Chamit Arang Abadikan Ketulusan Ida Dayak Lewat Lukisan

share on:
Chamit Arang (kiri) || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebaik-baik orang adalah yang bisa bermanfaat bagi sesama (Khairunnas anfa’ahum linnaas). Namun dalam kehidupan sekarang kadang berbanding terbalik. Orang merasa paling hebat, pintar, benar, atau merasa paling apalagi namun tidak berbuat apa-apa buat orang lain.

Berbeda dengan Ida Dayak (sebagai orang biasa), namun sangat bermanfaat bagi orang banyak bahkan sampai manca negara.

Pesan moral itu disampaikan seniman seni rupa, Chamit Arang dalam sebuah goresan cat acrylic di atas kanvas. Lukisan berukuran 40 x 40 cm produk Mei 2023 ini terpampang dalam pameran Gembira Menggambar di Griya Abhipraya Purbonegoro (Eks Bapas kelas 1 DIY), Yogyakarta, Selasa (7/5/2023). 

Ide dasar munculnya lukisan Fenomena Ida Dayak, lanjut Chamit, seiring munculnya berita-berita  tentang Ida Dayak, sebagai pelaku pengobatan dengan teknik urut tradisional memakai minyak. Dalam proses pengobatan itu, ada keunikan dimana  sembari berjoget banyak yang tersembuhkan seketika mengalahkan dunia medis yang harganya selangit.

“Pengobatannya gratis hanya dengan beli minyak seharga Rp 50.000 bisa sembuh,” ujar Chamit yang juga kelompok seniman Gores Warna.

Ida Dayak karya Chamit Arang || YP-Yuliantoro

Ia juga melihat sebuah kisah fenomenal, di zaman sekarang banyak orang yang telah menyuarakan tentang sebuah kebenaran, kebaikan, kemanusiaan dan ada juga mengatas namakan agama dan merasa dirinya paling benar. Namun seketika akhirnya muncul sosok seseorang (Ida Dayak) yang awalnya dianggap menyimpang dari ajaran kebenaran. Kini, terbukti menjadi jalan sembuh beribu-ribu orang serta ditunggu dan diidam-idamkan banyak orang untuk diobatinya. “Pada akhirnya orang akan tahu bahwa kehidupan alam ini kadang berbanding terbalik apa yg telah dipikirkan orang2 selama ini,” kata Chamit

Anto Narasoma, Sastrawan/budayawan mengatakan, ada koneksitas hati dan pikiranya Chamit Arang dan Ida Dayak. Dalam pandangannya, Chamit Arang itu selalu melukis dengan sepenuh hati dan jiwa pikiran jernih sementara Idak Dayak juga begitu. Ida Dayak adalah manusia kebanyakan yang tak lebih dan tidak kurang sebagai manusia yang selalu menggunakan hati untuk memunculkan kasih kepada antar sesama kita. 

“Seorang wanita dari Suku Dayak yang lahir di Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur tahun 1972 lalu. Ida Dayak yang bernama asli Ida Andriani, selalu membantu meringankan rasa sakit setiap orang yang memohon pengobatan kepadanya. Simpatik atas sikap itulah, Chamit Arang mengabadikan Ida Dayak dalam lukisan,” terangnya.

Chamit Arang, pelukis asal Temanggung saat ini aktif bersama kelompok Gores Warna menggelar pameran di berbagai tempat di Yogyakarta. Karya seni rupanya sudah mencapai jumlah puluhan bahkan ratusan. (Tor)

 


share on: