Yogyapos.com (BANTUL) - Kabupaten Bantul dikenal mempunyai banyak obyek wisata alam, namun Bantul juga menyimpan potensi wisata berbasis sejarah. Hampir tiap tahun selalu muncul tempat wisata baru yang dikelola masyarakat dapat dijadikan alternatif kunjungan atau liburan. Salah satunya Gunung Mijil di Dusun Gandekan, Guwosari, Pajangan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Gunung Mijil (Pokdarwis Dewi Gumi), Arif Suharson, saat ditemui yogyapos.com, Minggu (29/12/2019) mengutarakan tempat tersebut sebenarnya sudah diperkenalkan pada masyarakat sejak Oktober silam. Gunung Mijil potensi sejarahnya cukup besar. Mengingat posisinya dekat dengan Goa Selarong (markas besar Pangeran Diponegoro) maka pihaknya tanpa ragu-ragumengembangkannya.
“Waktu itu pak Wakil Bupati sempat meninjau kemari,” ujarnya.
Bukit yang diklaim sebagai petilasan Pangeran Diponegoro itu mulai ditata dan dilengkapi berbagai sarana penunjang oleh masyarakat setempat. Jalan setapak menuju puncak berwujud tangga dari batu pun telah dibuat agar pengunjung mudah mencapainya. Penyediaan sarana awalnya dilaksanakan mandiri (swadaya masyarakat) dan dikerjakan gotong royong secara bertahap.
“Kemudian kami memperoleh bantuan akses pengembangan wisata berupa bangunan senilai Rp 200 juta dari Dinas Pariwisata DIY dan karya bakti TNI senilai Rp 20 juta sehingga keadaannya jadi lebih baik,” terang Arif.
Menurut Arif, Gunung Mijil statusnya adalah Sultan Ground. Pengelolaan tanahnya harus ada izin atau kekancingan pihakKraton Yogyakarta. Dia mengaku, pengembangan Gunung Mijil sebagai tempat wisata baru telah mendapatkan izin. Masyarakat dipersilahkan mengelola area seluas kurang lebih 4200 meter persegi.
Gunung Mijil ini, papar Arif, kedepannyaakandikembangkandenganwahanapermainansemacam flying fox di sebelahtimur. Di sampingituada spot selfi, panggung festival di pintuutama, kolamrenang, serta gazebo letaknya di atas. LurahDesaGuwosarisendirisangatmendukungapa yang dilakukanmasyarakat. Apalagi pemerintah desa sedang gencar meluncurkan program ‘satu desa satu ikon wisata’.
“Ikon ‘Gunung Mijil’ nantiberada di puncak bukit menghadap ke timur. Sekarang masih dalam tahap pembangunan termasuk sarana pendukung lainnya. Harapan kami semuanya nanti memberikan dampak positif pada ekonomi masyarakat,” katanya.
Arif menuturkan, berdasar pengamatannya, pengunjung memang belum banyak. Rata-rata pengunjung didominasi oleh komunitas gowes (sepeda). Mereka mengetahui Gunung Mijil hanya berbekal informasi lisan (getok tular). Sementara publikasi resmi pengelola mengenai keberadaan tempat ini masih terbatas.
“Publikasi melalui media sosial biasanya diunggah oleh masyarakat yang pernah datang kemari,” tutur Arif.
Mengenai kaitan Gunung Mijil dengan sejarah, Arif mengungkapkan bahwa menurut Babad Diponegoro puncak Gunung Mijil ini pernah digunakan pasukan Pangeran Diponegoro untuk mengintai musuh tatkala bermarkas di Selarong. DuluKota Bantul kelihatan jelas dari puncak sehingga apabila iring-iringan tentara Belanda sedang lewat mudahdi ketahui. Ada pendopo besar tempat berisitirahat Pangeran Diponegoro ketika itu.
“Puncak bukit ini dulunya lebih tinggi sekitar 3-5 meter sedangkan kawasan perbukitannya pun lebih luas, tidak seperti sekarang,” tegasnya.
Selain tempat pengintaian, lanjut Arif, Gunung Mijil berfungsi pula sebagai benteng pertahanan terakhir sebelum tiba di Goa Selarong. Peperangan yang pernah terjadi di tempat ini melibatkan sekitar 1500 personil pasukan Diponegoro. Patung Pangeran Diponegoro menunggang kuda kemudian dipajang di sekitar jalan mendaki menuju puncak lambang peristiwa itu.
“Kami juga memiliki Bregodo Arya Selarong untuk nguri-uri perjuangan Pangeran Diponegoro. Dan dalam rangka menghidupkan sejarah masa lalu, insya Allah festival bregodo akan menjadi agenda tahunan,” ujar Arif mengakhiri.(Muf)
