Yogyapos.com (SLEMAN) - Dinamika dan perkembangan kesenian merefleksikan apa yang terjadi dalam sebuah bangsa. Mahakarya seni merupakan representasi kebudayaan yang menarik untuk diangkat dan dipelajari. Melalui peran para tokoh dan seniman, pergerakan dan perjuangan kebangsaan dan etape bangsa bisa dilacak untuk dihadirkan dalam beragam narasi sejarah.
Demikian disampaikan Ketua Panitia History Week 2023, Rere Rehuela Sarlotha, kepada yogyapos.com, Sabtu (7/10/2023). Kegiatan yang diadakan Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah (BKMS) Departemen Sejarah FIB UGM ini digelar 21-27 Oktober 2023. Tema yang diangkat adalah ‘Dekade Dalam Estetika: Sejarah Indonesia Dalam Antologi Mahakarya Seni’.
BACA JUGA: Indikator Kemiskinan Internasional tidak Cocok dengan Yogyakarta?
Ditanya soal cakupan tema, Rere menjelaskan seputar seni rupa, seni pertunjukan, dan seni sastra. “Kurang lebih menyangkut mahakarya seni sebagai ilustrasi sejarah bangsa, peran tokoh dan seniman penggerak kesenian bangsa, pergerakan organisasi seni Indonesia, aliran seni di Indonesia, dan seni dalam kekang negara,” papar mahasiswi angkatan 2021 asal NTT ini.
Rangkaian acara History Week antara lain opening ceremony di Auditorium Soegondo Lt 7 FIB UGM, lomba esai sejarah nasional tingkat SMA (yang sederakat) dan mahasiswa, lomba cerdas cermat SMA (yang sederajat), lomba kreatif (fotografi dan poster), seminar mahasiswa sejarah nasional, dan closing ceremony.
Terkait agenda dan tujuan digelarnya history week, Ketua BKMS Tamim Umar menjelaskan program tersebut merupakan agenda rutin tahunan BKMS. “Tujuannya antara lain untuk lebih memperkenalkan Prodi S1 Sejarah FIB UGM, menumbuhkan sikap peduli dan kritis, serta mendekatkan sejarah kepada masyarakat,” jelasnya.
BACA JUGA: Para Siswa SDN Condongcatur Sahabat Tentara, Sampaikan Selamat dengan Bahasa Bunga
Sementara itu Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA) Wahjudi Djaja SS MPd mendukung sepenuhnya kegiatan history week yang digelar BKMS. “Ini menjadi media yang efektif untuk mendekatkan mahasiswa sejarah dengan beragam tema kehidupan dan perjuangan bangsa. Mahasiswa harus berani keluar kampus dan bersenyawa dengan realita kehidupan untuk mengasah ilmu dan kepedulian mereka,” tandasnya.
Para alumni sejarah UGM, imbuhnya, bertebaran di berbagai bidang dan dimensi kehidupan. “Rajut kolaborasi dan bangun sinergi, mereka pasti akan sangat senang memiliki adik angkatan yang berdaya jelajah,” pungkasnya.
Sedangkan Kaprodi S1 Ilmu Sejarah FIB UGM Dr Mutiah Amini mendorong sepenuhnya agar para mahasiswa mau belajar dan berguru kepada para seniornya. “Kita berharap agar melalui kegiatan ini para mahasiswa bisa lebih kritis, mandiri dan berjejaring. Itu sangat penting untuk masa depan mereka,” tandas sejarawan asal Kotagede ini. (Iud)
