Yogyapo.com (GUNUNGKIDUL) - Suasana Balai Padukuhan Salam I, Kalurahan Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, Senin malam (23/3/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar syawalan atau halal bihalal biasa, melainkan pertemuan hangat penuh tawa, keakraban, dan makna, saat Karangtaruna Rukun Manunggal mempertemukan warga dalam nuansa silaturahmi yang hidup dan membumi.
BACA JUGA: Wacana Sekolah Daring, Gus Hilmy: Jangan Jadikan Pendidikan Korban Kebijakan Energi
Sejak sore, warga mulai berdatangan. Tua-muda duduk di kursi, saling menyapa, dan berjabat tangan, seolah melepas rindu setelah menjalani bulan Ramadan.
Momentum Syawalan ini menjadi ruang temu yang bukan hanya seremonial, tetapi juga sarat nilai kebersamaan. Karangtaruna Rukun Manunggal berhasil menghidupkan tradisi ini menjadi lebih dekat dengan hati masyarakat. Silaturahmi ini juga dihadiri jamaah MAsjid As-Salam, komunitas pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak As-Salam.
BACA JUGA: Pembuang Bayi 'Hugel' Divonis Penjara 7 Bulan, Advokat Rizal Apresiasi Hakim
Kehadiran penceramah, Ustad H Ruslan Wijaya SPd MM, dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Girisubo, menjadi magnet tersendiri. Namun, yang membuat suasana berbeda adalah gaya penyampaiannya. Alih-alih formal dan satu arah, ia justru membangun komunikasi yang santai, segar, dan interaktif. Jamaah tak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat, tertawa, bahkan mengangguk-angguk memahami setiap pesan yang disampaikan.

Di tengah tausiah, ia menyelipkan hal-hal sederhana yang langsung terasa manfaatnya. Salah satunya ketika membahas cara mengatasi sakit “boyok” atau pinggang yang kerap dialami warga usia lanjut.
BACA JUGA: Lurah Condongcatur Sediakan 1.000 Mangkuk Bakso, Open House Gayeng
Penjelasan ringan namun aplikatif itu langsung disambut antusias, menunjukkan bahwa dakwah tak harus selalu berat untuk bisa menyentuh kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, pesan utama yang ia tekankan tetap mengakar pada nilai Syawalan: pentingnya saling memaafkan, menjaga silaturahmi, serta mendoakan dan menghormati orang tua. Ia mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia adalah kunci keberkahan hidup, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang guyub seperti di Padukuhan Salam I.
BACA JUGA: Muhammadiyah Padeyan Gelar Shalat Idul Fitri di XT Square, Diikuti Ribuan Jamaah
Menariknya, tausiah yang berlangsung hampir dua jam itu justru terasa singkat. Warga tampak betah, larut dalam suasana yang cair dan penuh kehangatan. Tidak sedikit yang berharap momen seperti ini bisa lebih sering digelar.
“Saya tidak sedang ceramah, Mas. Tapi sedang kangen-kangenan dengan warga. Kita sudah seperti saudara,” ujar H. Ruslan Wijaya kepada yogyapos.com, disambut senyum dan anggukan para jamaah.
BACA JUGA: Bupati Sleman Open House, Seluruh Kue yang Disajikan Produk UMKM
Syawalan di Salam I pun menjadi bukti, bahwa ketika dakwah dikemas dengan hati dan kedekatan, ia bukan hanya didengar—tetapi juga dirasakan.
Acara syawalan ini dimeriahkan pula dengan penampilan musisi milenial "Cahya Musica" yang dikomandani oleh Aldi Cahya (Keyboard), serta sejumlah penyanyi dengan suara emas.
BACA JUGA: Ternyata, Aku Cuma Punya Puisi
Sementara Dukuh Salam I, Lukman Saroji, mengatakan puas dengan kiprah karangtaruna padukuhan ini dan berharap anak muda bisa menggerakkan kegiatan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. (Sarwanto H Swarso)
