Aria Nugrahadi: Kreativitas Kunci Pariwisata

share on:
Aria Nugrahadi ST MEng || YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (YOGYA) -  Bila dilihat dari sisi kuantitas, jumlah destinasi di Yogyakarta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tapi tanpa diimbangi dengan adanya kreatifitas, kemungkinan destinasi itu bisa jatuh atau mati suri sangat besar. Suport dan bantuan Dinas Pariwisata DIY tidak kecil, tetapi sering tak diikuti dengan kesadaran dan kreatifitas para pengelola dan warga. Untuk itu, perlu dicari strategi yang sifatnya out of the box sesuai karakter masing-masing daerah.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dispar DIY Aria Nugrahadi ST MEng, mengatakan hal itu saat menerima audiensi fasilitator pengembangan Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman sebagai destinasi wisata, Senin, (13/1/2020). Hadir dalam audiensi itu Kabid Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo SSn MM. Fasilitator diketuai Muhaiminul Adlil Haq beranggotakan Wahjudi Djaja, Jajang Sukendar, Deksa Restra Yuridita, dan Nanang Hari Sudibyo.

Untuk mengembangkan destinasi, lanjut Aria, selain diperlukan pencermatan tentang strategi, teknik, dan kondisi masyarakat yang menjadi pelaku utama. "Selama ini ada beberapa destinasi tidak bisa berkembang karena melupakan siklus. Destinasi itu siklusnya lahir, tumbuh, berkembang, maju. Pada posisi maju harus diantisipasi agar tidak declane, harus disangga dengan strategi dan kreatifitas yang tepat", pesannya. 

Mengantisipasi terjadinya declane,  para pengelola dan pemangku kepentingan harus menggunakan strategi out the box. "Pariwisata itu ruhnya kreatifitas. Tak ada rumus baku. Beragam spot selfie, pembuatan paket, menemukan karakter, dan mengangkat value yang ada, jelas membutuhkan kreatifitas. Ini harus selalu dicari dan dicoba agar destinasi bisa bertahan lebih lama,” tuturnya. 

Terkait dengan peran dan kesiapan masyarakat dalam bisnis pariwisata. "Dua hal yang harus dibangun dalam diri masyarakat lokal, yakni menyangkut capacity building, dan mengendalikan ego dan nafsu. Jangan sampai masyarakat meninggalkan etika dan moralitas karena terburu nafsu mencari uang. Kesantunan sosial masyarakat Yogyakarta menjadi cirikhas yang harus ditumbuh kembangkan. Ada tiga tahap yakni gupuh, lungguh, sungguh. Itu penghargaan standar nasyarakat Jawa saat menghasapi dan menerima tamu,” papar Aria.

Sementara itu Kabid Pengembangan Kapasitas Wardoyo mengatakan perlunya kesiapan semua pemangku kepentingan agar program pembangunan dan pengembangan destinasi wisata bisa tepat sasaran dan sesuai kaidah yang benar. "Terkait Turgo, kami berharap agar Pemkab Sleman khususnya Dinas Pariwisata menjembatani program mulia ini agar tidak ada yang merasa ditinggalkan. Baik dalam hal kelembagaan, legalitas, hingga peningkatan kapasitas,” tandasnya.

Terpisah, Kabid Pengembangan Destinasi Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman, Aris Herbandang SIP menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah-langkah koordinatif dengan dinas terkait maupun legislatif. "Ada beragam kasus tentang pembangunan dan pengelolaan destinasi yang bisa dijadikan pelajaran. Bisnis pariwisata memang membuka beragam peluang, tetapi tanpa diikuti dengan kesamaan visi, koordinasi, transparansi, dan akuntabilitas yang jelas, destinasi tidak akan bertahan dan memberikan manfaat bagi warga,” tandasnya. (Iud)


share on: