Yogyapos.com (YOGYA) - Anak muda di era sekarang memang diuntungkan oleh banyaknya program pertukaran pelajar antarnegara. Banyak lembaga dunia yang mengadakannya dengan model yang beragam. Salah satunya adalah Rotary Club International. Sebuah organisasi internasional yang berdiri sejak tahun 1905 dan beranggotakan para pengusaha dan profesional di seluruh negara di dunia, yang bervisi mengenalkan konsep toleransi, respek, dan saling mengenal kebudayaan bangsa lain sejak individu masih remaja.
BACA JUGA: Meyogyakartakan Dunia
Organisasi ini pertama kalinya didirikan di Chicago oleh Paul Harris yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Salah satu programnya adalah student exchange atau pertukaran pelajar. Memberi beasiswa kepada para pelajar yang mau dikirim ke negara lain di benua lain untuk belajar budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Rotary Club Yogyakarta juga sudah aktif sejak Agustus 1927.
BACA JUGA: Dwi Manunggal Group Luncurkan 'Jusc dan Mexc', Tingkatkan Target Rp 15 M Setiap Bulan
Salah satu pelajar yang beruntung bisa lolos program itu adalah Camille Stephanie Sorel asal Belgia. Oleh Rotary Club, Camille yang siswi sekolah menengah atas di Belgia ini mendapatkan penempatan di Yogyakarta untuk masa tinggal satu tahun. Ada program yang wajib dijalankan sesuai silabus tapi ada juga aktivitas yang boleh dilakukan sesuai ketertarikan pribadi.

"Saya tinggal di Kalasan, Sleman bersama orang tua asuh saya. Untuk sekolahnya saya diarahkan ke SMKN 6 Yogyakarta. Saya akan tinggal satu tahun di Indonesia. Saya mendarat di sini 10 Agustus 2025. Sudah lima bulan saya tinggal di Yogya dan mengenal kehidupan sosialnya," ucap Camille, Senin (5/1/2026).
BACA JUGA: Bencana Sumatera: 1.177 Korban Meninggal Dunia, Sejumlah Daerah Transisi Darurat
Sebetulnya Camille ini asli warga negara Prancis. Dari distrik Taillette. Orang tuanya pun masih tinggal di negara asalnya. Tapi, karena Camille bersekolah di Belgia maka ia mewakili Rotary Club Belgia dalam program student exchange ini. Dari negara Belgia ada empat siswa setingkat SMA yang ditempatkan di Yogya.
BACA JUGA: Otopsi Sosial 2025 Menuju Indonesia Versi Baru
"Karena Camil tinggal di Belgia yang berbatasan dengan Belanda maka ia bisa berbahasa Prancis, Belanda, dan Inggris. Efeknya, sedikit-sedikit kami sebagai orang tua asuhnya juga ketularan bisa tiga bahasa itu," ujar Fika Puspitasari, orang tua asuh Camille yang mendampingi saat wawancara.
BACA JUGA: 22 Mahasiswa UNISA Keracunan Makanan, Ini Penjelasan Direktur RS Grhasia
Selama di Yogyakarta Camille ikut beberapa kegiatan di sekolah SMKN 6 dan SMKI Bugisan. Camille hanya mengikuti beberapa pelajaran yang ia tertarik. Misalnya saat di SMKN 6 Yogya.
"Ia belajar membatik, teknik pijat tradisional, dan bahkan ikut berlenggok di catwalk saat ada acara festival Jogja Ekraf Week 2025. Di sekolah lainnya ia belajar memainkan gamelan dan produksi kerajinan," tambah Fika.

Untuk menambah wawasan tentang Yogya sebagai kota pendidikan, Fika juga mengajak Camille berkunjung ke sejumlah kampus, museum, kraton, pasar tradisional, dan tempat wisata ikonik seperti Ulem Sentanu. Beberapa kali Camille diajak juga menemui sejumlah penulis dan seniman Yogya di sanggarnya agar bisa melihat karya dan berdialog langsung dengan pelaku industri kreatif.
BACA JUGA: Idan Jaya Kusuma Rilis Single Perdana 'Rindu Dia' Terinspirasi dari Doa Ibu
Di luar aktivitas sekolah, Camille diajak mencicipi berbagai kuliner khas Yogya seperti gudeg, rames, brongkos, durian, kelengkeng, wedang ronde, dan kopi arang. "Ada yang ia suka ada yang tidak. Rasa penasaran anak ini tinggi banget. Setiap hari ingin dikenalkan sesuatu yang baru," ujar Fika, pengusaha videotron RK Studio ini.
BACA JUGA: Membedah Wajah Baru Asas Legalitas dalam KUHP Nasional
Ditanya kesannya selama tinggal di Yogya, Camille mengatakan sangat enjoy. Ia merasa senang sekali bisa mengenal Indonesia dan Yogya untuk pertama kali. Orang-orangnya menyenangkan dan bersahabat.
"Saya mudah berteman di sini. Saya sangat berterima kasih mendapatkan orang tua asuh yang sangat baik. Mama Fika dan Papa Wawan Dewanto. Saya sempat diajak ke Bali untuk melihat tarian kecak dan main di pantai. Bali sangat terkenal di Eropa. Saya senang bisa ke sana. Suatu saat saya pasti ke Yogya dan ke Bali lagi. Dua kota yang warna budayanya sangat khas," ucapnya.
BACA JUGA: Patrapadi akan Selenggarakan Haul ke-171 Diponegoro, Ini Agenda Besarnya
Diminta pendapatnya tentang apa yang berbeda atau berkesan dari kota Yogya, jawaban mengejutkan dilontarkan spontan oleh Camille.
"Saya melihat anak-anak muda di Yogya ini senang sekali pergi ke kafe. Tapi, mereka tidak membawa buku untuk membaca atau berdiskusi. Tampaknya hanya untuk berkumpul dan makan-makan saja. Lalu mereka sering tertawa bersama. Bagi saya itu aneh. Tapi, tidak masalah karena mungkin budaya di sini memang begitu. Saya bisa memahami," ucap Camille.
BACA JUGA: Relawan PT PLN Berhasil Pulihkan Listrik di 15 Masjid Terdampak Bencana Aceh
Camille bercita-cita ingin sekali menjadi intrepreter kelas dunia. Untuk itulah ia berusaha keras mempelajari banyak bahasa. Selepas SMA nanti ia ingin melanjutkan kuliah di Jerman.
"Sistem pendidikannya di Jerman itu berat dan kompetitif. Tapi semua orang tahu itu sangat bagus. Banyak melahirkan orang-orang hebat dan terkenal di dunia. Saya menyukai tantangan itu," ucapnya menutup perbincangan. (PW)
