Supono, Seniman Gancahan Penjaga Ruh Kebudayaan

share on:
Supono dan Kepala Kalurahan Budaya Sidomulyo dengan aneka topeng

DARAH seni yang terlanjur mengalir dalam tubuh tak akan pernah hilang. Dia setia menunggu saat untuk bergerak dan menyembul ke permukaan meski beragam kesulitan datang menghadang. Itulah talenta yang biasa hadir dalam diri manusia hingga menjadikannya tangguh menapaki hidup dan tekun merenda karya.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-partai-ummat-lolos-verifikasi-berhak-ikut-pemilu-2024-9318

Tak ada seorang pun dapat mengira Supono akan menjadi seorang seniman. Belajar secara otodidak, sosok bersahaja yang tinggal di Dusun Gancahan VII Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, Sleman ini mendedikasikan hidupnya untuk membuat gamelan dan beragam karya seni yang langka.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-musibah-tak-halangi-watie-respati-melukis-9316

Lahir 62 tahun silam di Soragan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Pak Pono, demikian pria ini akrab disapa, mempersunting perempuan dusun Gancahan. Sepeninggal orang tua yang lama dia rawat, Pak Pono memiliki waktu luang untuk belajar seni secara mandiri. Berbekal ketekunan, cucu Kasan Pawiro, pencetus wayang wong di Desa Ngestiharjo ini, menonton dan menyimak setiap ada pentas seni tradisi. Sesampai di rumah, dia renungkan lalu pelan-pelan dipraktikkan.

Paguyuban Ngudi Laras Dusun Gancahan Sidomulyo 

Supono pernah membuat dan memimpin perkumpulan seni ketoprak. Beberapa lakon dia buat dan mainkan. Ada yang mengusik hati kecilnya. Untuk membeli gamelan tentu butuh dana yang tidak sedikit. Mulailah dia mengumpulkan bahan dari barang bekas seperti plat, drum, seng dan kayu. Nalurinya memang tajam. Satu demi satu peralatan gamelan bisa dia buat, mulai dari gong, kenong, bonang, kempul, saron hingga gendang dan gambang.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-prima-founder-gandeng-aniek-sunyahni-gelar-desa-penyanyi-di-somngbanyu-dan-petarangan-9314

“Saya membuat gamelan kalau ada bahannya, Mas. Tak mudah mencari bahan. Satu demi satu saya kumpulkan sesuai kemampuan. Setelah jadi kemudian saya sesuaikan tangga nadanya (larasnya). Alhamdulillah, kini sudah ada satu perangkat yang bisa digunakan untuk latihan warga,” jelasnya kepada yogyapos.com yang mengunjungi gladen (latihan) pada Sabtu (31/12/2022) malam.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-reuni-alumni-87-kriya-fsrd-isi-yogyakarta-diujudkan-dengan-pameran-di-tirta-kelapa-art-space-9284

Semangat pengabdian dan kemandirian Pak Pono memang luar biasa. Dari usahanya telah berdiri Paguyuban Ngudi Laras sejak 1990-an. Sekaran ia memiliki 22 penabuh gamelan (nayaga atau wiyaga) dan 10 waranggana.

Supono mengajari bermain gamelan || YP-Wahjudi Djaja

Pria bersahaja yang tekun, ikhlas dan penuh semangat mengabdi demi menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa ini sungguh patut dijadikan teladan dalam konteks keistimewaan Yogyakarta. Saat begitu banyak orang (baca seniman) mau bergerak kalau ada uang, Pak Pono justru berjibaku untuk membuat gamelan dan karya seni secara mandiri.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-nikmati-suasana-bohemian-di-djiwa-cafe--resto-9320

"Harapan saya agar kebudayaan ini diuri-uri oleh anak cucu. Ibaratnya, ini peninggalan yang adiluhung atau luhur. Jadi segala peninggalan orang tua harus dicintai dipelihara. Sebagai generasi muda, kitalah yang harus memetri,” ujarnya filosofis.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-ketuk-perhatian-pemerintah-warga-dlingo-gelar-merti-gethek-9321

Wahjudi Djaja dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) yang hadir saat latihan sangat kagum dengan dedikasi Supono. "Tanpa banyak bicara dan diketahui khalayak, Pak Pono telah menjadi teladan yang nyata. Dalam kehidupan padusunan yang sunyi, ternyata ada penjaga ruh kebudayaan yang mau bekerja dan mengabdi secara total. Yogyakarta sangat berutang budi pada Supono,” ujar Masrokhim Imam, Kepala Kalurahan Budaya Sidomulyo.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-korem-072pamungkas-gelar-coffee-morning-dan-olahraga-bersama-jurnalis-9310

Selain bisa membuat perangkat gamelan, Supono juga ahli membuat topeng dan badut yang berbahan kertas. Di dalam rumahnya, terpajang beragam model topeng seperti harimau, buaya, kancil dan berbagai badut. Tanpa banyak diketahui, Supono sering memainkan badut di Malioboro untuk mencari nafkah selain keahliannya menyembuhkan sakit dengan pijit kesehatan. (Iud)

 

 

 

 

 

 


share on: