Wahjudi Djaja SS MPd : Selokan Mataram Simbol Golong Gilig Penguasa dan Rakyat

share on:
Wahjudi Djaja di Hadapan Peserta Barata | Foto : Istimewa

Yogyapos.com (SLEMAN) - Visi kerakyatan Ngarsa Dalem IX harus jadi teladan siapapun yang (mau) jadi pemimpin. Satu kata dengan perbuatan, selalu mengayomi, melindungi dan menjaga keselamatan rakyat. Itulah kenapa rakyat total bersedia melakukan apa saja termasuk dengan sukarela membangun Selokan Mataram sejauh 30an km.

Demikian disampaikan Wahjudi Djaja SS MPd saat menjadi narasumber dalam diskusi ‘Pengembaraan Akhir Tahun (Barata) XXXIII’ Kwarda Sleman, di Kompleks Lapangan Margokaton Seyegan Sleman, Jumat (28/12/2018) malam. Kegiatan yang diikuti 700-an peserta ini dilepas Bupati Sleman Sri Purnomo di Lapangan Pemkab setempat.

Dosen Kebudayaan Sekolah Vokasi UGM ini menguraikan, atas nama menjaga keselamatan rakyatnya, Ngarsa Dalem berani manangkis siasat pemerintahan militer Jepang yang ingin merekrut rakyat Yogyakarta untuk dijadikan romusha.

"Beliau berani pasang badan demi keselamatan rakyatnya. Kharisma dan kewibawaan beliau mampu meredam kebijakan penguasa Jepang. Ini sungguh teladan yang amat berharga bagi para pemimpin di semua level" tandasnya. Komitmen yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab Ngarsa Dalem sebagai Raja mampu menggerakkan rakyat untuk secara sukarela kerja bakti membuat selokan. Rakyat pun dengan penuh kesadaran memberikan apa yang mereka miliki untuk mendukung proyek fenomenal itu. Ibu-ibu dari desa ke desa membuat nasi "nuk" untuk para anggota keluarga yang bekerja, jelasnya.


Sekitar 700-an peserta Barata suntuk mengikuti diskusi | Foto : Istimewa

Totalitas rakyat yang berada di balik kebijakan rakyatnya menjadi cermin bagi siapapun saat hendak menggerakkan pembangunan, pesan alumni Sejarah UGM ini. Tanpa banyak janji atau iming-iming, rakyat bersedia bergerak saat kemiskinan mendera. Konfigurasi hubungan raja-kawula itu sesungguhnya merupakan fondasi terpenting keistimewaan Yogyakarta, jelasnya menjawab pertanyaan salah satu peserta. Sayangnya, semakin banyak yang mengabaikan sejarah dibangunnya Selokan Mataram. Sisi timur selokan kian tak terawat, orang tanpa rasa bersalah membuang sampah sembarangan.

"Ini tidak saja mengganggu pemandangan dan menimbulkan bau tak sedap, juga wujud tak menghargai sejarah perjuangan para pendahulu," tandasnya.

Terkait Batara XXXIII, Ketua Dewan Kerja Arwin Pamungkas menjelaskan, Pengembaraan Akhir Tahun adalah kegiatan pengembaraan bagi Pramuka Penegak (usia 16 - 20 tahun) tingkat SMA sederajat merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap akhir tahun selama 5 hari. Tahun ini mengambil tema “Jelajah Selokan Mataram”, diikuti 677 peserta perwakilan dari 34 pangkalan SMA sederajat se-Kabupaten Sleman yang terbagi atas 44 sangga (kelompok) putra dan 45 sangga putri, total 89 sangga.

Lebih jauh, mahasiswa Teknik Elektro UNY ini menjelaskan selama Barata digelar beberapa kegiatan seperti Hasta Karya, Fashion Show, Jurnalistik, Macapat, Masak, Cipta Baca Puisi, Maskot, Pentas Seni, Poster Arang , Pioneering, Wayang Suket, PPGD, Cerdas Cermat Pramuka, Video Kreatif, Dhenok Thole dan Yel-yel.

Sedang menurut Ketua Sangga Kerja (Panitia Pelaksana) Ode Julian, peserta akan melakukan pengembaraan mulai dari Lapangan Pemda Sleman menuju Lapangan Margokaton Seyegan, Lapangan Banjarharjo Kalibawang, Lapangan Margoagung Seyegan hingga finish di Stadion Tridadi Sleman dengan total perjalanan sejauh 53 Km. (Adp)

 


share on: