Yogyapos.com (YOGYA) - Gunungkidul memiliki ragam tradisi yang menjadi keunikan tersendiri. Salah satunya tradisi sambatan gawe umah. Tradisi ini merupakan bentuk kebiasaan yang diyakini masyarakat dalam bentuk gotong royong membangun sebuah rumah melalui prosesi tertentu yang dilakukan bahu membahu antara masyarakat satu dengan yang lain tanpa adanya balasan secara materi. Bahkan dari semua proses tersebut mengandung budaya intelektual.
Namun sayangnya tradisi ini banyak terkikis oleh budaya luar, apalagi di era disrupsi juga menjadi salah satu penyebab dari semakin memudarnya tradisi lokal yang dimiliki masyarakat yaitu sikap pragmatis dan kurang mau bekerja keras. Efisiensi yang dibawa era disrupsi tidak selamanya berdampak baik bagi masyarakat, dimana ada beberapa kondisi yang mengakibatkan masyarakat malas dan instanisasi makin merebak. Permasalahan yang terjadi akibat memudarnya tradisi-tradisi di masyarakat tidak dapat segara teratasi jika tidak adanya kerjasama dan sikap peduli untuk memecahkannya bersama. Oleh karena itu, mahasiswa program studi Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial UNY melakukan penelitian tentang tradisi sambatan gawe umah dalam rangka mewujudkan dan menjaga nilai lokal pada tradisi yang ada dalam masyarakat. Mereka adalah Diah Nadiatul Jannah, Basiid Elmi Izzaqi dan Nabil Fairuzzabadi.
Menurut Diah Nadiatul Jannah, gugur gunung atau kerjasama menjadi nilai lokal dalam tradisi sambatan gawe umah yang memicu kondisi dan berpengaruh terhadap kondisi intelektual dan sosial diantaranya interaksi, proses belajar, pemenuhan kebutuhan, pengembangan diri, salingterkait, motivasi, penggunaan kapasitas intelektual, pengalaman dalam keluarga dan pola kepribadian.
“Nilai lokal gugur gunung dalam tradisi sambatan gawe umah membawa dampak pada terciptanya nilai-nilai lain yang bermanfaat seperti kepedulian, tanggungjawab,toleransi, kerjakeras, semangat, dan komunikatif,” kata Dian, Sabtu (8/5/2020).
Basiid Elmi Izzaqi Basiid Elmi Izzaqi menambahkan penelitian dilaksanakan di tujuh padukuhan (Jambu, Gabug, Wuni, Karangtengah, Jurug, Nglumbung, dan Jati) desa Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara dengan subjek penelitiannya adalah pemuka adat, sesepuh dan masyarakat Desa Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul.
Nabil Fairuzzabadi menjelaskan tradisi sambatan atau di masyarakat sering disebut juga “nyambat” adalah tradisi untuk meminta pertolongan kepada warga masyarakat yang bersifat massal untuk membantu keluarga yang sedang memiliki keperluan atau sedang terkena musibah seperti membangun, memperbaiki atau memindah rumah, melaksanakan hajatan, dan juga keperluan-keperluan lain yang membutuhkan bantuan orang banyak.
“Sebuah kearifan lokal yang terbentuk dari semangat gotong royong yang tinggi di dalam masyarakat yang semua itu didasarkan pada rasa kepedulian antara masyarakat satu dan lainnya,” ungkap Nabil.
Menyatukan perbedaan dan keberagaman menjadi satu rasa dan kepentingan dalam kerja untuk bahu-membahu saling membantu, rasa ikhlas untuk saling tolong-menolong tanpa memandang warna dan latar belakang. Dalam penelitian yang dilakukan, Nabil dan teman-temannya menemukan bahwa dalam tradisi sambatan gawe umah banyak nilai-nilai yang tercermin dan dapat menjadi contoh dalam hidup bermasyarakat seperti gotong royong, tertib, tanggung jawab, rukun, kerjasama, pantang mengeluh, kesetaraan, rasa persaudaraan, persatuan, kepedulian, saling menghargai saling menghormati dan ikhlas.
Eksistensi Sambatan Gawe Umah ini juga merupakan bukti dari budaya intelektual. Bukti dari tradisi ini merupakan budaya intelektual sosial karena di setiap tahapan prosesnya mengandung makna yang dalam. Dalam prosesnya ada manajemen, komunikasi efektif dan sudah memikirkan tentang pembangunan yang berkelanjutan. Penelitian ini berhasil meraih dana dari Fakultas Ilmu Sosial UNY. (*/Agung DP)
