BPBD Yogyakarta Ingatkan Warga Waspadai Bediding, Risiko ISPA hingga Heat Stroke

share on:
BPBD Kota Yogya saat melakukan sosialisasi kepada warga Serangan | YP-dok BPBD Kota Yogya 

Yogyapos.com (YOGYA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi El Nino pada musim kemarau 2026. Selain mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran, BPBD juga menghimbau masyarakat mewaspadai fenomena bediding hingga heat stroke.

BACA JUGA: Gerak Sehat Prolanis, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat

Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, mengatakan kesiapsiagaan tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan fenomena El Nino menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dari biasanya.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Resmikan Lima Bendungan, Investasi Negara Tembus Rp 9,79 Triliun di Lombok

"BPBD telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat," jelas Iswari, Minggu (12/7/2026).

BACA JUGA: Puluhan Pelari Susuri Sumbu Filosofis Jogja Lewat Run for MOXVERSE

Menurutnya, fenomena bediding yang kini mulai dirasakan masyarakat merupakan kondisi yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau. Penyebab utamanya adalah berkurangnya tutupan awan sehingga panas matahari pada siang hari mudah masuk ke permukaan bumi.

Kondisi tersebut diperkuat dengan bertiupnya angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.

BACA JUGA: KPH Purbodiningrat Pimpin Perbakin DIY Periode 2026-2030

"Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu yang cukup ekstrem. Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan pada siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius," jelasnya.

Iswari menambahkan, perubahan suhu yang cukup tajam tersebut dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Udara yang lebih kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, serta menurunkan daya tahan tubuh. 

BACA JUGA: Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Sungai Bedog Bantul, Polisi: Tidak Ada Tanda Kekerasan

"Di sisi lain, suhu yang tinggi pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan," ujarnya.

Selain dampak terhadap kesehatan, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran. Vegetasi yang mulai mengering, suhu udara yang tinggi, serta hembusan angin yang cukup kencang membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kelalaian.

BACA JUGA: Antusiasme Mahasiswa Kenya Belajar Bahasa Indonesia Lewat Program BIPA Menggembirakan

"Kami menghimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran," tegasnya.

BPBD juga mengingatkan warga untuk menyikapi fenomena bediding dengan menerapkan pola hidup sehat. Masyarakat dianjurkan menggunakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari, memperbanyak konsumsi air putih meskipun cuaca terasa dingin, mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh, memakai masker saat beraktivitas di lingkungan berdebu, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari apabila tidak mendesak. (Jhw)

 


share on: