YLHI, Missao dan PSA Kenalkan Budaya Jepang Melalui Talkshow dan Workshop

share on:
Para peserta talkshow

Yogyapos.com (YOGYA)  - Yayasan Langkah Hati Indonesia (YLHI), MISSAO Corporation  - IJACEA dan PT Puspa Setya Abadi (PSA) menggelar  Talkshow & Workshop JICEP (Japan - Indonesia Culture Exchange Program), di Pendopo Seni dan Budaya Lombok Abang Jalan Bekelan Tirtonimolo No 65, Tegal Kenanga, Tirtonirmolo, Kapanewonan Kasihan, Kabupaten Bantul, Kamis (7/9/23).

Acara tersebut dihadiri 50 siswa siswi dan pengelola Lembaga Pelatihan dan Ketrampilan (LPK) PSA serta Para Pemuda Pemudi Bekelan di Lingkungan Pendopo tersebut. 

Ketua Pelaksana sekaligus Pembina YLHI Adi Prabowo mengatakan, kegiatan ini merupakan program kolaborasi dalam upaya menambah wawasan dengan generasi muda untuk bisa lebih mengenal beragam budaya dan persamaan budaya serumpun di Asia, terutama budaya Negara Jepang. 

Program Talk Show dan Workshop Series ini merupakan salah satu program kegiatan pertukaran budaya yang bermanfaat untuk dilakukan agar teman-teman muda Indonesia  bisa belajar memahami kondisi sosial budaya serta menggali informasi dan pengetahuan tentang cara Bersosialisasi dan Business Manner di Negara Jepang, dengan pembicara utama di dalam forum talk show ini adalah dari MISSAO CORPORATION, Jepang, dengan  membuka ruang diskusi tentang pengembangan karakter generasi muda. 

“Kami menjadi salah satu lembaga yang secara intens bekerjasama dengan beberapa pihak melakukan kegiatan yang sangat menarik ini, bisa dilihat dari antusiasnya teman teman muda yang akan kerja magang di Jepang dalam mengemukakan pertanyaan berkaitan dengan pemahaman budaya Jepang"

BACA JUGA: Dinkes Bantul Gencarkan Kegiatan Pencegahan Anemia

BACA JUGA: Petualang Seks Perenggut Mahkota 17 Remaja Bawah Umur Lolos dari Hukuman Kebiri Kimia

“Walaupun kegiatan ini baru pertama kalinya diselenggarakan, dengan melihat antusiasnya para peserta muda di sini, kedepannya akan berpotensi menjadi kegiatan regular, yang berkelanjutan,” ujar Adi Prabowo dalam acara tersebut.

Selama ini Yayasan Langkah Hati Indonesia (YLHI) melakukan hubungan kerja sama bilateral dalam pertukaran seni budaya dengan MISSAO Corporation sebuah lembaga yang memang memiliki fokus kegiatan di bidang  pelestarian seni dan budaya Jepang.

Dengan kegiatan ini YLHI juga bermaksud memberikan kesempatan kepada lembaga pelatihan kerja (LPK) terutama LPK yang mengirim tenaga kerjanya ke Jepang untuk lebih bisa interaktif dengan program seperti ini.

Adi Prabowo juga menjelaskan, YLHI dan MISSAO Corporation menjalin kerja sama karena sama sama bergerak dalam seni budaya. Namun, karena MISSAO ini juga menyertakan beberapa afiliasi corporation seperti IJACEA, sebuah asosiasi yang dibentuk MISSAO kerja sama dengan museum nasional Indonesia dan pemerintah Indonesia. Kerja sama ini juga yang terkait dalam kegiatan pamaran dan sebagainya.

Salah satu kerjasamanya YLHI  dengan MISSAO Corporation juga adalah membuat sebuah Intelektual Property berupa Platform Digital yang dikemas dalam Online Store untuk mengkonsep pemasaran kerajinan tangan di Indonesia untuk dipasarkan di Jepang. Posisi yayasan di sini akan mengakomodir produk Produk Kerajinan dan Industri Kreatif, Artinya kita akan coba bikin program untuk bisa mengkolektif beberapa pengrajin pelaku UMKM dan Industri Kreatif yang berkaitan dengan kerajinan tangan dan produk Kreatif lainnya agar bisa menuangkan karya-karyanya untuk dilakukan kurasi, dipasarkan dan dikirim ke Jepang.

“Saya berharap ke depan target kita bisa mengakomodir UMKM dan pelaku Industri Kreatif di Jogja bisa ikut aktif menangkap Peluang bisnis dan kegiatan pemasaran bisa terbangun di situ. Jadi memang sasaran kami dalam kegiatan ini adalah untuk Generasi Muda, UMKM dan Pelaku Industri Kreatif agar bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda terkait pendekatan terkait peluang terhadap kondisi sosial budaya dan ekonomi ,” ujarnya.

Dalam acara tersebut,Presiden Direktur MISSAO CORPORATION, Yasuyuki Korekawa mengatakan bahwa yang penting untuk bisa kerja di perusahaan Jepang adalah disiplin dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang Jepang sangat menjunjung tinggi waktu dan memegang janji.

“Di Jepang janji harus ditepati. Contohnya, janji pertemuan jam 10.00, maka harusnya datang 10 menit sebelumnya. Kalau memang akan terlambat ya dikomunikasikan dan menghubungi dulu. Disiplin waktu dan janji harus dipatuhi,” tuturnya.

Yasuyuki Korekawa juga menjelaskan adab untuk memperkenalkan diri ketika bertemu dengan orang atau relasi kerja dengan menyapa dan memperkenalkan diri. Kalau sudah selesai juga mengucapkan terimakasih. 

BACA JUGA: Sandiaga Harap Film Terpilih Lokus 7 Bisa Angkat Eksistensi Pelaku Ekonomi Kreatif Go International

BACA JUGA: Harga Beras di Bantul Mengalami Kenaikan Rp 1.500-Rp 2.500 Per Kilogram

Sementara itu,  Direktur LPK PSA Anggun Resti Aditiyan SE MM mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa siswinya yang akan dikirim ke Jepang untuk magang kerja. Workshop tentang etika di Jepang memiliki korelasi dengan kegiatan LPK PSA. Karena itu, pihaknya pertemukan Yasuyuki Korekawa (Representative Director President MISSAO) dengan siswa siswanya untuk bisa saling berbincang. Hal ini bertujuan agar siswa siswa mendapat sudut pandang baru mengenai budaya, lingkungan kerja di Jepang.

“Sehingga sebelum nanti berangkat mereka sudah tahu apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat dan setelah sampai di sana nanti tahu batasan-batasan apa yang bisa atau pun tidak boleh dilakukan. Agar  nanti ketika di Jepang akan menjadi siswa yang memperoleh penilaian positif sehingga kedepannya kerjasama kami dengan perusahaan Jepang tersebut akan  lebih panjang,” jelasnya. 

PT Puspa Setya Abadi merupakan LPK yang berkedudukan di Citra Grand Mutiara Jalan Wates Yogyakarta dan memiliki legalitas sending organitation dari Kementrian Tenaga Kerja RI. LPK PSA dapat mengirimkan siswa magang untuk dapat belajar dan bekerja di Jepang. LPK PSA menyiapkan sumber daya manusia  dan sudah bekerjasama dengan beberapa perusahaan Jepang.

“Tahun 2023 ini sekitar 70 siswa sudah berangkat ke Jepang dan semoga akhir tahun ini bisa mengirimkan 70 siswa lagi ke sana. Saat ini 70 siswa itu tengah menunggu ijin tinggal,” ujar Anggun. (Yuliantoro)

 


share on: