DALAM dunia yang terus bergolak, burung-burung api saling memburu. Kota-kota meledak terbakar. Rumah-rumah hangus. Orang-orang bertengkar siapa yang akan menang. Di kafe, sejumlah aktivis berdebat berapa banyak yang terbunuh.
Banyak anak kehilangan orang tuanya. Seorang gadis kecil terpotong tangannya. Di tempat lain, seorang anak laki-laki remaja kehilangan matanya. Setelah melihat teman bermainnya kena ledakan bom.
Lolongan panjang bergema, menyelinap dalam kegelapan.
BACA JUGA: AMM Gondomanan Menggelar Gema Takbir Jogja di Malam Idul Fitri, 20 Maret 2026
Jutaan orang terperosok dalam kemiskinan. Tidak mampu membeli sepotong makanan, dan air minum telah tercemar. Selalu ada yang membatin, apa yang sedang terjadi?
Aku duduk sendiri, sejenak melamun, tidak tahu harus berbuat apa. Berita-berita simpang siur. Menganalisis kehebatan Amerika. Menjelaskan daya tahan Iran. Membongkar tipu muslihat Israel.
Mendorong Rusia, China, dan berbagai negara lain untuk terlibat perang. Jepang dan Korsel bingung. Korut lucu-lucuan bermain rudal di tangan anak 13 tahun.
BACA JUGA: Ini yang Disampaikan Danrem 072/Pamungkas Menjelang Pindah Tugas
Para pengamat berbicara di kursinya masing-masing. Berbicara atas nama keadilan, atas nama demokrasi. Sambil menikmati bir dan berpikir akan piknik ke mana.
Para pemimpin sibuk mengurus MBG, sambil mencari panggung, di celah-celah bencana alam. Mengintip kesempatan, korupsi dan kemewahan.
Para penegak hukum sibuk menunaikan perintah. Mengikuti aturan main, bahwa komando bukan di tangan kebenaran, bukan di tangan hukum, bukan atas keadilan.
Komando ada di tangan para penguasa, yang kau pilih setiap lima tahunan. Dan rakyat pun tersandera atas nama pemilu, atau nama demokrasi, atas nama
Para aktivis terjerat dalam jaringan konspirasi. Berburu perhatian, demi masa depan kekuasaan bisa di tangan.
BACA JUGA: Pembuang Bayi 'Hugel' Divonis Penjara 7 Bulan, Advokat Rizal Apresiasi Hakim
Aku pun menjadi sadar. Ternyata aku tidak punya apa-apa. Hanya punya kata-kata, yang aku kemas menjadi puisi. Emang kamu punya apa? Apa kamu punya sesuatu untuk berbenah?
Puisiku bukan puisi perlawanan. Puisiku bukan puisi kritik. Puisiku puisi orang tak berdaya. Karena cuma itu yang aku punya.
Sambil berjalan linglung, aku menggumam sebuah nyanyian Farid Hardja. “Oh burung nyanyikanlah. Katakan padanya aku rindu.” (Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM)
