Yogyapos.com (BANTUL) - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membangun sebuah cafe berkonsep co-working space yang diperuntukkan bagi mahasiswa, pegawai ataupun masyarakat umum. Bangunan berlantai 3 ini dinamakan Cafe 1912, pengerjaannya sejak awal November 2019 dan progres terkini mencapai 80 persen. Diprediksi akan rampung pada pertengahan Februari 2020.
Pembangunan Cafe 1912 ini mengusung spirit ‘Muda Mendunia’, berambisi mewujudkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa.
Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP menyatakan, adanya cafe ini selain untuk memberi tambahan fasilitas kampus, juga bisa dijadikan tempat untuk menjamu tamu rektorat.
“Proses pembangunan memang kami kebut. Dan pekerjaan kami garap sendiri, tidak dilempar ke pengembang. Ternyata budgetnya efisien sekitar 40 persen. Dan progress report juga setiap saat kami monitoring. Untuk menu dan interior yang jelas sangat kekinian era millenial. Kenapa kami mengambil nama Cafe 1912, lantaran bertepatan dengan tahun berdirinya UMY, yakni tahun 1912,” ujar Dr Ir Gunawan.
Dalam kesempatan tersebut juga dilaksakanan penandatanganan kesepakatan MoU antara UMY dengan Bank BPD DIY, yang berupa peluncuran My Dompet (uang elektronik), UMY Payment dan G-Money.
Dirut BPD DIY Santoso Rohmad SE MM mengaku bangga dan bersyukur bisa menjalin partnership dengan UMY. “Langkah digitalisasi ini kami tempuh untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan transaksi pembayaran SPP atau pembayaran administrasi kampus apapun. Zaman sekarang serba cashless (uang digital). Semua solusi ada di aplikasi. Tidak ribet, tidak perlu mangantre. Penggunaan uang oleh mahasiswa juga lebih terkontrol dengan baik,” imbuh Santoso Rohmad.
Sementara itu Dirut PT UMB (Umat Mandiri Berkemajuan), Dr Alni Rahmawati SE MM sedang gencar melakukan program G-Money. Yakni sebuah program penanggulangan sampah plastik.
“Kami mengajak para mahasiswa dan pegawai di lingkungan UMY untuk menyulap sampah menjadi komoditas yang produktif. Limbah plastik atau botol plastik bekas bisa dikumpulkan, lalu dijual ke kami. Kemudian kami olah sebagai kerajinan yang punya nilai ekonomi,” ungkap Dr Alni. (Dol)
