Srawung Pegiat Literasi Bantul Petakan Potensi Lingkungan

share on:
Faiz Ahsoul (ketiga dari kanan) || YP/Mufti

Yogyapos.com (BANTUL) - Gerakan literasi sudah banyak dilakukan oleh sejumlah komunitas yang lahir lebih dahulu. Inovasi kegiatannya pun mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah lantas mengadopsi sejumlah hal terkait literasi sehingga kemudian muncul program seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN), Gerakan Literasi Sekolah (GLS), sampai Gerakan Literasi Masyarakat (GLM). Siapa pun punya kesempatan berpartisipasi menyukseskannya, apalagi para pegiat literasi.

Faiz Ahsoul, mengungkapkan hal tersebut dalam kegiatan ‘Srawung Pegiat Literasi’ di Pendopo Perpustakaan Daerah Bantul, Kamis (28/11/2019). Di hadapan sekitar 40 orang pegiat literasi tergabung dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) dan Perpustakaan Komunitas se-Kabupaten Bantul, Faiz mengatakan, para pegiat literasi punya peran untuk menghidupkan buku serta informasi. Baik di perpustakaan desa, pojok baca, atau pun basis literasi lainnya agar buku tidak sekadar menjadi pajangansaja.

“Yang lebih penting adalah menghidupkan potensi masyarakat setempat,” ujar Koordinator Program GelaranI boeke Sewon sekaligus anggota FTBM tingkat nasional ini.

Saatini, ungkapnya, beberapa lembaga telah menjalin kerjasama guna menghidupkan literasi masyarakat. Sejak 2018 Kementerian Desa PDTT dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikmas) Kemendikbud telah membuat kesepakatan bahwa di setiap desa minimal adasatu PAUD. Apakah itu PAUD diselenggarakan oleh pemerintah ataukah partisipasi masyarakat

“Ini satu hal penting agar pengembangan gerakan literasidi masyarakat dapat berjalan baik,” kata Faiz.

Sementara itu, imbuh Faiz, antara Kemendes PDTT, Kemendikbud, bersama Perpustakaan Nasional juga telah terjalin kerjasama dalam bentuk MOU terkait literasi. Hal itu lalu diteruskan ke tingkat provinsi kabupaten/kota bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sehingga mewarnai gerakan literasi Indonesia. Banyak lapisan masyarakat menjadi penggeraknya.

“Para pegiat literasi merupakan bagian dari masyarakat maka momen kerjasama di tingkat nasional perlu ditangkap sebaik-baiknya,”  tegasnya.

Dia mengutarakan lebih jauh, para pegiat literasi mestinya tidak sebatas melakukan transfer pengetahuan atau menyediakan bahan bacaan saja. Tidak juga sekadar mengajak anak-anak belajar, mengerjakan PR  dari sekolahnya. Tetapi harus menggali potensi dan kebutuhan anak itu sendiri.

Setiap taman baca, perpustakaan maupun komunitas literasi punya potensi masing-masing. Takada yang lebihataukurang. Apabila semua unsure ini kemudian bersatu, setidaknya masalah-masalah terkait pendidikan, pengangguran, kriminalitas, sampai ekonomi dapat berkurang. Dimana pun ada komunitas literasi pasti akan saling terkait.

“Termasuk Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), juga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),” jelasFaiz.

Terakhir, Faiz menyampaikan dari semua kegiatan literasi ini nantinya akan menghasilkan sesuatu sebagai produk pengetahuan, diantaranya data. Di era revolusi industri 4.0 menghidupkan data juga menjadi bagian dari pengembangan literasi. Karena dari data berbagai potensi lingkungan masyarakat dapat dilihat. Para pegiat literasi dapat memetakan potensi apakah yang ada di sekitar tempat tinggalnya berdasarkan data dari desa maupun kecamatan setempat.

“Ketika di desa ada kampus, sekolah, puskesmas, dan lembaga lainnya itua dalahpotensi,” pungkas aktivis literasi berdomisili di Guwosari Pajangan.

Para peserta Srawung Pegiat Literasi ini kemudian membentuk empat kelompok. Setiap kelompok memetakan potensi di lingkungannya masing-masing. Dari potensi alam, sarana prasarana, kegiatan, tokoh masyarakatnya, bahkan lembaga terkait yang berpotensi mendukung. Setelah itu setiap kelompok mempresentasikan hasilnya. Diskusi dipandu oleh Maria Tri Suhartinidari TBM Helikopter Sedayu. (Muf)

 

 

 

 

 

 


share on: