Yogyapos.com (PURWOREJO) - Bangkai ikan hiu paus jantan (Rhincodon typus) sepanjang 5,2 Meter ditemukan terdampar di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin (9/12/2025) pagi. Saat ditemukan sudah dalam keadaan mati.
BACA JUGA: Kemelut PBNU, Kyai-Nyai Muda Turun Tangan Usulkan Musyawarah
Bangkai hiu paus itu pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan yang hendak melaut. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke pemerintah desa setempat dan diteruskan ke Pos AL Purworejo, Polsek Ngombol, Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, serta LPSPL Serang Wilayah Kerja Yogyakarta.
BACA JUGA: Para Pengasuh Ponpes Krapyak Imbau PBNU: Hormati Otoritas Kiai Sepuh
Tim dari berbagai instansi itu langsung bergerak cepat menuju lokasi, termasuk dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Purworejo dan dokter hewan dari Yayasan Sealife Indonesia.
BACA JUGA: Mahasiswa Aceh di Yogya Bisa Makan Gratis di Warung 'Keumala', Ini Lokasinya
Berbagai macam upaya secara manual dengan tenaga manusia telah dilakukan untuk memindahkan bangkai hiu paus, namun karena bobot hiu paus yang diperkirakan lebih dari 1 ton, upaya ini tidak membuahkan hasil. Setelah melakukan koordinasi, satu alat berat (excavator) milik Dinas PUPR Purworejo pun didatangkan untuk membantu proses evakuasi.

Bangkai hiu paus itu kemudian dipindahkan ke area vegetasi pantai untuk dilakukan penguburan. Namun, sebelum dikubur, bangkai ikan tersebut dinekropsi, untuk menginvestigasi penyebab kematiannya.
BACA JUGA: Sri Purnomo Segera Diadili di Pengadilan Tipikor Yogyakarta
Bedah Bangkai (Nekropsi)Dengan dibantu petugas lapangan, dokter hewan Dwi Suprapti dari Sealife Indonesiamelakukan pembedahan pada perut ikan tersebut. Sejumlah organ dalam seperti jantung, hati,ginjal, limpa, usus, lambung, isi lambung, jaringan kulit dan otot, diambil sebagai sample untuk pengujian laboratorium.
BACA JUGA: GP Ansor Berangkatkan Relawan untuk Bantu Korban Banjir di Sumatera
Berdasarkan pemeriksaan fisik eksternal, tidak ditemukan luka signifikan pada tubuh hiu paus selain bekas luka melepuh pada ekor bagian bawah.
“Secara umum, kondisinya sudah kode 3 artinya bangkai mulai membusuk (moderate decomposition). Diperkirakan hiu paus ini mati lebih dari 24 jam. Namun, masih dapat dilakukan nekropsi meskipun banyak jaringan yang diduga sudah mengalami autolisis,"kata Dwi dalam keterangan tertulis, Selasa (9/12/2025).
BACA JUGA: Sultan Apresiasi KPK, Pemda DIY Terus Perkuat Pencegahan Korupsi
Sementara dari hasil pemeriksaan organ dalam tubuh hiu paus secara makroskopis, tidak ditemukan adanya tanda-tanda mencurigakan. "Namun, saat membuka bagian lambung, ditemukan penuh makanan berupa kumpulan udang kecil (udang rebon) dan belum tercerna," jelasnya.
BACA JUGA: Ungkap Mafia Tanah Mbah Tupon, Polda DIY Peroleh Penghargaan Kementerian ATR/BPN
Untuk memastikannya, telah diambil sampel isi lambung tersebut untuk dilakukan kimia analisis dan/atau uji toksikologi, sebab kecenderungan sementara kematian hiu paus ini terindikasi kearah toksikasi. "Untuk lebih lanjut masih menunggu hasil pengujian laboratorium," ungkapnya.
BACA JUGA: Mobil Lab Bioprospecting Solusi Pintar Eksplorasi Biodiversitas
LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, Budi Raharjo mengungkapkan, kejadian hiu paus terdampar di Selatan Jawa, berdasarkan data LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, selama kurun waktu tiga tahun terakhir (2022-2025), tercatat sebanyak 24 kali antara lain 2 ekor di Pandeglang, 1 di Lebak, 7 di Cilacap, 4 di Kebumen, 4 di Kulonprogo, 1 di Bantul, dan 3 di Purworejo.

“Data kami menunjukkan hiu paus terdampar dominasi terjadi pada bulan September hingga Februari dengan puncak jumlah tertinggi pada bulan Oktober dan November, meskipun juga beberapa terjadi di bulan Juni dan Agustus,” jelas Budi.
BACA JUGA: Kejari Sleman Lakukan Penuntutan 12 Perkara Korupsi Selama Januari-Desember
Menurutnya, keterdamparan hiu paus sebagai megafauna juga dapat dikaitkan dengan keterdamparan mamalia laut dimana pada tahun 2025 telah terjadi 4 kali.
BACA JUGA: 268 PNS Sleman Terima SK Pensiun, Termasuk 4 Kepala Dinas
Oleh sebab itu, refresh koordinasi jejaring penanganan biota laut terdampar dan peningkatan skill SDM perlu dilakukan supaya penanganan dapat dilakukan secara sigap dengan metode yang tepat.
BACA JUGA: 19 Kelompok Kesenian Tradisional Peroleh Hibah Alat Musik
"Selain itu, perlu ada penelitian cepat untuk dapat memberikan hasil sebagai rekomendasi upaya yang tepat dalam melestarikan dan menjaga populasi megafauna tersebut," paparnya.
BACA JUGA: 103 Pejabat di Lingkungan Setda Sleman Dilantik, Diharapkan Kreatif Inovatif
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Purworejo, Wiyoto Harjono, mengatakan, hingga saat ini sudah terjadi empat kejadian, termasuk di Pantai Pasir Puncu ini. Menurutnya, penyebab pasti kematian hiu paus masih memerlukan kajian ilmiah lanjutan. Namun, faktor lingkungan dapat berperan besar.
BACA JUGA: Meriah! KPK Berseni, Ribuan Massa Aksi Anti Korupsi di Titik Nol Yogya
“Secara umum ada beberapa hal yang menyebabkan hiu dapat terdampar. Seperti adanya perubahan suhu dan salinitas air laut secara frontal maupun fluktuatif tinggi. Kemungkinan bisa karena adanya perubahan pada zona feeding ground atau gangguan pada saat migrasi,” ungkap Wiyoto.
BACA JUGA: Perubahan Iklim Pengaruhi Pendapatan UMKM, Ini yang Dilakukan Amarth.org
Selain itu, gangguan internal seperti masalah organ pencernaan hingga pernapasan juga dapat menjadi pemicu. “Bisa juga karena adanya gangguan pada sistem tubuh hiu itu sendiri. Misalnya ada permasalahan pada sistem pencernaan, pernapasan, dan sebagainya sehingga menyebabkan hiu terdampar,” sambungnya.
BACA JUGA: Pengrajin Blangkon di Beji Keluhkan Hak Paten dan Butuh Pendampingan Pemasaran
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Mochamad Iqbal Herwata Putra menambahkan, berdasarkan publikasi terkait ‘Satu dekade hiu paus terdampar diIndonesia’, menunjukkan peningkatan kejadian keterdamparan hiu paus selama lima tahun terakhir ini, dan selatan Jawa menjadi pusat dari kejadian-kejadian hiu paus terdampar.
BACA JUGA: Rapimnas Parekraf KSPSI 2025 Mengusung Tema Pariwisata Hijau di Hotel Hilton
“Wilayah selatan Jawa menjadi pusat keterdamparan hiu paus, terutama pada periode puncaknya di kuartal empat setiap tahun. Pada periode ini, terjadi fenomena oseanografi berupa upwelling yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan, sehingga menarik hiu paus untuk mencari makan,” kata Iqbal.
BACA JUGA: 72 Tahun Yani Saptohoedojo, Inisiasi Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Namun di sisi lain, lanjut Iqbal, perubahan iklim dapat menggeser distribusi mangsa hiu paus, memicu cuaca tidak menentu, angin kencang, dan gelombang tinggi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus.
BACA JUGA: Lukisan Karya Sam Sianata Angkat Isu Besar Lingkungan
“Karena itu, informasi mengenai waktu dan lokasi yang kami identifikasi dalam studi ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons kejadian keterdamparan secara lebih efektif,” bebernya.
BACA JUGA: LazisKu KB PII Salurkan Bantuan Bencana Banjir Langkat Lewat Jalur Sungai
Menurut Iqbal, selain faktor alamiah, ancaman antropogenik seperti by-catch, tertabrak kapal, dan pencemaran perairan turut menjadi penyebab kejadian terdampar pada hiu paus. Salah satunya adalah kejadian hiu paus yang terdampar di Kebumen telah terbukti mengalami keracunan logam berat dan senyawa racun akibat pencemaran limbah. (*/Opo)
