'Cahaya Rumah Ayah' Teater JAB: Potret Keteguhan Janda Menjaga Wasiat

share on:
Adegan saat Minah menerima kedatangan Jono dan Parno yang menuntut Bu Surya segera memasang aliran listrik || YP/Fadholy

Diguyur aplaus dari para penonton, Teater JAB sukses mementaskan naskah satir karya ‘Cahaya Rumah Ayah’ karya Anes Prabusdjarwo, di Auditorium Kampus 1 UAD Jalan Kapas, Yogyakarta, Sabtu (6/7) malam. Pintu teater dibuka pukul 19.30. Sekitar dua ratus penonton yang terdiri tamu undangan, masyarakat umum, penggiat dan para alumni Teater JAB yang rela datang dari luar kota, dengan tertib memasuki auditorium untuk lesehan menikmati studi pentas yang dibesut sutradara Mirja Sentani.

Sekprodi PBSI FKIP UAD, Wachid Eko Purwanto SPd MA dalam sambutannya sangat mengapresiasi gelaran studi pentas ke-5 Teater JAB. Mengusung pesan ‘laku rancak rubah sarwa’, Kaprodi berharap dengan tindakan yang lebih baik, bisa merubah semuanya ke arah yang lebih baik.

“Mari kita perbaiki tindak-tanduk kita. Dengan laku yang baik, hasilnya pun akan semakin baik. Semoga dengan lakon naskah Cahaya Rumah Ayah, kita semuanya akan mendapat nur-cahaya dari Sang Khalik,” ungkapnya.

Dramatis, begitu yang tergambar pada setting panggung yang disajikan tim artistik. Dan sangat related dengan gambaran sebuah rumah sederhana di desa pelosok. Cat tembok berwarna coklat kusam. Di beberapa sudut tembok nampak ada tambalan semen. Sementara di ruang tamu ada tiga kursi reyot, dan sebuah meja tua beralaskan taplak ngejreng berwarna merah. Lalu ruang makan dengan dingklik dan meja kayu tanpa polesan. Beberapa gelas kaca hadiah dari deterjen dan tudung saji plastik berada di atas meja. Lalu ada kalender dinding penanggalan Jawa yang menjadi pengingat pemilik rumah, begitu cepat waktu bergulir. Tidak lupa hiasan dinding kaligrafi berlafal Allah SWT dan Muhammad SAW yang mengapit lafal Tauhid. Tersirat, jika pemilik rumah adalah orang yang sangat sederhana dan rajin beribadah.

Salut buat Sutradara Mirja Sentani dan Pimpro Wahyuningsih yang menggodog secara matang seting latar pementasan, disertai iringan music melankolis dari tim mabes musik UAD.

Kepada yogyapos.com usai pementasan, Mirja dan Yuni mengangkat topi bagi seluruh tim yang terlibat. Dan juga kepada Kaprodi dan jajarannya yang mensupport penuh studi pentas kali ini. “Ya, ini kerja tim. Salut kepada kalian semua. Rasa was-was pada awal mula cerita pasti ada. Namun perlahan berjalan smooth dan lancar hingga akhir,” tutur Mirja dan Yuni, didampingi Ketua Teater JAB, Ridho Iqbal.

Intisari dari pementasan Rumah Cahaya Ayah adalah menggambarkan keluarga sederhana Pak Surya (almarhum) yang tinggal di pelosok desa, dan bersikeras enggan memasang aliran listrik di rumahnya. Kendati menjadi bahan gunjingan di masyarakat desa, Bu Surya yang makin menua dan mulai sakit-sakitan, bersikukuh tetap menjaga wasiat almarhum suaminya untuk tidak memasang listrik. Hal ini sempat ditentang Abdi, anak bungsu Bu Surya. Tapi, Abdi pun tak ada daya menolak wejangan alamarhum ayahnya.

“Diluar sana banyak orang menghambur-hamburkan cahaya untuk sesuatu yang mudhorot. Itu sikap yang berlebihan. Lebih baik kita memikirkan bagaimana memperoleh cahaya di akhirat,” kata Bu Surya, kepada Abdi dalam suatu adegan di ruang makan.

Tak ayal sikap ini mendapat perlawanan keras dari para tetangganya. Parno adalah salah satu warga yang emosional. Dia menuntut keluarga Pak Surya agar segera memasang lisrik. “Semalam rumah saya kebakaran. Dan ibu saya nyaris jadi korban. Kejadian ini tak hanya sekali. Beberapa warga juga mengalaminya. Pokoknya situasi ini harus segera disudahi,” kata Parno dengan nada tinggi kepada Minah (asisten keluarga Pak Surya), seraya menggebrak pintu.

Di akhir cerita, puluhan warga berteriak-teriak mendatangi rumah Bu Surya. Mereka menuntut kejadian kebakaran rumah yang disebabkan kebijakan tak lazim keluarga almarhum Pak Surya, harus segera diakhiri.

Mendengar teriakan warga dari luar rumah, Bu Surya kaget dan sekujur tubuhnya gemetar. Batuk yang diidapnya makin menggila. Dia sesekali memegangi dadanya yang sakit beberapa bulan ini. Bruuukkk…tiba-tiba Bu Surya terjatuh ke lantai. Spontan, Abdi berusaha menggapai tubuh renta ibunya. Abdi memeluk ibunya. Dan berusaha membangunkan ibunya dari lantai. Abdi tak henti-hentinya menggerak-gerakkan badan ibunya. Namun takdir berkata lain. Tak ada respon dari Bu Surya. Tubuhnya semakin kaku dan berasa dingin. Abdi pun meluapkan emosi tangisnya.

Ditemui Yogyapos.com, Anes Prabu Sadjarwo mengaku sangat bangga dengan keseriusan Teater JAB yang mementaskan naskahnya. “Salut. Good job buat kalian semua.

“Naskah Cahaya Rumah Ayah ini saya tulis tahun 2017. Waktu itu saya tulis untuk kontingen DIY yang berjuang dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (LS2N) di Manado. Ide dasar naskah ini adalah perkembangan terhadap cerpen Rumah Cahaya milik Ahmad Tohari. Pesan saya kepada Teater JAB, untuk selalu berproses. Jangan cepat puas diri,” tandas Anes Prabu. (Dol)

 


share on: