Turgo Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Religi

share on:
Sosialisasi SK desa wisata rintisan Turgo diikuti lebih dari 100 orang warga Turgo, perangkat desa, karang taruna, PKK dan lima pendamping. Terpilih sebagai ketua Wasi SHI diikuti susunan pengurus dari berbagai bidang dan elemen || YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (YOGYA) - Kawasan Gunung Merapi memiliki beragam potensi yang bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun, pengelolaannya harus sesuai dengan karakter yang telah lama terbangun. Tidak boleh latah meniru destinasi yang lain agar memiliki keunikan yang bisa dijadikan keunggulan. Lebih penting dari itu, para pengelola dan warga harus memiliki visi dan komitmen yang sama dalam menapaki proses pembangunan dan pengembangan.

Demikian Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata Sleman, Nyoman Rai Savitri SPsi MEcDev, saat sosialisasi desa wisata di Dusun Turgo Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (9/1/2020). 

Lebih jauh Nyoman menguraikan, Turgo dipersiapkan sebagai desa wisata karena potensi yang spesifik dan beragam. "Namun, potensi tanpa semangat dan komitmen, tak ada artinya. Beberapa objek wisata dan desa wisata jatuh hanya karena manajemen yang kurang pas. Kami berharap, Turgo menjadi destinasi wisata yang berkembang dengan baik,” tandasnya. Keberadaan desa wisata Turgo akan berdampak lebih lengkapnya promosi wisata Sleman. Namun, sesungguhnya keuntungan yang akan diraih harus menjadi hak warga Turgo khususnya dan umumnya warga Purwobinangun.

Dalam kesempatan itu, disosialisasikan SK tentang penetapan Turgo sebagai desa wisata rintisan. "Ini akan selalu dievaluasi baik selama tahun 2020 dan dua tahun lagi juga kami evaluasi. Kami tidak ingin gegabah dalam menetapkan desa wisata karena dalam beberapa kasus, kurang diikuti dengan pengolaan dan manajemen yang baik dan transparan,” pesannya. Oleh karena itu, lanjutnya, Dinas Pariwisata Sleman bisa membantu persiapan SDM agar bagus dalam pelayanan. Apalagi, Ngarsa Dalem X sangat memberi perhatian atas pembangunan kawasan Turgo ini sehingga tak ada pilihan lain kecuali harus didukung semaksimal mungkin, katanya.

Sementara itu (Plt) Kades Purwobinangun  Joko Mulyono menyambut baik atas turunnya SK Turgo sebagai desa wisata rintisan. "Kita kembangkan potensi bagi sebesar-besar kemakmuran warga Turgo. Mari kita jaga predikat ini sebagai tanggung jawab yang harus disadari seluruh warga. Potensi desa bisa dikelola untuk meningkatkan perekonomian warga. Grand design harus dikomunikasikan kepada warga untuk mengantisipasi munculnya masalah dan gesekan,” pesannya.

Sedangkan Ketua Masyarakat Sadar Wisata Turgo, Wasi SHI, melaporkan proses awal pembuatan rintisan desa wisata religi. "Pengurus Masdarwis dibentuk pada 9 April 2019. Melalui beragam pertemuan dan diskusi, kami bisa membuat langkah awal dalam mempersiapkan manajemen. Memang belum sempurna, sehingga kami mohon bantuan terutama para pendamping agar Turgo bisa maju, berkembang, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tandasnya. 

Pendamping pengembangan destinasi Turgo terdiri atas lima orang dari berbagai unsur, antara lain M. Adlil Haq, Jajang Sukendar, Deksa Restra Yuridita, dan Nanang Hari Sudibyo. Dalam pesannya, Adlil Haq mengatakan,

"Jangan ada satu orang pun yang ditinggal. Masyarakat harus terlibat aktif dan memiliki rasa handarbeni, karena program ini memang ditujukan untuk memberi makna lebih pada keberadaan makam Syekh Jumadil Kubro. Jangan sampai pembangunan Turgo hanya dikerjakan oleh satu atau dua kelompok, tetapi melibatkan seluruh elemen masyarakat,” kata anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman ini. Para pengelola bisa belajar dari Makam Muria yang bisa menjadi destinasi religi. Warga harus menjadi pelaku utama, karena sudah sepakat membangun Turgo," tandasnya. (Iud)


share on: