WORKSHOP CERDAS DIGITAL, KANG MAMAN: Literasi itu Memberdayakan

share on:
Kang Maman saat sebagai pemateri di hadapan pegiat literasi || YP/Mufti

Yogyapos.com (BANTUL) - Masyarakat Indonesia wajib menguasai enam literasi hasil kesepakatan badan dunia. Enam literasi itu adalah literasi baca tulis, literasi numerik (berhitung), literasi keuangan, literasi digital, literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan. Penguasaan literasi ini juga perlu diikat dengan empat kompetensi yaitu: komunikasi, kolaborasi, kreativitas, critical thinking. Semua dimaksudkan agar siapa pun mampu bersaing di era 4.0.

Hal tersebut ditegaskan Pegiat Literasi Nasional, Maman Suherman pada Workshop bertajuk ‘Cerdas Digital Menyongsong Era 4.0’ di Aula Sasana Widya Parwa, Perpustakaan Daerah Kabupaten Bantul, Selasa (3/12/2019). Dalam workshop yang terselenggara kerja bareng Perpustakaan Daerah dengan Forum Taman bacaan Masyarakat (FTBM) Bantul,Maman mengatakan, survei lembaga dunia menunjukkan bahwa literasi bangsa kita hanya menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Setingkat di atas Bostwana, sebuah negara di Afrika dan masih kalah dibanding negara tetangga ASEAN.

“Lima negarat ingkat literasi paling tinggi di tempati oleh Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia,” ujar Maman di hadapan kurang lebih 100 orang pegiat literasi.

Pria berpenampilan plontos ini mengatakan di negara yang tinggi tingkat literasinya, setiap orang setidaknya membaca 40 judul buku per tahun. Sedangkan Indonesia kurang dari dua judul buku per tahunnya. Literasi sekolah sebenarnya tak cukup hanya membaca 15 menitsebelumpelajaran dimulai. Tak sekedar pula mendengarkan, namun siswa dapat menyampaikan apa yang sudah dibaca dan didengarnya. Perpustakaan sekolah diperkaya koleksi bukunya, di luar buku paket (buku pelajaran).

Masyarakat kita hendaknya belajar lebih jauh dari guru besar pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Di samping popularnya semboyan Taman Siswa; Ingngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani menjadi bagian pendidikan, masyarakat pun diajarkan supaya selalu ‘ngerti, ngrasa, dannglakoni’. Tujuannya membentuk jiwa cerdas berbudi pekerti luhur.

“Biar penerapannya lebih mudah maka harus dimengerti terlebih dulu, baru dirasakan, setelah itu dijalankan. Jangan sampai melakukan sesuatu itu tanpa dipahami dahulu sisi positif negatifnya,” terang sosok yang sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi di kelompok Kompas Gramedia.

Sang inisiator Panasonic Award ini menyampaikan, rendah nya tingkat literasi menyebabkan masyarakat di Indonesia rentan terhadap hoax (berita palsu). Hoax itu produk dari sebuah keisengan bahkan kebencian. Orang bisa mengemas berita usang lantas menjadikannya sebagai informasi baru. Hoax dibuatoleh orang pintar yang jahat, dibantu orang pintar yang mencari keuntungan, kemudian disebarkan oleh orang baik yang bodoh.

“Karena itulah kita mesti memahami sehingga tidak terjebak hoax atau ujaran kebencian. Ujaran kebencian sering dilontarkan saat ada pemilihan pemimpin tingkat nasional maupun daerah. Seharusnya literasi digital digunakan untuk memberdayakan diri,” kata sosok dengan sapaan kang Maman, penulis notulen padaacara Indonesia Lawak Klub(ILK) yang pernah tayang di sebuah TV swasta.

Indonesia menjadi salah satu negara paling cerewet di media sosial, tak suka baca, paling dekat smartphone. Informasi pun sering diterima dan disampaikan begitu saja tanpa diklarifikasi kebenarannya. Dia melansir hoax yang membuat panik, rasa tidak aman, bingung, dan pergeseran sosial porsi terbesarnya berasal dari media sosial (Facebook, Twitter, Instagram), lalu dari aplikasi chatting semacam Whatsapp. Wujudnya dapat berupa kata-kata (tulisan), gambar, atau video berpotensi besar merugikan bahkan membinasakan.

Lebih penting lagi, lanjut kang Maman mengenai elemen parsipatoris, jangan sampai jadi fundamentalis meberbasis kebencian. Kang Maman menceritakan mengenai bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 memakan korban 277.000 orang. Dia membandingkannya dengan kerusuhan di Rwanda saat Pilpres 1994 antarasuku Hutu dan suku Tutsi. Ada sebanyak 770.000 orang Tutsi terbunuh. Kerusuhan itu bersumber dari hasutan bahwa suku Tutsi harus dibunuh karena keturunan iblis dan seperti kecoak. Ketika ada orang Hutu membunuh orang Tutsi, maka ia mengatakan telah membunuh kecoak.

“Betapa kata menjadi senjata yang lebih dahsyat dari bom atom sekalipun,” tandaskang Maman.

Kang Maman berpesan kepada seluruh pegiat baik dari unsur perpustakaan, TBM, PKBM, SKB, serta komunitas literasi lainnya untuk menguasai literasi digital. Literasi digital akan menjadi sumber penghasilan apabila mampu dikuasai. Selain bermaanfaat bagi diri sendiri juga dapat digunakan membiayaikegiatan-kegiatan literasi di komunitasnya. Tentu itu menuntut kreativitas, kolaborasi, serta komunikasi bersama jejaring yang baik. Sudah banyak contoh seseorang meraih penghasilan melalui internet, sepertiYoutubemisalnya. Para pegiat literasi senantiasa terus menjadi pembelajar seumur hidup. 

“Literasi yang baik adalah mencerahkan, memperkaya wawasan dan informasi, serta memberdayakan. Memberdayakan diri, masyarakat, serta lingkungan sehingga meningkat kualitasnya. Apa yang kita lakukan bisa jadi uang tapi dapat pula menjadi bencana. Oleh sebab itu manfaatkanlah media secara cerdas,” pungkas kang Maman. (Muf)


share on: