Tiga Tarian Sakral Dipentaskan di Hari Kedua Pahargyan Dhaup Ageng Pakualaman

share on:
Tarian sakral yang dipentaskan dalam Pahargyan Dhaup Ageng Pakualaman Hari ke dua || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) – Resepsi atau Pahargyan Dhaup Ageng Pura Pakualaman kembali berlanjut pada Kamis (11/1/2024). Namun, hari ini acara digelar di Bangsal Sewatama Pura Pakualaman mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Sejumlah tokoh penting diperkirakan juga masih akan hadir memenuhi undangan dari Paku Alam X.

Pada Pahargyan hari ke dua ini pengantin akan mengenakan busana kain batik motif Parang Indra Widagda, yang mengandung makna sebuah harapan agar dalam menjalani kehidupan rumah tangga, pengantin bisa memegang teguh keteladanan Bathara Indra yang memperhatikan pendidikan bagi diri dan orang lain.

BACA JUGA: Debat Capres ke-3, Nabil Kalabe'en: Prabowo Bertahan, Ganjar Seimbang, Anies Ofensif

Pahargyan hari ke dua ini merupakan saat yang istimewa karena ditampilkan 3 beksan ‘tari’, yaitu Beksan Tyas Muncar, Bedhaya Wasita Nrangsmu, dan Lawung Alit. Ke tiga jenis beksan atau tarian ini merupakan tarian yang sakral sehingga jarang dipentaskan.

Tari Lawung Alit || YP-Ist

Menurut Panitia Dhaup Ageng KMT Widyo Hadiprojo, Beksan Tyas Muncar menggambarkan pancaran hati remaja putri yang mengalami proses masa keremajaannya dengan penuh kebahagiaan sehingga dapat menapaki kehidupan selanjutnya dengan baik melalui aktivitas membatik.

BACA JUGA: Usai Hadiri Dhaup Ageng, Anies Baswedan Kunjungi Kampung Relawan AMIN di Pakualaman

“Beksan ini terinspirasi dari kecintaan Permaisuri KGPAA Paku Alam X terhadap iluminasi dalam naskah kuno skriptorium Pakualaman yang kemudian dialihwahanakan menjadi motifmotif batik yang indah,” ujar Widyo

Sementara itu, lanjut Widyo, para tamu yang hadir malam ini juga dapat menyaksikan Bedhaya Wasita Nrangsmu yang ditarikan oleh 7 orang penari putri. Tarian ini  merepresentasikan tentang piwulang (ajaran) yang menjadi bekal bagi kaum perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Selain kesabaran, rasa sumarah, kasih sayang, seorang perempuan juga harus mampu menangkap pasemon ‘ekspresi’ wajah suami dan anggota keluarga lainnya.

BACA JUGA: Dr Iwan Setyawan SH MH: Ganjar 'Mengunci' Prabowo dengan Data

Tarian ini memberikan pesan bahwa seorang wanita utama harus berpijak mengikuti piwulang agar senantiasa meraih keselamatan, ketentraman serta sentosa jiwa raga. Beksan ini sangat indah karena  penciptaan karya tari ini diilhami dari teks Serat Piwulang Estri yang ditulis oleh KGPAA Paku Alam II.

“Wasita Nrasmu dimaknai sebagai ‘nasihat tentang pentingnya memahami ekspresi wajah’,” ujar Widyo.

Tari Beksan Tyas Muncar || YP-Ist

Yang tak kalah istimewa, para tamu juga akan disuguhi Beksan Lawung Alit. Dalam beksan ini, penari memperagakan keterampilan menggunakan lawung ‘tombak’. Beksan Lawung Alit ini diperagakan oleh empat peraga sebagai prajurit yang sedang berlatih olah kanuragan dan empat peraga pengampil sebagai abdi dalem ploncon.

“Di dalam Babad Pakualaman disebutkan bahwa tradisi pementasan Beksan Lawung yang ada di Kraton Yogyakarta dilestarikan di Pakualaman,” pungkas Widyo. (Sulistyawan Ds) 

 

 

 


share on: