Tim Abdimas Fisip UAJY Siapkan Branding Desa Wisata Tinalah

share on:

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo khususnya mengharapkan bahwa pembangunan dan pengembangan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo mampu menjadi daya ungkit pengembangan sosial ekonomi di daerah sekitar bandara. Desa wisata di sekitar wilayah YIA ini menjadi destinasi wisata yang mulai banyak dikunjungi oleh turis dalam dan luar negeri. Salah satunya Desa wisata Tinalah.

Tetapi, masyarakat pengelola destinasi wisata masih membutuhkan pengembangan kapasitas dan ekonomi kreatif. Hal ini dapat dicapai melalui program pelatihan untuk pembuatan ikonisasi brand produk pendukung agar terjadi pengembangan bisnis di desa wisata.

Hal inilah yang kemudian dilihat oleh tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Komunikasi sebagai peluang untuk melakukan pengabdian masyarakat di tengah masa pandemi. Desa Wisata Tinalah, yang merupakan lokasi Abdimas ini, diharapkan bisa mendorong penduduk untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam pengembangan desa wisatanya dan selanjutnya menjadi jalan untuk pengentasan kemiskinan penduduk desa.

Hari Minggu, 24 Januari 2021, tim pengabdian yang terdiri dari Dr Victoria Sundari Handoko MSi ahli di Bidang Sosiologi Pariwisata dan Dr Desideria Cempaka Wijaya Murti MA ahli di Bidang Komunikasi Pariwisata melakukan serah terima atas merek baru Desa Wisata Tinalah yang telah terdaftarkan dalam hak kekayaan intelektual (HAKI). Branding Desa Wisata Tinalah di-bundling menjadi dua hal yakni logo desa wisata dan munculnya ikon Mbak Dewi yang merupakan simbol pengunjung Dewi Tinalah.

“Kami mengharapkan dengan adanya HAKI atas merek desa wisata, kreativitas dapat ditingkatkan sebab mereka sudah memiliki dasar dari aset desa yakni sebuah merek bernama Dewi Tinalah,” ujar Dr Victoria Sundari Handoko MSi.

Mbak Dewi ini menjadi ikon bagi desa supaya lebih atraktif. Ikon ini nantinya bisa dipakai untuk berbagai merek produk-produk desa dan pengembangan aplikasi teknologi Dewi Tinalah ke depan,” tambah Dr Desideria Cempaka Wijaya Murti MSi.

Desa wisata Tinalah cukup menyadari pentingnya brand bagi desanya. Meski sebelumnya belum memiliki ikon dan logo resmi serta merek terdaftar dan bersertifikat HAKI tetapi, pariwisata di Dewi Tinalah sudah cukup berkembang. Ini menunjukkan adanya potensi bagi Dewi Tinalah, sehingga jika Dewi Tinalah membangun merek komersial, maka Dewi Tinalah akan semakin dikenal kekhasan dan potensinya.

Selain itu, dengan adanya COVID-19, Desa Wisata Tinalah makin menyadari bahwa keberadaan Master Plan dari sebuah brand desa akan bisa mengintegrasikan seluruh produk di kawasan tersebut. Keuntungannya adalah pariwisata dapat membantu mempercepat proses diversifikasi usaha dan akselerasi merek UMKM di sekitar lokasi.

“Jika merek desa terintegrasi, maka gambaran bahwa Dewi Tinalah ini terkonsep mulai dari usaha wisata hingga produk lokal akan dapat terlihat dengan jelas,” ujar Panggih selaku Ketua Pokdarwis Desa Wisata Tinalah.

Ditambahkannya, hal lain yang menjadi perhatian kami dengan adanya potensi hak/klaim atas kepemilikan nama Desa Wisata Tinalah ini yang bisa diambil oleh pihak swasta atau pihak-pihak lain yang tidak memiliki hubungan dengan Desa Wisata Tinalah,” tambah Dr Victoria.

Pelaksanaan Village Branding atau pembuatan merek komersial bagi desa-desa wisata sangat potensial untuk dilakukan di berbagai tempat. Termasuk dilakukan replikasi secara massif pada suatu regional area, kabupaten atau bahkan provinsi.

Potensi peningkatan kreativitas dan daya jual dengan pembuatan merek desa secara professional mampu memberikan pemberdayaan bagi desa untuk menjadi komunitas kreatif. Selain itu juga, jika terus didampingi kemungkinan untuk ledakan penjualan bagi usaha di sekitar karena memiliki identitas tempat yang kuat juga dapat dibangun. (*/Eko Purwono)

 

 

 

 


share on: