Yogyapos.com (SLEMAN) -Indonesia khususnya kawasan Jawa Tengah dan DIY dekat dengan gunung berapi, gempa dan tanah longsor harus menjadi perhatian terkait keselamatan dan keselamatan cagar budaya. Tidak saja diperlukan mitigasi yang responsif dan tanggap bencana, juga mensyaratkan sinergi beragam pemangku kepentingan yang terkait dengan benda cagar budaya.
Demikian benang merah diskusi Cagar Budaya dan Kebencanaan yang digelar Komunitas Kandang Kebo di basecampnya, Sabtu (2/9/2023). Hadir sebagai narasumber Prof Dr Ir Subagyo Pramumijoyo DEA (Departemen Teknik Geologi UGM) dan Wiwing Wimbo Widayanti (Pamong Budaya Ahli Madya BPK Wilayah X) dengan moderator Wahjudi Djaja (dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta).
BACA JUGA: Dr Syahganda Nainggolan : Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar untuk Perubahan dan Persatuan
Dalam paparannya Prof Subagyo memaparkan aspek kebencanaan dari sudut geologi. “Bencana geologi adalah bencana yang disebabkan oleh dinamika atau proses geologi, seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, likuifaksi, gerakan tanah dan banjir. Dengan memahami karakter alam, kita bisa menyiapkan mitigasi, yakni menyiapkan langkah-langkah untuk memperkecil dampak bencana. Salah satu caranya dengan studi bencana di masa lalu,” tandasnya.
Sedangkan Wiwing menjelaskan beberapa langkah dan program yang telah dan sedang digerakkan. “Pada tahap prabencana kita menyiapkan manajemen resiko yang dilakukan sebelum bencana terjadi meliputi pencegahan dan mitigasi. Saat bencana kita melakukan penanganan dan pascabencana kita siapkan manajemen pemulihan,” paparnya.
BACA JUGA: Surya Paloh dan Anies Bukan Pengkhianat
Dalam sambutan pengantarnya, Dr Minta Harsana menyampaikan aktifitas Komunitas Kandang Kebo untuk mendiskusikan beragam tema dengan menghadirkan berbagai narasumber berkompeten. Sedangkan Ketua Komunitas Kandang Kebo, Dr Maria Tri Widayati menambahkan beberapa anggota Komunitas Kandang Kebo yang dipercaya Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X untuk berbagai program.
Foto bersama narasumber dan peserta diskusi || YP-Wahjudi Djaja
“Sejak kami dirikan tahun 2014 Komunitas Kandang Kebo semakin dipercaya oleh berbagai lembaga kebudayaan. Secara rutin tiga bulan sekali kami gelar diskusi dengan tema yang berlainan,” ungkapnya.
Turut menanggapi pemaparan para narasumber Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Andi Riana, yang menyampaikan beberapa situs yang menyimpan jejak peradaban sebelum era Mataram Hindu.
BACA JUGA: Ketua Peradi RBA Sleman Dr Iwan Setyawan SH MH Imbau Anggotanya Memahami Hak Imunitas Advokat
Selepas diskusi dilanjutkan foto bersama dan sarasehan sampai sore hari. Banyak peserta yang aktif menanyakan beragam sisi. Hadir dalam diskusi selain anggota Komunitas Kandang Kebo juga para pemerhati arkeologi dan sejarah serta beberapa perwakilan dari Wihara Budha Murti dan Sila dari Batu Malang. (Iud)
