BBS Edisi 175 Menyoal Transisi, Generasi Muda dan Dinamika Media Sastra

share on:
Moderator acara, Latief S Nugraha || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Bincang-Bincang Sastra (BBS) edisi 175 yang diinisiasi Studion Pertunjukan Sastra (SPS) yogyakarta akan dihelat, di Gedung Societet Taman Budaya Yogya, Jumat (26/2/2021) pukul 14.00-16.00 WIB.

Perhelatan BBS edisi kali ini mengusung tema Transisi: Generasi Muda dan Dinamika Media Sastra, menghadirkan narasumber Jayadi Kastari (Desk Sastra SKH Kedaulatan Rakyat), Tia Setiadi (Redaktur puisi basabasi.co), dan Ilham Rabbani (Penyair dan mahasiswa pascasarjana Ilmu Sastra UGM), serta dihangatkan pembacaan puisi oleh Lintang Kumalasari dan musik puisi Jejak Imaji.

“Di masa pandemi ini kita berada pada perubahan demi perubahan. Demikianlah sifat zaman, terus berubah. Tanpa kecuali, perubahan itu pun terjadi di arena sastra, khususnya arena sastra Yogya. Sastrawan-sastrawan generasi muda yang setiap malam begadang digadang-gadang sebagai penerus dunia lain bernama sastra ini terus tumbuh. Yang sepuh juga tiada henti berkarya. Media cetak dan media daring berjalan beriring,” ujar Latief S. Nugraha selaku koordinatopr acara, Kamis (25/2/2021).

Senantiasa setiap generasi lahir dengan karakter dan prestasi masing-masing. Senantiasa ada transisi dari kehidupan baru yang tengah dibangun. Di sekitarnya kita mesti beradaptasi, tanggap ing sasmita, menghadapi dinamika yang terus berputar ini. Di dalam arena sastra, rubrik-rubrik sastra baik di koran, majalah, maupun laman-laman di internet bermunculan karya-karya dari nama-nama baru yang segar. Karya-karya itu dihadapkan pada pembaca yang (seharusnya) lebih luas. Satu realitas yang barangkali tidak pernah dibayangkan satu dekade sebelumnya.

Ia menambahkan, sebuah kenyataan bahwa sastra yang semula hadir di media cetak, kemudian berkembangan lewat banyak media lain seiiring berubahan dan perkembangan zaman. Lantas kita  menyebut gejala ini sebagai intermedia karya sastra. Generasi muda kini menjadi pengguna teraktif media internet.

Masih kata Latief, industri informasi membawa kita pada sebuah kecemasan: senjakala media masa cetak. Keberadaan rubrik sastra di media cetak perlahan-lahan hilang. Majalah satra tidak terbit lagi. Semangat untuk terus menerus menghadirkannya tentu saja ada, namun bagaimana dengan distribusinya? Sementara itu, para sastrawan masih akan dihadapkan pada persoalan honorarium. Demikianlah kenyataan yang terjadi dewasa ini.

“Dari kulit gejala yang mengelupas itu, adakah kecemasan melihat kenyataan bahwa yang hadir itu hanyalah eksistensi sang “sastrawan”, bukan lagi esensi karya sastra yang diciptakan? Pertanyaan ini hanyalah pandangan subjektif semata yang tentu saja mesti diuji dengan cara menjawab pertanyaan tersebut,” pungkasnya, seraya menginformasikan perhelatan BBS kali ini terbatas untuk 30 peserta dan mematuhi protokol kesehatan sehubungan pandemi Covid-19. (*/Dol)


share on: