Yogyapos.com (SLEMAN) - Ratusan mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) kembali melakukan aksi unjuk rasa di Simpang Tiga Gejayan Yogya, Kamis (16/7) siang. Unjuk rasa berlangsung tertib, dan massa juga menerapkan physical distancing serta mengenakan masker.
Ratusan massa mulai bergerak jam 13.00 dari Bunderan UGM, lalu berjalan ke timur menuju titik orasi. Hingga sore, ratusan massa masih bertahan di lokasi. Sedangkan perwakilan pengunjuk rasa secara bergantian melakukan orasi diatas mobil pickup.
Sejumlah spanduk bertuliskan penolakan RUU Omnibus Law juga dibentangkan pengunjuk rasa. Seperti, ‘Gagalkan Omnibus Law’, ‘Pandemi Dibajak Oligarki’, ‘Awas Rezim Rakus’, ‘Mogok Nasional’, ‘Bangun Alat Politik Alternatif’.
Lusi perwakilan ARB dalam orasinya meyatakan agar DPR RI tidak mengesahkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. “Pasal-pasal dalam RUU ini tidak membuat sejahtera masyarakat kecil. Daripada pusing-pusing membahas RUU Cipta Kerja, lebih baik DPR RI mengesahkan RUU Kekerasan Seksual. Karena kasus kekerasan seksual di Indonesia masih sangat tinggi. Dan pemerintah seakan bungkam,” ujar Lusi berapi-api, disambut kepalan tangan para pengunjuk rasa.
Sementara Revo perwakilan dari buruh mengungkapkan jika tujuan Omnibus Law adalah memotong prosedur yang menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun kepentingan yang dibela Omnibus Law bukan rakyat kecil. “Pemerintah jelas sedang membahayakan rakyat dengan kebijakan macam RUU Omnibus Law Cipta Kerja dan kita tidak bisa diam saja. Kita akan mengajukan mosi tidak percaya kepada pemerintah. Dalam proses demokrasi, ini adalah hak kita untuk menolak dan berkata tidak," tegasnya.
Aksi berjalan tertib, lancar, aman dan damai dengan memprioritaskan protokoler kesehatan. Dibawah pengawalan aparat dari Polresta Yogyakarta dan Polresta Sleman. (Dol)
