Yogyapos.com (YOGYA) – Omah Dongeng Srikandi meluncurkan pameran dan drama musikal bertajuk 'Sang Garuda dan 9 Bidadari'. Karya tersebut merupakan bagian dari produksi Dana Indonesiana dan dipentaskan di Gedung Societeit Militaire Yogyakarta, Kamis (9/7/2026) malam.
BACA JUGA: Hadir di Muktamar Al Washliyah, Wamenhaj Ajak Ormas Islam Stop Praktik Komodifikasi Jemaah
Ketua sekaligus penanggung jawab program, Atikawati, mengatakan drama musikal tersebut mengangkat kisah adaptasi dari dongeng Bali, Garuda Wisnu Kencana. Kemudian dikembangkan menjadi cerita tentang perjuangan Sang Garuda memperoleh wahyu ilmu pengetahuan atau Prajna Paramita.

"Negeri dalam cerita itu sedang kacau karena anak-anaknya ditempa virus kebodohan. Sang Garuda kemudian bertapa dan dibantu Dewi Winata hingga memperoleh wahyu Prajna Paramita, yaitu wahyu ilmu pengetahuan," kata Atikawati.
BACA JUGA: Puluhan Seniman Sleman Peroleh Penghargaan dari Bupati
Menurutnya, pesan utama yang ingin disampaikan melalui pertunjukan tersebut adalah pendidikan menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas.
BACA JUGA: Messi, Kucing Pertama yang Peroleh Kartu Anggota Muhammadiyah
"Pendidikan itu menjadi kunci mutlak menuju Indonesia Emas. Tidak ada hal yang bisa ditawar selain itu," ujarnya.

Selain pertunjukan, Omah Dongeng Srikandi juga menghadirkan pameran berisi 22 karya visual yang merupakan representasi dari kisah Sang Garuda dan 9 Bidadari. Pameran itu dirancang sebagai media interaktif yang akan digunakan dalam kegiatan mendongeng di sekolah-sekolah, khususnya jenjang sekolah dasar.
BACA JUGA: Rembug Stunting, Pemkal Concat Perkuat Kolaborasi Tiga Sektor
Atikawati menjelaskan Omah Dongeng Srikandi merupakan lembaga seni yang berfokus pada pengembangan dongeng dan berbasis di Kasihan, Bantul. Selama ini lembaga tersebut aktif menggunakan dongeng sebagai media pendidikan karakter bagi anak.
BACA JUGA: Restorasi Candi Prambanan Diyakini Bakal Dongkrak Wisatawan India ke Yogyakarta
Dalam proses produksinya, drama musikal tersebut melibatkan seniman muda Yogyakarta. Para pemain berasal dari kalangan pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, serta guru dan dosen.

Ia menuturkan bentuk drama musikal dipilih agar pertunjukan lebih mudah diterima anak-anak di berbagai daerah sekaligus memungkinkan dipentaskan dalam tur ke sejumlah kota.
BACA JUGA: Tobat Ekologis, Menteri LH Targetkan Penanaman 2 Miliar Pohon
"Harapannya karya ini tidak hanya tampil di Jogja, tetapi juga bisa tur ke Solo, Jakarta, Bandung, dan kota lainnya," katanya.
Proses penggarapan drama musikal beserta pameran berlangsung selama sekitar tiga bulan. Atikawati berharap pertunjukan berbasis dongeng dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan di tengah minimnya figur yang dikenal anak-anak.
BACA JUGA: Kerjasama Indonesia-India Garap Restorasi 224 Candi Perwara di Prambanan
"Saya melihat anak-anak kita tidak punya figur, tidak tahu siapa dirinya dan siapa leluhurnya. Dongeng memiliki sisi yang dinamis untuk masuk ke masa lalu sekaligus berbicara tentang masa depan," ujarnya. (Jhw)
