Yogyapos.com (BANTUL) - Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo berharap generasi muda perlu rajin membaca dan meningkatkan bacaannya agar memahami sejarah. Sehingga dengan memperkaya literasi sejarah rasa kebangsaanya semakin kuat dan mendalam.
Hal itu disampaikan Joko saat menjadi narasumber pembinaan generasi muda Kapanewon Jetis, di Pendapa Kantor Panewu, Kamis (20/10/2022).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-joko-purnomo-dilantik-sebagai-ketua-umum-pbvsi-bantul-7039
Ia mengatakan, semangat kebangsaan merupakan modal dan kondasi penting guna menciptakan kebersamaan oleh berbagai unsur dan golongan untuk kemajuan NKRI.
“Sayangnya hingga kini Indonesia tidak mempunyai Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Ini menjadikan Presiden, Gubernur, Walikota/Bupati dan Lurah harus membuat visi dan misi untuk pembangunan,” katanya.
Maka, Joko mempertanyakan bagaimana mencocokkan visi-misinya jika tidak ada GBHN. Bagaimana visi misi Lurah dapat sesuai dengan Bupati kalau pemilihan lurahnya lebih dulu dengan pemilihan Bupati dan seterusnya.
“Di sekolah, siswa membaca Pancasila, namun persepsinya menjadi berbeda. Maka jangan sampai sejarah haluannya untuk kepentingan politik,” tandasnya.
Salah satu contoh pentingnya kebersamaan yaitu Bantul saat terkena gempa tahun 2016 tidak mengeluh melainkan hanya bertekad dan sepakat segera keluar dari keterpurukan. Upaya pemulihan pembangunan dan ekonomi nyatanya bisa pulih kembali. litu berhasil karena berkat rasa kebangsaan yang tinggi.
Pada saat pandemi, berbagai pihak terutama TNI-Polri juga bertekad untuk memulihkan kembali dengan berjuang bersama karena wawasan kebangsaan yang ada.
Namun selain itu rasa syukur juga penting. Berdasarkan aturan Undang Undang, bahwa pemerintah menjalankan tugas fungsinya masing-masing dan mengabdi kepada masyarakat juga merupakan wujud rasa kebangsaan.
Sementara itu, Danramil Jetis Kapten CHB Sarmin, menyatakan meskipun suku, agama, ras dan golongannya berbeda, namun kita sebagai anak bangsa harus tetap hidup rukun.
“Kebhinnekaan murupakann kekuatan kebangsaan dan bukan sebagai kelemahan,” kata Sarmin. (Spd)
