Bertabur Cahaya di Sumonar Video Mapping Festival

share on:
Ari Wulu dan jajaran panitia Sumonar saat memberikan keterangan pers di Artotel || YP/Fadholy
Yogyapos.com (SLEMAN) - Denyut nafas seni, budaya dan kreativitas di Yogyakarta, seakan tak berjeda. Pasca penutupan FKY 2019 pada Minggu malam (21/7) lalu, akan hadir pula sebuah gelaran seni visual multimedia bertajuk Sumonar Video Mapping Festival, yang akan diadakan mulai 26 Juli sampai 5 Agustus. Bertempat di Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Besar dan sepanjang JalanPangurakan (dulu Jl Trikora).

Dalam sesi jumpa media di Artotel Jl.Kaliurang Km.5, Festival Director Sumonar, Ari Wulu menerangkan, sebetulnya ini gelaran kedua yang diinisiasi teman-teman Jogja Video Mapping Project (JVMP). Pada 2018 lalu sudah menggelindingkan acara bertajuk Jogjakarta Video Mapping Festival (JVMF). Kendati mendapat respon yang bagus di kancah Nasional, namun secara identitas pihaknya belum sreg dan jauh dari kata puas.

“Setelah dikaji secara matang dan melalui proses brainstorming yang panjang, kami pun sepakat memakai nama ‘Sumonar’. Bisa dibilang ini rebranding, wajah baru, neo spirit. Dalam literasi budaya Jawa, Sumonar adalah penggabungan dua kata; Sumon dan Sumunar. Sumon berarti mengumpulkan. Sedangkan Sumunar bermakna cahaya. Sangat related dengan event ini yang mengusung tema besar: ‘My Place, My Time’,” jelas Ari Wulu didampingi Raphael Dony Ketua JVMP.

Turut hadir dalam press conference tersebut, Hanes dari Lepaskendali, Roby Setiawan selaku art director dan Sujud Dartanto sebagai curator video mapping.

Terkait tema besar My Place My Time yang diusung, Ari Wulu menjelaskan jika event ini menggambarkan sebuah kisah kota yang bercerita tentang dirinya. Bagaimana budaya dan manusia saling berpagut, bercengkerama, lalu berkembang dan berubah mengikuti alur waktu. “Kami melihat Yogya pada hari lalu, hari ini dan hari esok. Pasti ada pergeseran perubahan di dalamnya. Entah itu aspek infrastruktur, budaya, kebijakan dan tingkat kenyamanan. Event ini adalah upaya kami menjawab kegelisahan manusia atas tata ruang kota yang diuhuninya, melalui pertunjukan video mapping dan instalasi cahaya yang interaktif,” imbuh Ari Wulu.

Sedangkan Raphael Dony menambahkan, Sumonar ini adalah festival video mapping yang pertama kali dihelat di Indonesia. Dari tahun 2013 sampai 2017 pihaknya selalu terlibat dalam konten yang disuguhkan FKY. “Kami ingin mencoba belajar berdikari. Menciptakan sebuah event video mapping dengan skala yang lebih luas dan besar. Semoga acara ini bias menjadi wahana edukasi, referensi dan rekreasi bagi masyarakat Yogya,” kata Raphael Dony.

Dari data panitia, event Sumonar kali ini akan dimeriahkan 13 artis video mapping dan 12 artis instalasi cahaya. Artis dari Macau, Raymond Nogueira dan Derek Tumala dari Filipina sudah menyatakan siap bergabung dan akan memberikan suguhan video mapping yang extraordinary. (Dol)

 

 

 


share on: