wahid Ngentak Pelem Rt 08 Baturetno Banguntapan Bantul, memproduksi beragam mainan edukasi anak.
Ia dengan dibantu putranya, dan putranya, Arif (25) terus memroduksi mainan-mainan tersebut melalui rumah produksi Yungki EduToys yang didirikannya.
BACA JUGA: Sinarbiyat Nujanat: MBG Punya Multi Efek Kuat bagi Perekonomian
"Kami mulai meritis pekerjaan ini sejak 2010. Meski usaha kami mengalami pasang surut namun secara umum tetap eksis dan jalan," kata Siti didampingi Arif saat ekspose potensi wilayah bersama Diskominfo Bantul, Senin (20/10/2025).
Siti Rahma di artshopnya || YP-Supardi
Kini produksinya sekitar 200 ragam. Diantaranya mainan menara, puzzle binatang, puzzle angka, puzzle berhitung, puzzle hijaiyah, geometri dan balok bangunan. Selain itu juga balok hijaiyah, kereta angka, peluncur mobil, alur tulis serta kotak angka.
BACA JUGA: Menhan Didampingi Danrem Kunjungi Rumah Duka Prajurit yang Gugur di Papua
“Harga mainan edukasi ini paling murah per item Rp 10.000 hingga Rp 500.000. Tergantung pada jenis, ukuran dan kualitas bahan baku dan pruduknya,” selanya.
Dijelaskan, sejak sekitar 5 bulan lalu secara umum pemasaran produk relatif berkurang, namun juga tetap jalan dan mampu bertahan.
“Dengan memperkerjakan 25 orang saat masa Covid, kami mampu memproduksi dan memasarkan ratusan item mainan per hari. Keuntunganya juga lumayan. Kini berkurang, hanya sekitar 50 item per hari dengan memperkerjakan 2 orang tenaga kerja,” jelasnya.
BACA JUGA: MLSC Yogya Seri 1 2025, MI Babrurroyyan dan SD Muhammadiyah Karangploso Juara
Pada saat covid banyak sekolah dan warga yang memesan mainan jenis ini dipergunakan untuk mainan dan hiburan, serta mendidik kecerdasan anak karena saat itu mereka bisa dikatakan sedang menghadapi tekanan psikologis akibat masa Covid.
Siti menurutkan, proses pembuatan mainan-mainan tersebut cecara ringkas pertama kayu-kayu diikat dan diukur disesuaikan dengan yang diperlukan. Setelah itu dipotong sesuai dengan keinginannya. Selanjutnya dirakit dan difinishing. “Kalau sudah bisa proses pembuasnjya nampak mudah dan lancar namun perlu skill tersendiri," ungkap tandasnya.
Arif menimpali, kendala usahanya terletak pada biaya produksi, bersaing dengan mainan buatan pabrikan baik yang dari luar negeri dan dalam negeri.
BACA JUGA: Duta Genre Sleman Diharap Jadi Role Model dan Agen Perubahan
"Kami harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan baku berupa kayu dengan harga relatif tinggi. Biaya produksinya jugsla relatif tinggi karena umumnya secara manual. Sedangkan produk pabrikan dengan alat modern. Sebenarnya estetika produk kami lebih tinggi, sehingga masih laku diminati konsumen," kata Arif.
Terlepas dari itu, Arif dan Siti merasa bangga dan tetap bersemngat dalam bekerja karena dilandasi ikut mencerdasksn dan memintarkan masyatakat (anak-anak). (Spd)
