SMK Musaba Bantul Songsong New Normal dan PSB

share on:
Gedung SMK 1 Muhammadiyah Bantul || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Meski dirasa sulit dan berat serta menghadapi banyak tantangan, namun SMK Muhammadiyah 1 Bantul (Musaba) tetap akan mentaati dan melaksanakan New Normal tentang penyelenggaraan pendidikan sesuai ketentuan Pemerintah Provinsi DIY yang direncananya diberlakukan 1 Juli 2020.

"Kami kini memiliki sekitar 1.100  siswa. Mempunyai 4 unit gedung sekolah bertekad agar bisa melaksanakan New Normal secara baik dan lancar,” kata Kepala SMK Musaba, Harimawan SPd.T didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Slamet Raharjo SPd, Selasa (2/6/2020).

Menurutnya, yang memberatkan yaitu terkait dengan harus mentaati protokoler yang berlaku. Dalam peotokeler itu diantaranya harus bermasker, jaga jarak, pemeriksaan suhu kepada para siswa, guru maupun karyawan.

Sekalipun demikian, itu semua tetap akan dilaksanakan semaksimal mungkin. Untuk itu kini para guru dan karyawan serta Komite sekolah melakukan dan mengefektifkan koordinasi untuk persiapan melaksanakan New Normal.

"Dengan adanya New Normal, dimungkinkan dan dikhawatirkan kwalitas skil (keterampilan) para siswa akan berkurang. Maka untuk mengupayakan agar kwalitas tetap terjaga dan bisa dipertahankan, pihak sekolah akan mencari alternatif solusi terbaiknya. Kini yang sedang dilakukan adalah  persiapan-persiapan,” tambah Harimawan.

Dijelaskan, berbagai kemungkinan alternatif metode dan sistem belajar mengajar yang akan diterapakan diantaranya sistem modul, sift jam belajar, pengurangan jumlah tatap muka dan memperketat serta mengefektifkan pemberian tugas di rumah kepada para siswa dengan adanya panduan yang lebih baik.

Sementara itu mengenai pelaksanaan Pendaftaran Siswa Baru (PSB) Tahun  Ajaran 2020/2021 di selolah ini, Slamet menyatakan pada dasarnya akan ditempuh melalui dua jalur (sistem) yaitu online dan tatap muka langsung. Khusus untuk yang melalui tatap muka langsung. Direncanakan akan mempergunakan cara pembatasan dan penjadwalan sesuai dengan jam yang ditentukan. Misalnya untuk setiap jamnya diperuntukkan 10 siswa. Ini tujuannya agar tidak ada penumpukan jumlah pendafar dan sebagai upaya pencegahan pendemi virus Corona (Covid-19).

Apakah dengan adanya sistem belajar di rumah akibat Covid-19 memberatkakan bqgi siswa dan sekolah, Slamet membenarkan. Dengan adanya sistem itu, capaian kurikulum jadi lamban bahkan dikhawatirkan tidak memenuhi target  dibandingkan dengan sistem belajar secara normal sebagaiman biasanya.

Salah satu faktor penting yang memberatkan para siswa  dengan sistem belajar di rumah diantaranya para siswa harus menyediakan kuota untuk HP, guru wali kelas dan BP harus memonitor secara efektif terhadap perkembangan materi pelajaran dan bisa menjenuhkan. Maka apabila perlu pemerintah menyediakan kuota pulsa untuk para siswa di sekolah swasta ini. (Supardi)


share on: