Webinar UKDW : Restorasi Bumi Tanggung Bersama

share on:
Penampakan peserta webinar memperingati Hari Bumi 2021 dari layar laptop || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Memperingati Hari Bumi 2021, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teologi dan BEM Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar webinar bertema ‘Restore Our Earth’. 

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KSDAE KLHK) selaku keynote speaker Ir Wiratno MSc menyampaikan materi Tantangan dan Prospek Restorasi Bumi di Indonesia. Selanjutnya disampaikan sharing best practices Komunitas Peduli Restorasi Bumi oleh Sustainable Development Manager PT Tirta Investama Klaten Rama Zakaria dan Deputi II Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Erasmus Cahyadi, SH. Sementara itu Kajian Restorasi Bumi dan Perspektif Teologi dan Bioteknologi disampaikan oleh Dekan FakultasTeologi UKDW Pdt. Robert Setio PhD dan Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW Kisworo MSc.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama (WD III) Fakultas Teologi UKDW Pdt Dr Wahyu Nugroho MA menyatakan, webinar ini untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya ambil bagian dalam upaya restorasi bumi dalam konteks Indonesia, memberikan landasan ilmiah tentang restorasi bumi dari perspektif teologi dan bioteknologi, serta mendapatkan contoh best practices dari komunitas-komunitas yang secara aktif melakukan upaya restorasi bumi.

“Denganadanya webinar yang tekah diselenggarakan pada 24 april 2021 ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan tumbuhnya tanggung jawab kolektif untuk berkontribusi pada upaya pemulihan bumi,” katanya, Rabu (28/4/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UKDW Ir Henry Feriadi MSc PhD mengungkapkan, isu tentang lingkungan sudah mencapai dimensi yang berbeda. Melalui webinar ini kita diajak merenungkan bagaimana kita sebagai manusia bisa hidup berdampingan dengan ciptaan lainnya, karena kajian tidak hanya dilakukan dari sisi lingkungan tetapi juga dari perspektif teologi.

“Alam tempat kita tinggal sudah memiliki kecenderungan untuk berubah akibat global warming. Bencana alam yang terjadi beberapa waktu yang lalu seperti badai Siklontropis Seroja di NTT, banjir bandang, dan tanah longsor hendaknya membuat kita berefleksi, bagaimana sesungguhnya kita memperlakukan bumi,” katanya.

Dirjen KSDAE KLHK Ir Wiratno MSc menuturkan, yang menciptakan krisis lingkungan adalah manusia dan untuk mengembalikan fungsi ekosistem lingkungan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan upaya dari semua pihak untuk mendorong kesadaran masyarakat terkait perusakan alam dengan memberikan contoh secara nyata.

“Hal ini merupakan tugas dari semua elemen baik itu melalui pendidikan maupun ajaran agama,” tuturnya.

Sementara itu Deputi II Sekjen AMAN Erasmus Cahyadi SH menyebutkan hutan di daerah pedalaman yang berada di wilayah masyarakat adat banyak yang beralih fungsi sebagai lahan pertambangan dan perkebunan sawit. Masyarakat adat berada dalam situasi terjepit. Mereka berinisiatif melakukan restorasi bumi dengan melakukan penanaman pohon, namun di beberapa lokasi upaya ini dicegat karena dianggap merebut wilayah tersebut dari penguasaan negara.

“Upaya restorasi dari masyarakat adat sebetulnya masih terus berlanjut, tapi dalam skala yang sangat kecil. Oleh karena itu butuh dukungan dari banyak pihak, serta dialog dengan pihak industri. Pemerintah menjadi kunci bagaimana mengaktivasi kearifan tradisional itu sebagai upaya merestorasi ekosistem kita,” jelasnya. (*)

 

 


share on: