Arita Antara Musik, Paper Cut dan Lukisan

share on:
Arita melayani wawancara wartawan

Yogyapos.com (YOGYA) – “Akibat perundungan di sekolah kondisi mental menjadi 'down'. Ada kalanya saya tidak mampu mengungkapkan perasaan atau menyalurkan emosi negatif dengan baik. Berkesenian menuntun saya membaik sekaligus bisa mengekpresikan diri secara positif,” Arita memulai perbincangan.

Nama lengkapnya Arita Savitri. Perempuan kelahiran Medan 4 Januari 1968, saat ini sedang bersemangat melukis. Sejak tiga tahun lalu mengawali kegiatan melukis hingga kini telah terkumpul puluhan karya lukis acrylic on kanvas.

Arita suntuk menyelesaikan karyanya || YP-Yuliantoro

“Berkesenian memang sudah sejak kecil. Namun untuk melukis, baru tiga tahun ini, sejak 2021 lalu,” ujarnya.

Mengapa melukis? Perempuan multitalenta ini menceritakan ihwal perjalanan berkesenian yang pada akhirnya sampai kepada torehan warna di atas kanvas. Bermula dari Royal House, kala itu Arita diajak pelukis Bambang Haryana untuk mengikuti acara melukis bersama dan berkenalan dengan pelukis senior Chamit Arang dan Ibu Maria.

“Mereka lah yang mensupport saya secara moril untuk terus mengembangkan diri dengan cara melukis. Berkat mereka, sudah empat kali pameran bersama yang diikuti. Bahkan dalam waktu dekat ada dua pameran lagi. Salah satunya Pameran Seni Rupa Nasional di Surakarta pada bulan Agustus yang akan datang,” tuturnya, pelan.

Mengenal kesenian dari usia sangat muda karena sejak dulu kedua orang tuanya menyukai musik. Setiap hari sang ayah akan memutar berbagai genre musik baik musik pop, keroncong, jazz, musik klasik, maupun rekaman gamelan dari alat pemutar sesuai perkembangan jamannya, dari piringan hitam, kaset sampai CD.  

Dua karya kesukaannya

“Saya lahir dan bertumbuh di perkebunan tempat ayah bekerja. Untuk mengisi waktu, saya belajar not balok yang di mainkan untuk piano. Saat itu umur saya baru 4 tahun. Yang mengajari Ibu, beliau dulu  sempat kuliah di AMI (Akademi Musik Indonesia) Yogja tapi tidak sampai selesai Dengan piano tua yang tutsnya macet-macet dan keras  itulah awal perjuangan untuk bisa main pian,” lanjut Arita.

Arita sempat sekolah di SMM Yogya dan juga kuliah di Fakultas Musik Universitas HKBP Nomenssen Medan jurusan Komposisi. Tahun 1992 mulai tampil di luar kampus. Tahun 1995 pertama kali ke forum musik Internasional yaitu Festival Musik Bangkok, kemudian tahun 1996-1998 mendapat beasiswa untuk mengikuti pendidikan musik di Freiburg, Jerman. Setelah itu mulai berkarya lewat komposisi musik yang dibuatnya sendiri. Arita juga pernah memiliki kelompok Musik di Jogjakarta yang bernama iENA dan sering tampil dengan mengangkat karya-karya sendiri. Tahun 2013 iENA mendapat Nominasi 5 besar karya terbaik untuk International Spa Music Event di Italia. Tahun 2015 iENA mendapat kesempatan perform di acara Silk Road Cultural Echange - Gyeongju - Korea atas undangan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Semasa pandemi Covid-19, Arita berkarya musik hanya untuk pesanan untuk sahabat-sahabat dari Thailand, Filipina, juga untuk beberapa komunitas Yoga di Sumatera Utara.

“Pada masa SMM itu saya sempat mengalami perudungan. Bersamaan dengan itu ada vonis dokter bahwa saya terkena Carpal Tunnel Syndrome sehingga tidak lagi diizinkan bermain piano. Semua kesedihan dan kekecewaan itu  saya tumpahkan dengan merobek-robek kertas tissue dan akhirnya bereksperimen dengan menggunakan gunting. Awalnya karya paper cutting itu berbentuk motif-motif tribal. Tapi lama kelamaan karya-karya saya semakin halus. Di bidang yang saya tekuni secara otodidak ini saya pernah 3x pameran tunggal di Jakarta, salah satunya saya mendapat undangan dan kesempatan pameran di Tembi Rumah Budaya. Pernah pula mendapat penghargaan Karya Unggulan Untuk Jenis Kayu-kayuan dari DEKRANAS,” lanjut Arita. 

Pada sebuah event

Dari semua aktifitas yang dtekuni pada akhirnya Arita sangat ahli di paper cutting. “Saya sangat menyukai semuanya musik, paper cutting, lukis,. Semua menarik. Ada banyak kejutan dan dinamika yang luar biasa ketika bergelut untuk menyelesaikan setiap karya,” tandas Arita.

Untuk rencana kedepan sepertinya Arita akan mengalir apa adanya saja, misal perform musik untuk tari, lukis dan paper cutting. Dia tidak punya target khusus. Tetapi dalam perjalanannya semua yang apa adanya justru sering mendapatkan pencapaian-pencapaian yang tidak terduga.

”Mungkin karena karya-karya saya lahir dari kondisi psikologis. Saya sempat divonis bipolar yang alhamdulillah sudah berhasil sembuh karena proses kreatif dan berkarya secara terus-menerus,” Arita menutup perbincangan. (Yuliantoro)

 


share on: