Wiwitan Segoroyoso Berlangsung Sederhana dan Hikmat

share on:
Prosesi 'Wiwitan' Kelompok Tani Segoroyoso Pleret Bantul di area persawahan Paseban, Selasa (29/7/2025) || YP-Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Mencintai tradisi dalam konteks merawat bumi merupakan laku utama. Tidak saja bagi kaum tani sebagai tanda syukur tetapi juga kita sebagai bangsa agraris. Harapannya selain panen yang meningkat juga lestarinya lingkungan alam.

Demikian benang merah sarasehan Kelompok Tani Segoroyoso Pleret Bantul di area persawahan Paseban, Selasa (29/7/2025) pagi. Sarasehan digelar selepas prosesi wiwitan yang dipimpin Wahjudi Djaja SS MPd (Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY).

BACA JUGA: Kristanti Dilantik Sebagai Kajari Bantul, Rini Trinisngsih Asbin Kejati DIY

Dalam sambutannya Panewu Pleret, Evie Nur Siti Fatonah SSos MM menyampaikan tradisi wiwit merupakan tinggalan leluhur yang bisa dimaknai sesuai tantangan zaman.

"Dalam kaitan itu kita perlu mewaspadai merebaknya leptospirosis yang antara lain disebarkan oleh tikus. Tikus melepaskan bakteri Leptospira melalui urinnya ke lingkungan, dan kita dapat tertular melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urin tikus. Maka mari kita hati-hati dan waspada,” pesannya.

BACA JUGA: Hingga Kini Belum Ada Tersangka Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman

Sedang Lurah Segoroyoso Miyadiana menjelaskan, tradisi wiwit ini merupakan wujud syukur kita pada karunia Tuhan.

Sarasehan digelar selepas prosesi wiwitan yang dipimpin Wahjudi Djaja SS MPd dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY || YP-Ist

"Kalau kita bersyukur, Allah SWT menjanjikan akan menambah nikmat kepada kita. Tetapi azab-Nya akan pedih bagi mereka yang mengingkari nikmat-Nya. Tradisi ini merupakan tanda syukur kepada Sang Pencipta,” tandasnya.

BACA JUGA: Di Bantul, Terjadi 2.346 Pelanggar Lalin Selama Operasi Patuh Progo 2025

Sementara itu Wahjudi Djaja menyampaikan harapannya agar tradisi yang dimiliki Segoroyoro bisa dikelola dan dikembangkan agar menjadi pilar penting pembangunan.

"Prosesi wiwitan ini selain menarik bisa diberdayakan dalam konteks pengembanga  kalurahan budaya. Apalagi didukung dengan view indah dan narasi sejarah yang kuat terkait keberadaan Kerajaan Mataram Pleret. Ini akan memberi keunikan tersendiri,” jelas dosen STIEPAR API Yogyakarta ini.

BACA JUGA: UWM Gandeng CSUS Kembangkan Kerjasama Internasional

Ketua Kelompok Tani Slamet Raharja menyampaikan ada 9 kelompok tani di Segoroyoso. "Salah satu masalah yang kami hadapi adalah air. Harapan kami ada perhatian dan program pemerintah agar permasalahan air yang menjadi kebutuhan utama petani bisa diselesaikan", pintanya.

Petani muda Segoroyoso, Munajah, kepada yogyapos.com menyampaikan harapannya agar tahun depan gelar tradisi ini bisa diselenggarakan lebih baik lagi.

BACA JUGA: Rekonstruksi Pengeroyokan di Sutopadan Dihadiri Keluarga Korban

"Potensi yang dimiliki Segoroyoso sebetulnya lengkap. Budaya, wisata, sejarah dan industri rumah kita miliki. Harapan kami potensi itu bisa diberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga,” katanya.

Hadir dalam tradisi Wiwitan Segoroyoso antara lain Babinsa Segoroyoso, Babhinkamtibmas Segoroyoro, pamong Kalurahan Segoroyoso, anggota kelompok tani dan warga sekitar. Selesai sarasehan dilanjutkan makan bersama. (Iud)

 


share on: